Posts Tagged With: tauhid

10 Rambu-Rambu Jalan Menuju Pembebasan Al-Aqsha

Bismillaahirrohmanirrohiim.

-lanjutan catatan kajian “Kapan Palestina Kembali ke Pangkuan Kita?“-

Adapun 10 Rambu-Rambu Jalan Menuju Al-Aqsha tersebut, yakni :

1. Hendaknya menumbuhkan perasaan di dalam diri kita bahwa mereka adalah saudara kita, seperti satu tubuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang sesama mereka adalah bagaikan satu tubuh yang bila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit maka seluruh anggota tubuh yang lain tidak dapat tidur dan selalu merasa panas”. (Hadits Riwayat Muslim)

Umat Islam terbagi menjadi 3 terkait sikap terhadap masalah Palestina

Continue reading

Advertisements
Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , , , , , | 3 Comments

Catatan Safari Dakwah Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq, 15 Februari 2012 : Haqiqotul Iman – 1

Bismillaahirrohmanirrohiim.

 

Di awal rangkaian safari da’wah Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq di Masjid Kampus UGM (sebeluimnya pada pagi hari di Masjid Pondok Pesantren Bin Baz), moderator yakni Ustadz Afifi Abdul Wadud memberikan beberapa taujih atau nasehat :

Berjumpa dengan ulama adalah sebuah nikmah dan keberadaan ulama adalah benteng dari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di umat”

Catatlah ilmu dengan tulisan, karena ilmu itu seperti barang buruan dan mengikatnya dengan mencatatnya.

 

Tak berapa lama setelah sholat ‘Isya ditunaikan,acara inti pun dimulai. Penerjemah pada kajian tersebut adalah Ustadz Arif yang merupakan Mudir Ma’had Bin Baz.

Adapun Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq yang bernama lengkap Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin â��Utsman Al Abbad Alu Badr adalah guru besar bidang ‘Aqidah di Universitas Islam Madinah.

lebih lanjut mengenai beliau bisa dibaca di sini

 

——————————————————————

 

Iman.

Iman itu adalah setinggi-tingginya tujuan, seagung-agungnya apa yang dicita-citakan.

Iman dengannya kita ini diciptakan dan dengannya kita akan memperoleh kebahagiaan dan surga, selamat dari siksaan-NYA dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hilangnya keimanan, berarti hilanglah semuanya.

Seseorang apabila tidak menegakkan iman, ia tidak akan mendapatkan keamanan, kebahagiaan dan cita-citanya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Quran Surat Al-An’am ayat 82)

 

Buah dari keimanan dan pengaruhnya tidak bisa dihitung. Seluruh kebaikan di dunia dan akhirat adalah buah dan hasil dari keimanan. Setiap musibah,tidaklah bisa dihilangkan dan sirna, melainkan itu merupakan buah keimanan.

 

Seorang mukmin cukuplah baginya jika menuntut kebaik-kebaikan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, baik di saat sehat maupun sakit, baik ketika safar (melakukan perjalanan) ataupun muqim (tinggal), mukmin selalu mencari dan dalam kebaikan-kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya” (Hadits Riwayat Muslim)

 

Pada dasarnya mukmin itu diuji,baik dengan kelapangan dan terkadang kemiskinan. Yang perlu diketahui, tatkala ALLOH memberi kelapangan kepada seseorang,bukan berarti (belum tentu) menjadi dalil/pertanda ALLOH ridho. Sebaliknya, jika ALLOH memberi kesempitan bukan berarti ALLOH murka kepadanya.

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Robb-ku telah memuliakanku”. Adapun bila Robb-nya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (Quran Surat Al-Fajr ayat 15-16)

 

Jika ada dua orang, yang satu apabila ia berkecukupan ia ridho/bersyukur. Dan seorang lainnya apabila kurang,ia bersabar. Manakah yang lebih utama?

Ibnul Qayyim bertanya kepada gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai perkara itu. Jawaban Syaikhul Islam, “Yang paling bertaqwa di antara keduanya.”

Lalu,Ibnul Qayyim bertanya lagi, “Jika sama, siapa?”

Syaikhul Islam menjawab, “Kedua-duanya sama dalam hal pahala.”

 

Seorang mukmin selalu dalam kebaikan, baik tatkala lapang/senang maupun tatkala sempit/susah. Tapi bila ia mendapatkan kelapangan/kesenangan ia tidak bersyukur serta jika sedih tidak bersabar, maka ia memperoleh kerugian pada masing-masing keadaannya.

 

Cukuplah bagi seorang mukmin dengan keutamaan, memperoleh keutamaan, memperoleh sebaik-baik perhiasan, seindah-indah pakaian,yakni keimanan, yang diberikan oleh ALLOH Ta’ala kepada orang beriman.

 

ALLOH Ta’ala menghiaskan keimanan pada hati kalian dan ALLOH menanamkan kebencian terhadap kekufuran.

 

Hakikat perhiasaan itu ada pada keimanan.

 

———————————-

 

InsyaaALLOH akan dilanjutkan.

 

 

Al faqiir,

Lantai Dasar UniRes UMY gedung U, 01 Rabi’ul Akhir 1433 H

 

 

 

referensi :

1. Untuk copy paste ayat Quran beserta arti

2. Tulisan Ustadz Ari Wahyudi tentang Menakjubkannya Seorang Mukmin

3. Catatan kajian Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq tentang Hadits-Hadits Seputar Keimanan

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan | Tags: , , , , , | 1 Comment

Ada yang janggal di lagu yang sangat familiar ketika bulan Ramadhan 1431 H itu..

Bismillahirrohmanirrohiim..

Saya mencoba menjelaskan apa yang saya tulis di tulisan saya sebelumnya (versi mobile)..

Potongan liriknya yang terletak di bagian awal lagu :

Demi cintamu ya Alloh pada Muhammad nabiMU, ampunilah dosaku, wujudkan harapanku..

Memang benar Nabi Muhammad shollalallohu ‘alaihi wasallam kekasih ALLOH dan tidak ada yang salah kalau ALLOH mencintai makhluqNYA.. Salah satu sifat ALLOH adalah mencintai makhluqNYA..

Yang janggal adalah kalimat awalnya..

Demi cintamu ya Alloh pada Muhammad nabiMU

Ada beberapa tulisan yang berkenaan tentang hal ini yang saya ambil dari beberapa buku :

1. Shalawat Nariyah

Lafalnya dalam bahasa Indonesia :

“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui.”

‘Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo’a.

Setiap muslim tidak boleh berdo’a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).

2. Ada bacaan shalawat lainnya yang hampir sama dengan potongan lirik itu..

a. “Ya Allah, curahkanlah keberkahan dan keselamatan atas Muhammad, penawar hati dan obatnya, penyehat badan dan penyembuhnya, cahaya mata dan sinarnya, juga atas keluarga-nya.”

b. “Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, sehingga Engkau menjadikan daripadanya (sifat) keesaan dan (sifat) terus menerus mengurus (makhluk).”
(karya seorang syaikh besar dari Suriah)

dan masih ada beberapa lagi shalawat yang intinya hampir sama..

3. Kehati-hatian dalam bersumpah..

Jundub bin Abdullah Radhiallahu’anhu berkata :

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

قال رجل : والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله : من ذا الذي يتألى علي أن لا أغفر لفلان ؟ إني قد غفرت له وأحبطت عملك ” رواه مسلم.

“Ada seorang laki-laki berkata : “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan, maka AllahSubhanahu wata’ala berfirman : “Siapa yang bersumpah mendahuluiKu, bahwa aku tidak mengampuni sifulan? sungguh Aku telah mengampuniNya dan Aku telah menghapuskan amalmu” (Hadits Riwayat Muslim).

Dan disebutkan dalam hadits riwayat Abi Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa orang yang bersumpah demikian itu adalah orang yang ahli ibadah. Abu Hurairah berkata : “Ia telah mengucapkan suatu ucapan yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

4. Larangan menjadikan ALLOH sebagai perantara kepada makhluqNYA..

Diriwayatkan dari Jubair bin Mut’im Radhiallahu’anhu bahwa ada seorang badui datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan mengatakan :

“Ya Rasulullah, orang-orang pada kehabisan tenaga, anak istri kelaparan, dan harta benda pada musnah, maka mintalah siraman hujan untuk kami kepada Rabbmu, sungguh kami menjadikan Allah sebagai perantara kepadamu, dan kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Allah”.

Maka Nabi bersabda :

:سبحان الله، سبحان الله “، فما زال يسبح حتى عرف ذلك في وجوه أصحابه، ثم قال

” ويحك ! أتدري ما الله ؟ إن شأن الله أعظم من ذلك، إنه لا يستشفع بالله على أحد ” وذكر الحديث. رواه أبو داود

Maha suci Allah, maha suci Allah” – beliau masih terus bertasbih sampai nampak pada wajah para sahabat (perasaan takut  karena kemarahan beliau), kemudian beliau bersabda : “Kasihanilah dirimu, tahukah kalian siapa Allah itu ? sungguh kedudukan Allah Subhanahu wata’ala itu jauh lebih Agung dari pada yang demikian itu, sesungguhnya tidak dibenarkan Allah dijadikan sebagai perantara kepada siapapun dari makhlukNya.” (Hadits Riwayat Abu Daud).

Kesimpulan :

Dalam potongan lirik itu mengandung semua hal yang saya kutip di atas..

1. Kehati-hatian dalam bersumpah

seperti banyak orang di masa sekarang yang dengan mudahnya bersumpah, baik itu atas nama ALLOH maupun atas nama makhluq yang sebenarnya bersumpah atas nama makhluq itu dilarang..

واحفظوا أيمانكم

Dan jagalah sumpahmu …” (QS. Al Maidah, 89).

2. Larangan menjadikan ALLOH sebagai perantara kepada makhluqNYA
yaa.. menurut pandangan saya lirik tersebut jelas memiliki sangkut-paut atau hubungan dengan poin ini..
Karena,mengapa meminta ampunan kepada ALLOH harus menggunakan sumpah dan sumpahnya itu
atas nama cinta ALLOH kepada RosulNYA.????

Semoga dari tulisan yang sederhana -dan hampir sebagian besarnya hasil kutipan langsung tanpa edit-an dari buku yang saya baca- ini dapat bermanfaat..
Karena ini masalah yang sangat besar..
Masalah ‘Aqidah..

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ‘Laa Ilaaha Illallah’dan cabang paling rendah adalah menyingkirkan kotoran dari jalan.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNYA, dan Muhammad adalah hamba dan utusanNYA, dan kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam serta ruh daripadaNya, dan (bersaksi pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan Neraka pun benar adanya maka Allah pasti memasukkannya ke dalam Surga, apapun amal yang diperbuatnya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu sedikitpun, niscaya Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.”
(HR. At-Tirmidzi dan Adh-Dhayya’, hadits hasan)

“Barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, niscaya akan masuk Surga. Dan barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) berbuat syirik kepada Allah, niscaya akan masuk Neraka.”
(HR. Muslim)

Semoga bermanfaat..

‘afwan karena tulisan ini sebagian besar kutipan langsung dari buku (
e-book)

Yang mau share,dipersilahkan..

Tafadhdhol..

Rama Rizana

Di lantai dasar asrama UMY, Kasihan, Bantul, 05 Dzulqo’idah 1431 H


Sumber :



1. Al-Firqotun Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
2. Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin ABdul Wahhab



NB :
ini baru masalah isi lirik lagunya lho.. belum lagi mengenai yang membuat dan menyanyikannya..
‘afwan kalau pemilihan kata saya membuat antum bingung..

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Sharing | Tags: , , , , | 8 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.