Monthly Archives: June 2012

Tidur di kantor polisi

Bismillaah.
Jadi singkat saja. Mulai siang ini saya menjadi salah tim surveyor untuk pembangunan jaringan jalan selatan Pulau Jawa. Saya kebagian di wilayah DIY, dari Karangnongko yang di dekat perbatasan Jawa Tengah-DIY hingga ujung timur DIY bagian selatan.
Nah,saya berpartner dengan mahasiswa D3 Geomatika UGM.
Sejak tau berpartner dengan yang belum dikenal sebelumnya dan diberikan tugas di daerah tidak pernah saya capai membuat saya dag dig dug. Apalagi harus membagi waktu. Lalu saya mencoba berpikir positif dan mengafirmasi diri (meminjam istilahnya mbak Imazahra).
Dan Alhamdulillaah sejauh ini baik-baik saja.
Tadi sempat mengendarai motor hingga Purworejo yang merupakan rekor terbaru setelah di Muktamar 1 Abad Muhammadiyah yang saya jadi wartawan mengendarai motor ke Bantul.
Trus lingkungan di sini cukup kondusif dan terkait tempat tinggal yang merupakan kesepakatan kami berdua untuk mencari meskipun sebenarnya bisa balik ke kos/kontrakan masing-masing. Dan akhirnya kami memilih untuk menumpang tidur di sebuah kantor polisi. Pengennya ke kantor polisi yang ada sel tahanan. Hahahaha.
Dan kerennya di sini TVnya pake TV kabel euy.


Pak polisinya baik-baik. Gak seserem ketika razia.

 
 
Purworejo, 07 Sya’ban 1433 H
 
Tulisan menjelang tidur setelah ngerjain scriptsweet dan untuk mengklarifikasi kalau-kalau ada yang ngira saya tidur di kantor polisi karena ditahan. Apa deh.
Advertisements
Categories: Journey, Sarjana, Sebuah Cerita, Studi | Tags: , , , , | 12 Comments

(Bagian 2) “Jangan Biarkan Hasad Menodai Hatimu” – Ringkasan Kajian Ustadz Firanda Andirja

Rangkuman kajian Ustadz Firanda Andirja, MA –hafizhohulloh Ta’ala– tanggal 07 Juni 2012 di Masjid Al-Hasanah, Yogyakarta

Bismillaah.

Sebab-sebab timbulnya hasad :

-> sebab-sebab timbulnya hasad adalah karena kepentingan yang sama,misalnya hasadnya penjual buku terhadap penjual buku lainnya.

Keburukan-keburukan hasad :

1. Tasyabbuh, karena ini menyerupai yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Iblis.

Karena hasad itu adalah akhlaqnya Iblis dan orang-orang Yahudi.

2. Hasad lebih buruk dibandingkan kikir. kenapa?

Karena pelit itu menghalangi nikmat yang ia dapatkan untuk bisa dirasakan oleh orang lain, atau dalam tingkatan yang lebih parah ada orang yang pelit itu terhadap dirinya sendiri, sedangkan hasad itu mencegah nikmat didapatkan oleh orang lain atau membenci kenikmatan ALLOH kepada orang lain.

3. Hasad itu pada hakekatnya adalah salah satu bentuk protes kepada ALLOH.

Padahal segala sesuatu sudah dibagi-bagikan oleh ALLOH Ta’ala.

Allah berfirman :

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٣٢)

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Robbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”

 (Quran Surat Az-Zukhruf ayat 32)

4. Jika sudah sampai ke tingkat kezholiman dapat membuat amalannya berpindah/dihadiahkan kepada orang lain. Orang yang hasad pada hekekatnya telah berbuat baik kepada orang yang ia hasadi. Karena jika ia telah hasad ia biasanya menzolimi orang yang ia hasadi dengan perbuatan maupun dengan perkataan. Baik merendahkan atau menggibahinya. Dengan demikian maka ia telah mentransfer kebaikan-kebaikannya kepada orang yang ia hasadi tersebut pada hari kiamat kelak, pada hari dimana sangat dibutuhkan kebaikan-kebaikan untuk ditimbang oleh ALLOH.

Pada suatu hari seseorang datang kepada salah seorang ulama Salaf, -kalau tidak salah bernama Ibnu Sirrin-. Ia menanyakan apakah beliau meng-ghibah-inya atau tidak. Lalu beliau menjawab (yang intinya) :

Rugi meng-ghibah-i kamu. Lebih baik saya meng-ghibah-i kedua orangtua saya.

-> karena hasad bisa memindahkan amalan kita.

Adapun cara agar tidak terjangkiti penyakit hasad di antaranya :

1. Beriman dan bertaqwa kepada ALLOH Ta’ala.

2. Selalu berhusnuzhon kepada ALLOH Ta’ala.

3. Saling mengunjungi, memberi hadiah dan akhlaq terpuji lainnya kepada saudara kita. Karena ini bisa mencegah penyakit hasad.

4. Berdo’a kepada ALLOH Ta’ala agar kita dihindarkan dari penyakit hati, seperti hasad.

Referensi :

1. http://firanda.com/index.php/artikel/34-penyakit-hati/275-bersihkan-hati-anda-dari-noda-hasad

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Nasehat | Tags: , , , , | Leave a comment

“Jangan Biarkan Hasad Menodai Hatimu” – Ringkasan Kajian Ustadz Firanda Andirja (Bagian 1)

Bismillaah.

Pembahasan mengenai penyakit-penyakit hati adalah sangat penting, karena hati adalah raja dari amalan-amalan jawarih (tubuh), makanya banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam membahas hal ini.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat pada fisik maupun bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian.

(Hadits Riwayat Muslim no. 1987)

Jenis amalan hati lebih utama dibandingkan jenis amalan jawarih. Dengan hati yang lurus akan berdampak ke amalan tubuh.

 

Abu Bakr bin ‘Ayyaas berkata

مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صَلاَةٍ وَلاَ صِيَامٍ وَلَكنْ بشَىْءٍ وَقَرَ في قَلْبِهِ

Tidaklah Abu Bakr mengungguli para sahabat yang lain dengan banyaknya sholat dan puasa akan tetapi karena sesuatu yang terpatri di hatinya

 

Di antara penyakit hati yang berbahaya adalah penyakit hasad.

Saking pentingnya membersihkan hati dari penyakit hasad, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallammenjamin salah seorang dari kaum Anshar masuk surga karena selalu membersihkan hatinya dari penyakit hasad.

 

Renungkanlah hadits berikut ini sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

 

كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata :

Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga“.

Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya.

Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan muncullah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula.

Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu selama tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan“.

 

Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :

 وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh.

Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali  : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”.

Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat“.

Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad  kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”.

Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad 20/124 no 12697, dengan sanad yang shahih)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (yang artinya) :

Hasad merupakan penyakit jiwa, ia dapat menyerang siapa saja. Tidak ada yang bisa selamat dari hasad kecuali hanya sedikit orang…….

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ : الْحَسَدُ وْالْبَغْضَاءُ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثْْبِتُ ذَلِكَ لَكُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, hasad dan permusuhan. Dan permusuhan adalah membotaki. Aku tidak mengatakan membotaki rambut, akan tetapi membotaki agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut?, tebarkanlah salam diantara kalian”

(Hadits Riwayat At-Thirmidzi 2/83 dan Ahmad 1/165,167, dan dihasankan oleh Al-Albani dalama Irwaaul Gholil 3/238)

 

Ya,penyakit hasad ini dapat mencukur. Bukan mencukur rambut, tapi dapat mencukur bahkan bisa membotaki agama. Karena seseorang yang terkena hasad akan menimbulkan kezhaliman/dosa yang lain.

Seperti kemaksiatan yang pertama kali terjadi di bumi ini disebabkan oleh hasad, yakni peristiwa pembunuhan Habil oleh saudaranya Qabil. Peristiwa ini karena hasadnya Qabil kepada Habil yang qurbannya diterima oleh ALLOH Ta’ala.

Pun begitu juga dengan dosa yang pertama kali terjadi di langit juga karena hasad. Ini dilakukan oleh iblis ketika iblis membangkang dari perintah ALLOH untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalaam.

 

Adapun model-model hasad,yakni.

1. Seseorang hasad kepada saudaranya agar kenikmatan yang ada di diri saudaranya hilang. Memang tidak perlu sampai kenikmatan yang dirasakan saudaranya itu pindah ke dirinya,tapi ia merasa puas apabila kenikmatan itu hilang dari diri saudaranya.

Contohnya adalah iblis yang hasad akan kenikmatan yang didapat oleh Nabi Adam ‘alaihissalaam. Iblis kemudian menjerumuskan Nabi Adam agar Nabi Adam diusir dari surga.

Contoh lainnya adalah yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang menginginkan kaum Muslimin kembali kekufuran.

 

2. Seseorang yang hasad kepada saudaranya dan menginginkan kenikmatan yang dirasakan oleh saudaranya pindah ke dirinya.

 

3. Dia tidak menginginkan kenikamatan saudaranya pindah ke dirinya, tetapi dia juga tidak ingin orang lain tidak mendapatkan kenikmatan tersebut. Jadi ia ingin saudaranya sama-sama menderita dengannya.

 

4. Hasad yang menimpa orang-orang yang shalih, yang mereka tidak menampakkan perasaan hasadnya,tetapi ia tidak membela saudaranya di saat saudaranya dijatuhkan.

Ketika ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha- dituduh dan difitnah berzina, Zainab rodhiyallohu ‘anha membela ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-. Padahal sebenarnya Zainab rodhiyallohu ‘anha mempunyai kesempatan untuk “menjatuhkan” ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-,karena seperti perkataan ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha- :

 “Zainab binti Jahsyi  -rodhiyallohu ‘anha- yang selalu menyaingiku di dalam kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah aku melihat wanita seperti Zainab -rodhiyallohu ‘anha- dalam hal kebaikan agamanya, ketaqwaannya kepada Allah, kejujurannya, silaturrahimnya, dan banyaknya shadaqahnya.” (Al-Isti’ab, 4:1851)

 

5. Seseorang yang tatkala mendapatkan dalam dirinya rasa hasad maka ia berusaha menghilangkannya dengan cara berbuat baik kepada saudaranya yang ia hasadi, ia mendoakannya, ia menyebarkan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaannya, hingga akhirnya ia mengganti hasadnya dengan mencintai saudaranya. Ini termasuk derajat keimanan yang tertinggi. Pelakunya adalah seorang yang imannya sempurna, yang menghendaki bagi saudaranya apa yang ia suka untuk dirinya sendiri. (Lihat Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal 328)

 

InsyaaALLOH berlanjut.

 

Usroh Umar bin Khattab, UniRes UMY gedung U, 20 Rajab 1433 H

 

Referensi :

1.  http://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/106-pentingnya-amalan-hati

2.http://firanda.com/index.php/artikel/34-penyakit-hati/275-bersihkan-hati-anda-dari-noda-hasad

Jazaakalloh khoiron untuk Mas Iib atas koreksiannya.

Categories: Belajar Ilmu Agama | Tags: , , , , , , | 8 Comments

Blog at WordPress.com.