(CS2) Berpikir holistik – cerita lanjutan dari rangkaian tugas Perbaikan Tanah

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Di tulisan sebelumnya saya berbagi tentang cerita dari 1 tugas salah satu mata kuliah yang diambil semester ini, yakni Soil and Site Improvement (Perbaikan Tanah). Tugas tersebut ialah term paper dengan topik Ground Modification by Inclusions and Confinement dan akhirnya saya presentasikan dengan mengangkat judul “Geosynthetics- and Fiber-Reinforced Soil“. Alhamdulillaah tugas itu sudah kelar pekan lalu, meskipun masih ada yang harus dikerjakan, yakni revisi! Sudah berasa thesis saja melihat coretan-coretan indah Prof. Omar.šŸ˜€

Selain tugas term paper itu masih ada tugas besar yang menanti yakni tugas lab experimental yang boleh saya bilang ini tugas yang amat jarang bahkan (mungkin) satu-satunya tugas lab yang pernah diberikan untuk mahasiswa Graduate Studies. Beberapa pekan sebelum giliran presentasi term paper dimulai, Prof. Omar memberikan tugas lainnya dan tugas tersebut benar-benar baru bagi kami, yakni melakukan peer-reviewsebuah naskah jurnal. Tujuan beliau memberikan tugas ini ialah untuk memperkenalkan dan melatih kami bagaimana mereview sebuah naskah sekaligus sebagai sarana menerapkan ilmu yang telah beliau sampaikan, khususnya terkait bidang yang beliau kuasai, yakni tanah Sabkha.

Tanah Sabkha ini merupakan jenis tanah yang sangat unik, karena ia memiliki karakteristik yang sulit ditebak, sangat agresif, kuat dalam keadaan kering, tapi jika dalam keadaan basah/terkena air bisa tidak memiliki daya dukung sama sekali. Tanah ini biasanya ditemui di dekat daerah eksplorasi minyak bumi. Nah, di tugas ini kami diminta untuk memberikan komentar terhadap salah satu naskah manuskrip jurnal tentang tanah Sabkha tersebut, dengan asumsi beliau bahwa kami telah cukup menguasai karakteristik tanah Sabkha ini.

Sudah cukup lama sebenarnya beliau memberikan dan mengirimkan manuskrip jurnal tersebut, tapi karena disibukkan dengan jadwal giliran presentasi term paper sehingga kami lupa. Errrr, sebenarnya ingat, tapi naskah itu teracuhkan.šŸ˜€

Hingga akhirnya setelah giliran presentasi saya selesai, beliau meminta kami untuk mengumpulkan hasil review kami di pertemuan berikutnya yakni 2 hari setelah pertemuan itu.

Sebenarnya saya baru membaca skimming naskah itu dan baru benar-benar membaca sehari menjelang pengumpulan. Di malam harinya saya dapatkan beberapa hal yang perlu dikoreksi setelah sempat diskusi dengan seorang sahabat terkait pengujian material, tapi entah kenapa masih belum tergerak untuk mengetikkannya. Barulah 1 jam sebelum kelas dimulai dapat semangat untuk menuliskannya. B-)

Kebanyakan komentar seputar hal non-teknis (editorial, bahasa, dsb), dan hanya beberapa komentar seputar isi naskah tersebut. Di kelas beliau mengambil hasil review kami dan kemudian beliau membagikan hasil review beliau untuk dibahas bersama. Tatkala hasil review beliau sama dengan yang kami lakukan, maka kami diminta untuk mengangkat tangan seraya berkata, “Yes, I did it.

Beliau juga memperlihatkan koreksian beliau di naskah tersebut, ya seperti yang beliau lakukan di naskah term paper kami, penuh dengan coretan. Di tengah diskusi itu saya baru berkomentar di bagian pengujian material dan yang saya kritisi soal hasil pengujian XRD karena yang penulis tampilkan hanya kesimpulan umum unsur/senyawa apa yang paling banyak terkandung di tanah sabkha yang dijadikan sampel. Komentar ini mencocoki hasil review beliau dan setiap ada yang memberikan komentar senada, beliau memberikan apresiasi, seperti “Excellent”, “Good job”, “Good, jazaakallah kher”.

