“Jangan Biarkan Hasad Menodai Hatimu” – Ringkasan Kajian Ustadz Firanda Andirja (Bagian 1)

Bismillaah.

Pembahasan mengenai penyakit-penyakit hati adalah sangat penting, karena hati adalah raja dari amalan-amalan jawarih (tubuh), makanya banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam membahas hal ini.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat pada fisik maupun bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian.

(Hadits Riwayat Muslim no. 1987)

Jenis amalan hati lebih utama dibandingkan jenis amalan jawarih. Dengan hati yang lurus akan berdampak ke amalan tubuh.

 

Abu Bakr bin ‘Ayyaas berkata

مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صَلاَةٍ وَلاَ صِيَامٍ وَلَكنْ بشَىْءٍ وَقَرَ في قَلْبِهِ

Tidaklah Abu Bakr mengungguli para sahabat yang lain dengan banyaknya sholat dan puasa akan tetapi karena sesuatu yang terpatri di hatinya

 

Di antara penyakit hati yang berbahaya adalah penyakit hasad.

Saking pentingnya membersihkan hati dari penyakit hasad, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallammenjamin salah seorang dari kaum Anshar masuk surga karena selalu membersihkan hatinya dari penyakit hasad.

 

Renungkanlah hadits berikut ini sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

 

كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata :

Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga“.

Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya.

Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan muncullah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula.

Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu selama tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan“.

 

Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :

 وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh.

Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali  : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”.

Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat“.

Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad  kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”.

Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad 20/124 no 12697, dengan sanad yang shahih)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (yang artinya) :

Hasad merupakan penyakit jiwa, ia dapat menyerang siapa saja. Tidak ada yang bisa selamat dari hasad kecuali hanya sedikit orang…….

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ : الْحَسَدُ وْالْبَغْضَاءُ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثْْبِتُ ذَلِكَ لَكُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, hasad dan permusuhan. Dan permusuhan adalah membotaki. Aku tidak mengatakan membotaki rambut, akan tetapi membotaki agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut?, tebarkanlah salam diantara kalian”

(Hadits Riwayat At-Thirmidzi 2/83 dan Ahmad 1/165,167, dan dihasankan oleh Al-Albani dalama Irwaaul Gholil 3/238)

 

Ya,penyakit hasad ini dapat mencukur. Bukan mencukur rambut, tapi dapat mencukur bahkan bisa membotaki agama. Karena seseorang yang terkena hasad akan menimbulkan kezhaliman/dosa yang lain.

Seperti kemaksiatan yang pertama kali terjadi di bumi ini disebabkan oleh hasad, yakni peristiwa pembunuhan Habil oleh saudaranya Qabil. Peristiwa ini karena hasadnya Qabil kepada Habil yang qurbannya diterima oleh ALLOH Ta’ala.

Pun begitu juga dengan dosa yang pertama kali terjadi di langit juga karena hasad. Ini dilakukan oleh iblis ketika iblis membangkang dari perintah ALLOH untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalaam.

 

Adapun model-model hasad,yakni.

1. Seseorang hasad kepada saudaranya agar kenikmatan yang ada di diri saudaranya hilang. Memang tidak perlu sampai kenikmatan yang dirasakan saudaranya itu pindah ke dirinya,tapi ia merasa puas apabila kenikmatan itu hilang dari diri saudaranya.

Contohnya adalah iblis yang hasad akan kenikmatan yang didapat oleh Nabi Adam ‘alaihissalaam. Iblis kemudian menjerumuskan Nabi Adam agar Nabi Adam diusir dari surga.

Contoh lainnya adalah yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang menginginkan kaum Muslimin kembali kekufuran.

 

2. Seseorang yang hasad kepada saudaranya dan menginginkan kenikmatan yang dirasakan oleh saudaranya pindah ke dirinya.

 

3. Dia tidak menginginkan kenikamatan saudaranya pindah ke dirinya, tetapi dia juga tidak ingin orang lain tidak mendapatkan kenikmatan tersebut. Jadi ia ingin saudaranya sama-sama menderita dengannya.

 

4. Hasad yang menimpa orang-orang yang shalih, yang mereka tidak menampakkan perasaan hasadnya,tetapi ia tidak membela saudaranya di saat saudaranya dijatuhkan.

Ketika ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha- dituduh dan difitnah berzina, Zainab rodhiyallohu ‘anha membela ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-. Padahal sebenarnya Zainab rodhiyallohu ‘anha mempunyai kesempatan untuk “menjatuhkan” ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-,karena seperti perkataan ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha- :

 “Zainab binti Jahsyi  -rodhiyallohu ‘anha- yang selalu menyaingiku di dalam kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah aku melihat wanita seperti Zainab -rodhiyallohu ‘anha- dalam hal kebaikan agamanya, ketaqwaannya kepada Allah, kejujurannya, silaturrahimnya, dan banyaknya shadaqahnya.” (Al-Isti’ab, 4:1851)

 

5. Seseorang yang tatkala mendapatkan dalam dirinya rasa hasad maka ia berusaha menghilangkannya dengan cara berbuat baik kepada saudaranya yang ia hasadi, ia mendoakannya, ia menyebarkan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaannya, hingga akhirnya ia mengganti hasadnya dengan mencintai saudaranya. Ini termasuk derajat keimanan yang tertinggi. Pelakunya adalah seorang yang imannya sempurna, yang menghendaki bagi saudaranya apa yang ia suka untuk dirinya sendiri. (Lihat Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal 328)

 

InsyaaALLOH berlanjut.

 

Usroh Umar bin Khattab, UniRes UMY gedung U, 20 Rajab 1433 H

 

Referensi :

1.  http://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/106-pentingnya-amalan-hati

2.http://firanda.com/index.php/artikel/34-penyakit-hati/275-bersihkan-hati-anda-dari-noda-hasad

Jazaakalloh khoiron untuk Mas Iib atas koreksiannya.

Categories: Belajar Ilmu Agama | Tags: , , , , , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on ““Jangan Biarkan Hasad Menodai Hatimu” – Ringkasan Kajian Ustadz Firanda Andirja (Bagian 1)

  1. semoga bisa terhindar selalu dari penyakit hasda

  2. jawarih itu apa ram?

  3. @Pak Rifki :
    aamiin

    @Mbak Fajar :
    anggota tubuh
    di paragraf sbelumnya udah kucantumkan artinya🙂

  4. ramarizana said: @Mbak Fajar :anggota tubuhdi paragraf sbelumnya udah kucantumkan artinya🙂

    iya dah baca yang tanda kurung.. tapi pengen tau penjelasan b.Arab-e =D
    hihi..
    owh.. anggota tubuh ya..

  5. ramarizana said: @Mbak Fajar :anggota tubuhdi paragraf sbelumnya udah kucantumkan artinya🙂

    bentuk jama’ ya? po piye?

  6. ramarizana said: @Mbak Fajar :anggota tubuhdi paragraf sbelumnya udah kucantumkan artinya🙂

    Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam itu kitab apa si ram?
    jadi penasaran deh.. tentang apa si kitab itu..
    yang bikin siapa to?

    *banyak nanya ya.. maaph..

  7. ramarizana said: @Mbak Fajar :anggota tubuhdi paragraf sbelumnya udah kucantumkan artinya🙂

    hasad itu gak suka liat orang lain seneng ya?

  8. ramarizana said: @Mbak Fajar :anggota tubuhdi paragraf sbelumnya udah kucantumkan artinya🙂

    menyimak dan belajar …
    jazakallah khairan …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: