Monthly Archives: October 2011

“Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?” (by : Dahlan Iskan)

Catatan sebelum Bapak Dahlan Iskan menjadi MeNeg BUMN. Smoga menjadi renungan dan inspirasi bagi kita semua,generasi penerus bangsa.

———————————————————————————————————

Jakarta, 18 Oktober 2011

CEO’s Note terakhir

Malam itu saya sudah di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Siap berangkat ke Amsterdam, Belanda. Tas sudah masuk bagasi. Saya cek lagi paspor untuk melihat dokumen imigrasi. Semua beres. Saya pun siap-siap sebentar lagi boarding. Istri saya sudah di Eropa tiga hari lebih dulu. Mendampingi anak sulung saya yang menjabat Dirut Jawa Pos, yang menerima penghargaan dari persatuan koran sedunia. Jawa Pos terpilih sebagai koran terbaik dunia tahun ini.

Saya pun kirim BBM kepada direksi PLN untuk memberitahu saat boarding sudah dekat.

�Kapan pulangnya, Pak Dis?,� tanya seorang direktur.

�Tanggal 21 Oktober. Setelah kabinet baru diumumkan,� jawab saya.

�Ooh, ini kepergian untuk nge-lesi ya,� guraunya.

Saya memang tidak kepingin jadi menteri. Saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan PLN. Instansi yang dulu saya benci mati-matian ini telah membuat saya sangat bergairah dan serasa muda kembali. Bukan karena tergiur fasilitas dan gaji besar, tapi saya merasa telah menemukan model transformasi korporasi yang sangat besar yang biasanya sulit untuk berubah. Saya juga tidak habis pikir mengapa PLN bisa berubah menjadi begitu dinamis. Beberapa faktor terlintas di pikiran saya.

Pertama, mayoritas orang PLN adalah orang yang otaknya encer. Problem-problem sulit cepat mereka pecahkan. Sejak dari konsep, roadmap sampai aplikasi teknisnya. Kedua, latar belakang pendidikan orang PLN umumnya teknologi sehingga sudah terbiasa untuk berpikir logis. Ketiga,gelombang internal yang menghendaki agar PLN menjadi perusahaan yang baik/maju ternyata sangat-sangat besar. Keempat, intervensi dari luar yang biasanya merusak sangat minimal. Kelima, iklim yang diciptakan oleh Menneg BUMN Bapak Mustafa Abubakar sangat kondusif yang memungkinkan lahirnya inisiatif-inisiatif besar dari korporasi.

Lima faktor itu yang membuat saya hidup bahagia di PLN. Dengan modal lima hal itu pula komitmen apa pun untuk menyelesaikan persoalan rakyat di bidang kelistrikan bisa cepat terwujud. Itulah sebabnya saya berani membayangkan, akhir tahun 2012 adalah saat yang sangat mengesankan bagi PLN. Pada hari itu nanti, energy mix sudah sangat baik. Berarti penghematan bisa mencapai angka triliunan.

Jumlah mati lampu sudah mencapai standar internasional untuk negara sekelas Indonesia. Penggunaan meter prabayar sudah menjadi yang terbesar di dunia. Ratio elektrifikasi sudah di atas 75%. Propinsi-propinsi yang selama ini dihina dengan cap �ayam mati di lumbung� sudah terbebas dari ejekan itu. Sumsel, Riau, Kalsel, Kaltim, Kalteng yang selama ini menjadi simbol �ayam mati di lumbung energi� sudah surplus listriknya.

Pada akhir tahun 2012 itu nanti, tepat tiga tahun saya di PLN, saatnya saya mengambil keputusan untuk kepentingan diri saya sendiri: berhenti! Saya ingin kembali jadi orang bebas. Tidak ada kebahagiaan melebihi kebahagiaan orang bebas. Apalagi orang bebas yang sehat, punya istri, punya anak, punya cucu dan he he punya uang! Bisa ke mana pun mau pergi dan bisa mendapatkan apa pun yang dimau.

Saya tahu masa jabatan saya memang lima tahun, tapi saya sudah sepakat dengan istri untuk hanya tiga tahun. Niat seperti itu sudah sering saya kemukakan kepada sesama direksi. Terutama di bulan-bulan pertama dulu. Tapi mereka melarang saya menyampaikannya secara terbuka. Khawatir menganggu kestabilan internal PLN. Mengapa? â��Takut sejak jauh-jauh hari sudah banyak yang memasang strategi mengincar kursi Dirut, ujarnya. “Bukan strategi memajukan PLN,â�? tambahnya. â��Lebih baik, selama tiga tahun itu kita menyusun perkuatan internal agar sewaktu-waktu Pak Dis meninggalkan PLN kultur internal kita sudah baik,â�? katanya pula.

Saya setuju untuk menyimpan “dendam tiga tahun” itu. Organisasi sebesar PLN memang tidak boleh sering goncang. Terlalu besar muatannya. Kalau kendaraannya terguncang-guncang terus bisa mabuk penumpangnya. Kalau 50.000 orang karyawan PLN mabuk semua, muntahannya akan menenggelamkan perusahaan.

 

Sepeninggal saya ini pun tidak boleh ada guncangan. Saya akan mengusulkan ke Menteri BUMN yang baru untuk memilih salah satu dari direksi yang ada sekarang, yang terbukti sangat mampu memajukan PLN. Kalau di antara direksi sendiri ada yang ternyata berebut, saya akan usulkan untuk diberhentikan sekalian. Tapi tidak mungkin direksi yang ada sekarang punya sifat seperti itu. Saya sudah menyelaminya selama hampir dua tahun. Saya merasakan tim direksi PLN ini benar-benar satu-hati, satu-rasa, dan satu-tekad. Ini sudah dibuktikan ketika PLN menerima tekanan intervensi yang luar biasa besar, direksi sangat kompak menepisnya.

Kekompakan seperti itu yang juga membuat saya semakin bergairah untuk bekerja keras mempercepat transformasi PLN. Saya menyadari waktu tidak banyak. Keinginan untuk bisa segera menjadi orang bebas tidak boleh menyisakan agenda yang menyulitkan masa depan PLN. Itulah sebabnya motto PLN yang lama yang berbunyi �listrik untuk kehidupan yang lebih baik�, kita ganti untuk sementara dengan motto yang lebih sederhana tapi nyata: Kerja! Kerja! Kerja!

Tanggal 27 Oktober 2011 nanti, bertepatan dengan Hari Listrik Nasional, motto baru itu akan digemakan ke seluruh Indonesia. Kerja! Kerja! Kerja! Sebenarnya ada satu kalimat yang saya usulkan sebelum kata kerja! kerja! kerja! itu. Lengkapnya begini: Jauhi politik! Kerja! Kerja! Kerja! Tapi teman-teman PLN menyarankan kalimat awal itu dihapus saja agar tidak menimbulkan komplikasi politik. Tentu saya setuju. Saya tahu, berniat menjauhi politik pun bisa kena masalah politik!

Sudah lama saya ingin naik business class yang baru dari Garuda Indonesia. Kesempatan ke Eropa ini saya pergunakan dengan baik. Toh bayar dengan uang pribadi. Saya dengar business classnya Garuda sekarang tidak kalah mewah dengan penerbangan terkenal lainnya. Saya ingin merasakannya. Saya ingin membandingkannya. Kebetulan saat umroh Lebaran lalu saya sempat naik business class pesawat terbaru Emirat A380 yang ada bar-nya itu. Sejak awal, sejak sebelum menjabat CEO PLN, saya memang mengagumi transformasi yang dilakukan Garuda. Saya dengar di Singapura pun kini Garuda sudah mendarat di terminal tiga. Lambang presitise dan keunggulan. Tidak lagi mendarat di terminal 1 yang sering menimbulkan ejekan �ini kan pesawat Indonesia, taruh saja di terminal 1 yang paling lama itu !�.

Beberapa menit lagi saya akan merasakan untuk pertama kali business class jarak jauh Garuda yang baru. Saya seperti tidak sabar menunggu boarding. Di saat seperti itulah tiba-tiba….

�Ini ada tilpon untuk Pak Dahlan,� ujar keluarga saya yang akan sama-sama ke Eropa sambil menyodorkan HP-nya.

Telpon pun saya terima. Saya tercenung.

“Tidak boleh berangkat! Ini perintah Presiden!” bunyi telpon itu.

�Wah, saya kena cekal,� kata saya dalam hati.

Mendapat perintah untuk membatalkan terbang ke Eropa, pikiran saya langsung terbang ke mana-mana. Ke Wamena yang listriknya harus cukup dan 100% harus dari tenaga air tahun depan. Ke Buol yang baru saya putuskan segera bangun PLTGB (pembangkit listrik tenaga gas batubara) agar dalam 8 bulan sudah menghasilkan listrik. Ke PLTU Amurang yang tidak selesai-selesai. Ke Flores yang membuat saya bersumpah untuk menyelesaikan PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) Ulumbu sebelum Natal ini. Saya tahu teman-teman di Ulumbu bekerja amat keras agar sumpah itu tidak menimbulkan kutukan.

Pikiran saya juga terbang Lombok yang kelistrikannya selalu mengganggu pikiran saya. Sampai-sampai mendadak saya putuskan harus ada mini LNG di Lombok dalam waktu cepat. Ini saya simpulkan setelah kembali meninjau Lombok malam-malam minggu lalu. Saya tidak yakin PLTU di sana bisa menyelesaikan masalah Lombok dengan tuntas. Pikiran saya terbang ke Bali membayangkan transmisi Bali Crossing yang akan menjadi tower tertinggi di dunia. Ke Banten selatan dan Jabar selatan yang tegangan listriknya begitu rendah seperti takut menyetrum Nyi Roro Kidul.

Meski masih tercenung di ruang tunggu Garuda, pikiran saya juga terbang ke Lampung yang enam bulan lagi akan surplus listrik dengan selesainya PLTU baru dan geothermal Ulubellu. Juga teringat GM Lampung Agung Suteja yang saya beri beban berat untuk menyelesaikan nasib 10.000 petambak udang di Dipasena dalam waktu tiga bulan. Padahal dia baru dapat beban berat menyelesaikan 80.000 warga yang harus secara massal pindah mendadak dari listrik koperasi ke listrik PLN.

Pikiran saya juga terbang ke Manna di selatan Bengkulu. Saya kepikir apakah saya masih boleh datang ke Manna tanggal 30 Desember, seperti yang saya janjikan untuk bersama-sama rakyat setempat syukuran terselesaikannya masalah listrik yang rumit di Manna. Saya terpikir Rengat, Tembilahan, Selatpanjang, Siak dan Bagan Siapi-sapi yang saya programkan tahun depan harus beres.

Saya teringat Medan dan Tapanuli: alangkah hebatnya kawasan ini kalau listriknya tercukupi, tapi juga ingat alangkah beratnya persoalan di situ: proyek Pangkalan Susu yang ruwet, ijin Asahan 3 yang belum keluar, PLTP Sarulla yang bertele-tele dan bandara Silangit yang belum juga dibesarkan.

Pikiran saya terus melayang ke Jambi yang akan jadi percontohan penyelesaian problem terpelik system kelistrikan: problem peaker. Di sana lagi dibangun terminal compressed gas storage (CNG) yang kalau berhasil akan jadi model untuk seluruh Indonesia. Saya ingin sekali melihatnya mulai beroperasi beberapa bulan lagi. Masihkah saya boleh menengok bayi Jambi itu nanti?

Juga ingat Seram di Maluku yang harus segera membangun mini hidro. Lalu bagaimana nasib program 100 pulau harus berlistrik 100% tenaga matahari. Ingat Halmahera, Sumba, Timika…..

Tentu saya juga ingat Pacitan. PLTU di Pacitan belum menemukan jalan keluar. Yakni bagaimana mengatasi gelombang dahsyat yang mencapai 8 meter di situ. Ini sangat menyulitkan dalam membangun breakwateruntuk melindungi pelabuhan batubara. Dan Rabu 23 Oktober lusa saya janji ke Nias. Dan bermalam di situ. Empat bupati di kepulauan Nias sudah bertekad mendiskusikan bersama bagaimana membangun Nias dengan lebih dulu mengatasi masalah listriknya.

Yang paling membuat saya gundah adalah ini: saya melihat dan merasakan betapa bergairahnya seluruh jajaran PLN saat ini untuk bekerja keras memperbaiki diri. Saya seperti ingat satu persatu wajah teman-teman PLN di seluruh Indonesia yang pernah saya datangi.

Dengan pikiran yang gundah seperti itulah saya berdiri. Mengurus pembatalan terbang ke Eropa. Menarik kembali bagasi, membatalkan boarding, mengusahakan stempel imigrasi dan meninggalkan bandara.

Hati saya malam itu sangat galau. Saya sudah terlanjur jatuh cinta setengah mati kepada sesuatu yang dulu saya benci: PLN. Tapi belum lagi saya bisa merayakan bulan madunya saya harus meninggalkannya. Inikah yang disebut kasih tak sampai?

 

Dahlan Iskan

CEO PLN / Menneg BUMN

“if you let me, I’ll show you, I’ll do it… We run things another way, We run things, another way”

sumber :

dari FB senior saya : Kak Yori Marten,ST

alumnus Teknik Industri UGM

sekarang sebagai Investment Analysist di PT PLN cabang Batam

Advertisements
Categories: Motivasi, Salinan | 17 Comments

Bagaimana Bila Penguasa Zhalim (Bagian I)

Bismillahirrohmanirrohiim.

Tiada agama kecuali dengan jamaah, tiada jamaah kecuali dengan imamah (kepemimpinan), dan tiada imamah kecuali dengan mendengar dan patuh.“(1)

Mendengar dan patuh kepada penguasa kaum Muslimin adalah salah satu dasar
‘aqidah para salafush sholih. Hampir semua kitab tentang ‘aqidah salaf menjelaskan masalah ini. Mengingat betapa penting & besar kedudukannya. Sebab, dengan mendengar dan patuh kepada mereka,kemaslahatan agama dan dunia menjadi teratur sekaligus. Sebaliknya dengan menentang mereka,baik perkataan maupun perbuatan, mendatangkan kerusakan agama dan dunia.

Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh ta’ala mengatakan mengenai para penguasa :

Mereka adalah orang-orang yang menguasai lima urusan kita :

1. Sholat Jum’at

2. Sholat berjama’ah

3. Sholat hari raya

4. Wilayah perbatasan dengan musuh,dan

5. Pelaksanaan hudud (hukuman yang telah ditentukan,

Demi ALLOH, agama tidak akan lurus tanpa peranan mereka,meskipun mereka zholim dan bertindak semena-mena. Demi ALLOH,kebaikan yang dimunculkan ALLOH subhanu wata’ala berkat jasa mereka jauh lebih banyak daripada kerusakan yang mereka perbuat. Di samping itu, demi ALLOH, menaati mereka adalah suatu yang disenangi dan menantang mereka adalah suatu yang diingkari.” (2)

Di tulisan ini saya tuliskan sebuah kisah pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal mengenai bagaimana adab terhadap penguasa,yakni memperingatkan dari memberontak pada penguasa. Sekalipun penguasanya telah berbuat kezhaliman yang luar biasa. Jauh lebih parah dibandingkan pada masa sekarang,contohnya di negara kita. Yang katanya pemerintahan sekarang gagal. Coba simak kisah berikut:

Imam Ahmad bin Hanbal rohimahulloh mengatakan :

Fuqoha Baghdad pada zaman pemerintah Khalifah Al-Watsiq menemui Abu Abdillah,yakni Imam Ahmad bin Hanbal,dan mengatakan kepadanya,” Sesungguhnya persoalan ini sedemikian genting dan tersiar ke mana-mana–maksud mereka ialah merajalelanya pendapat bahwa Al-Quran adalah makhluq dan sebagainya–dan kami tidak ridha dengan pemerintahan dan kekuasannya.

Namun Imam Ahmad mendebat mereka mengenai hal itu dan mengatakan,”Ingkarilah dalam hati kalian,dan jangan menarik tangan dari ketaatan. Jangan patahkan tongkat kaum Muslimin, dan jangan tumpahkan darah kalian bersama darah mereka. Pikirkan baik-baik akibat urusan kalian. Bersabarlah hingga orang berbakti memperoleh kelegaan dan dibebaskan dari pendurhaka.

Imam Ahmad melanjutkan,”Ini–yakni melepaskan tangan mereka dari ketaatan kepada penguasa–tidak benar,ini menyelisihi atsar.” (3)

Ini adalah bentuk paling mencengangkan yang diriwayatkan kepada kita yang menunjukkan betapa besarnya perhatian salaf terhadap masalah ini dan menjelaskan secara gamblang implikasi riil dari manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah

 

Diambil dari bagian pendahuluan buku karya Abdussalam bin Barjas Ali Abdul Karim –
hafizhohulloh ta’ala– yang berjudul ” Bagaimana Bila Penguasa Zhalim?“,penerbit Pustaka At-Tazkia dengan beberapa editan oleh penulis.

 

Smoga bermanfaat.

Baarokalloh fiykum.

Kamar Asrama,21 Dzulqo’idah 1432 H

(1) Diriwayatkan dalam atsar dari Umar,seperti diriwayatkan ad-Darimi dalam Sunan Ad-Darimi (I/69) dan juga diriwayatkan oleh Abu Darda

(2) Adab al-Hasan al-Bashri, Ibnu Al-Jauzi (hal. 121)

(3) Al-Adab Syar’iyyah,Ibu Muflih (I/195-196)

Categories: Belajar Ilmu Agama, Nasehat, Organisasi, Salinan | Tags: , , | 4 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.