Secara umum kami mendapatkan ilmu dan pengalaman baru dari tugas tersebut, terkhusus terkait tanah Sabkha. Mulai dari bagaimana adab seorang reviewer memberikan komentar, seperti apresiasi atas kerja dan hasil penelitian yang bagus yang ditunjukkan oleh penyusun, semangat ilmiah beliau untuk memberikan dedikasi ilmu dan pengalaman, padahal untuk melakukan peer-review ini sama sekali tidak diberikan uang sepeserpun. Beliau bercerita kalau dahulu saat menjadi mahasiswa memang ada dosen yang melakukan studi tanah Sabkha ini,tapi hanya berdasarkan hasil konsultasi orang-orang, bukan dari studi di laboratorium. Salah satu penyebabnya karena memang jenis tanah yang satu ini termasuk jenis tanah yang paling dihindari oleh para peneliti dan kemudian beliau lah yang berinisiatif dan memberanikan diri untuk melakukan studi dan atas rahmat serta izin Allah (kalimat ini berkali-kali diucapkan saat berbagi pengalaman dan kesuksesan beliau) beliau bisa mempublikasikan banyak paper terkait tanah Sabkha ini tidak hanya di bidang Geoteknik, tapi juga untuk aplikasi ke material penyusun beton, bahkan sebenarnya bidang kajian beliau lebih banyak soal beton.

Di pertemuan berikutnya setelah diskusi koreksian naskah tersebut, beliau mengungkapkan kekurangpuasan beliau membaca hasil review kami, karena kebanyakan berkutat soal hal non teknis, editorial, karena itu bukan tujuan utama beliau memberikan tugas tersebut. Beliau mengajarkan kami bahwa biarpun nanti menjadi seorang peneliti atau akademisi, kami nantinya tetaplah seorang engineer, yang ketika dihadapkan sebuah masalah di lapangan, khususnya terkait bidang geoteknik haruslah memberikan saran berdasarkan engineering judgement, pola pikir seorang insinyur. Dan ketika ingin menyelesaikan suatu masalah, apalagi yang terjadi di lapangan harus berpikir holistik. “You have to capture that problem as whole picture“, lebih kurang begitu nasehat beliau. Kami seharusnya berpikir dalam cakupan yang luas, seperti yang juga disampaikan oleh Prof. Aiban saat berbagi pengalaman beliau di lapangan, dalam contoh kasus di suatu tempat ada tanah yang kualitasnya sangat buruk dalam kedalaman 3 meter, apakah rekomendasi yang kami harus berikan sebagai orang yang pernah mempelajari mata kuliah Perbaikan Tanah?

Tentu ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan rekomendasi yang tepat, misalnya dari aspek ekonomi, lingkungan, manajerial (seperti waktu), aspek teknis, dan sebagainya. Inilah yang disebut engineering judgement.

Dan sudah seharusnya saya bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan, salah satunya dari beliau-beliau ahli Geoteknik ini. Dan perjalanan masih panjang, salah satunya tugas experimental lab yang masih sangat lambat progresnya.

Selesai ditulis beberapa menit menjelang kunjungan lapangan mata kuliah ini ke sebuah perusahaan produsen Geosintetik. Yap, alhamdulillaahĀ saat saya presentasi term paper, Prof. Omar dapat ide untuk meminta perusahaan Geosintetik di Saudi menjelaskan lebih lanjut tentang Geosintetik. ^^

Dhahran, 18 Safar 1436 H

(dipublikasikanĀ pertama kali di catatan FB pada 10 Desember 2014)

*CS2= sebuah upaya mendokumentasikan perjalanan akademik S2 yang semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.

Categories: Journey, Master | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: