Faedah Ilmu

Faedah dari Hadits Arba’in An-Nawawiyah ke 37

Bismillaahirrahmanirrahiim.
Keutamaan dan Rahmat dari Allah

عَن ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالى قَالَ: (إِنَّ الله كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ؛ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَاف كَثِيْرَةٍ. وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً،وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً) رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ في صَحِيْحَيْهِمَا بِهَذِهِ الحُرُوْفِ

Terjemahan :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabb-nya Yang Mahasuci dan Mahatinggi, Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut. Barangsiapa yang ingin melaksanakan kebaikan namun dia tidak mengamalkannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Jika dia berniat berbuat maksiat, kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya, Allah mencatatnya sebagai satu maksiat. (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Di kalimat awal Hadits Arba’in an-Nawawiyah ke-37,
إِنَّ الله كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ

Ketetapan yang dimaksud di kalimat ini adalah Ketetapan Qadariyah, mencakup dua perkara, yakni:
1. Ketetapan amalan setiap makhluk
2. Ketetapan balasan dan pertolongan untuk melakukan amal shalih

Dari keterangan ini dapat diketahui betapa kerdilnya diri kita sebagai makhluk, karena Allah yang menetapkan syari’at, Allah yang menetapkan amalan tiap hamba, Allah pula yang menetapkan balasan dari amalan tersebut, dan Allah juga yang memberikan pertolongan berupa taufiq untuk mengerjakan amalan. Sudah seharusnya lah kita senantiasa memohon taufiq dan hidayah Allah Ta’ala agar bisa dimudahkan dalam mengerjakan ibadah dan amalan kebaikan.

Amalan seorang hamba ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan. Seorang hamba berada di antara kebaikan dan keburukan, ada 4 perkara terkait hal ini.

Pertama,
Seorang yang ada keinginan untuk melakukan amal baik, dan ia tidak mengerjakannya, maka Allah memberikannya balasan 1 kebaikan penuh.

Kedua,
Seseorang yang berkeinginan untuk berbuat baik, kemudian ia mengerjakannya, maka Allah mencatat untuknya 10 sampai 700 kebaikan, tergantung tingkatan kebaikan keislamannya. Dan di antara sarana untuk meraih kualitas Islam adalah…

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Ketiga,
Seorang hamba yang berkeinginan untuk melakukan perbuatan buruk, kemudian ia melakukannya, maka dicatat untuknya satu keburukan tanpa dilipatgandakan. Hanya saja kadar dosa ini berbeda-beda dari segi kualitasnya, bukan kuantitas. Seperti dosa yang dilakukan di tanah suci atau tempat-tempat yang mulia seperti masjid, tentu lebih besar daripada dosa yang dilakukan diluar tempat-tempat tersebut. Demikian pula dosa yg dilakukan di bulan-bulan haram, lebih besar daripada dosa yang dilakukan di luar bulan haram.

Keempat,
Seorang hamba yang terpikirkan untuk berbuat maksiat, namun ia tidak jadi melakukannya, maka orang yang seperti ini tidak lepas dari dua keadaan.

Pertama, meninggalkannya karena sebab (faktor luar/eksternal), dan kedua, meninggalkannya tidak karena sebab (faktor dalam/internal).

Karena sebab ada 3 macam:
1. Sebab meninggalkan maksiat karena takut dan malu kepada Allah, maka dicatat untuknya pahala.
2. Sebabnya karena gengsi atau karena takut kepada makhluk, maka dia mendapatkan dosa karena alasan tersebut.
3. Sebabnya karena tidak ada kemampuan untuk melakukannya, padahal ia telah mengerahkan segala usaha, maka baginya dosa seperti orang yang telah melakukan amalan buruk tersebut.

Kemudian, tanpa sebab ada 2 macam.
1. Meninggalkan karena sebatas keinginan dalam hati (belum sampai pada derajat tekad kuat) untuk tidak mengerjakan dosa tersebut. Hatinya merasa risih dengan dosa tersebut. Orang seperti ini terampuni, bahkan mendapatkan pahala karena hatinya tidak merasa nyaman dengan dosa.
2. Meninggalkan dosa setelah adanya azzam/tekad dalam hati untuk melakukan suatu dosa. Orang ini mendapatkan pahala sebagaimana dijelaskan dalam hadits.

*di antara faedah dari daurah matan Arba’in an-Nawawiyah bersama Syaikh Shalih ibn ‘Abdillah ibn Hamad Al-‘Ushoimi hafizhahullah Ta’ala

Selesai ditulis setelah dikoreksi salah seorang sahabat hafizhahullah Ta’ala,

Dhahran, 11 Rabi’ul Tsani 1436 H

Continue reading

Advertisements
Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu, Fiqh | Tags: , , | Leave a comment

Ringkasan Faedah Hadits ke-219 Kitab Riyadush Shalihin tentang Peradilan

1526420_10203109336524242_1814965907_n (1)

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Kajian kitab Riyadush Shalihin yang dibawakan Ustadz Zaid Susanto tadi membahas hadits ke-219.

Dari hadits tersebut bisa diambil kaedah umum dalam masalah peradilan, yakni seorang Qadhi/hakim hanya sebatas mendengar orang yang berseteru (dua belah pihak), terkadang hujjah salah satunya lebih kuat dibandingkan yang lain.
Salah satu adab Qadhi/hakim tatkala memutuskan sebuah perkara, hendaklah dia “mengancam” orang yang akan bersaksi dengan kalimat “Ittaqillaah”.

Faedah-faedah yang bisa dipetik dari hadits tersebut, yaitu :
1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia biasa, tidak mengetahui perkara yang ghaib dan tidak mengetahui apa yang ada di hati manusia. Hanyasaja beliau diberi wahyu oleh Allah Ta’ala. Beliau adalah seorang hamba yang diutus.
2. Qadhi memutuskan perkara di antara dua orang yang berseteru dengan melihat bukti-bukti dan qarinah (sesuatu yang bisa menguatkan dugaan).
Kaedah : kita hanya bisa menghukumi secara zhahir.
3. Wajib bagi seorang hakim untuk tidak memutuskan suatu perkara, kecuali setelah mendengar dari dua belah pihak.
4. Apabila seorang qadhi salah dalam memutuskan suatu perkara, setelah bersungguh-sungguh mencaritau dan tabayyun, dia tidak berdosa, karena seorang qadhi memutuskan suatu perkara berdasarkan bukti-bukti dan qarinah yang ditunjukkan kepadanya.
5. Kesalahan seorang qadhi tidak berarti bisa mengubah sesuatu yang halal menjadi haram, dan yang haram menjadi halal.
6. Barangsiapa yang dimenangkan atas suatu perkara, padahal dia tau dia menzhalimi saudaramya, maka tidak boleh baginya mengambil hak tersebut, karena seolah-olah mengambil potongan dari api neraka.
7. Hakim/qadhi (seharusnya” mengingatkan orang yang berseteru untuk bertaqwa kepada Allah. Ada baiknya para hakim menghafal, memahami dan menyampaikan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits tentang kezhaliman.
Jangan sampai kita merasa sebuah perkara (yang putusannya tidak sesuai dengan yang seharusnya) itu selesai, tapi ternyata peradilan tersebut (pasti) berlanjut di akhirat kelak.

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu, Fiqh, Hadits, Muamalah, Nasehat | Tags: , , , , , | Leave a comment

Pelajaran-Pelajaran dari Kisah Abu Bakar ash-Shiddiq (Bag. 1)

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah sosok suritauladan yang agung setelah Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupannya penuh dengan perjuangan,pengorbanan,akhlaq mulia, dakwah dan tanggungjawab terhadap keluarga. Kehidupannya merupakan pelajaran tersendiri bagi setiap muslim yang ingin meneladanisalafush shalih, para pendahulu-pendahulu kita yg shalih.

Abu Bakar ash-Shiddiq itulah nama yang sering kita kenal. Tapi nama beliau yang sesungguhnya adalah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al Qurasyi At Taimi. Ini nama dan nasab garis keturunannya. Nasab, garis keturunan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bertemu dengan nasab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di kakek yang ke 6 yakni Murrah bin Ka’ab.

Lalu beliau diberi kun-yahkun-yah “Abu Bakrin”, atau “Abu Bakr”. Kun-yah itu adalah gelar yang didahului dengan kalimat “Abu” atau “Ummu”. Bisa diambil dari nama anak atau nama lainnya. Biasa digunakan oleh Rasulullah dan para shahabat serta ulama sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diberi kun-yah. Panggilan pakaikun-yah itu penghormatan.

Nah, Abu Bakar ash-Shiddiq digelari Abu Bakr bukanlah dari nama anaknya. Kalimat Bakr diambil dari Bakr yaitu unta yang muda. Kenapa Abu Bakr diberi gelar seperti itu?

Continue reading

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu, Motivasi, Sejarah | Tags: , , , | Leave a comment

Mendulang Faedah dari Kisah Negeri Saba’ (bagian I)

Bismillaahirrahmanirrahiim.

kisah negeri #Saba ini merupakan salah satu dari banyak kisah yg tertera di dalam Al-Quran. Saking banyaknya kisah penuh faedah dalam Al-Quran,para ulama salaf mengatakan 1/3 dari Al-Quran berisi kisah. Harapannya dari kisah2 tersebut bisa kita ambil faedah2nya untuk menambah keimanan kita.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam ialah nabi yg diutus oleh Allah Ta’ala dari golongan Bani Israil. Beliau menjadi nabi sekaligus raja, beliau juga merupakan putra dari Nabi Daud‘alaihissalam. Nabi Daud ‘alaihissalam mewariskan kekuasaan & ilmu kepada Nabi Sulaiman,untuk harta tidak beliau wariskan. Hal ini menunjukkan para Nabi ‘alaihimussalaam tidak pernah mewariskan harta,akan tetapi mewariskan ilmu.

Kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dimulai dari ayat ke-15 Quran Surat An-Naml.

Continue reading

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu, Goresan Karyaku | Tags: , , , , , | Leave a comment

Kebanyakan atau Sedikit?

# Kebanyakan atau Sedikit? #

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Pencarian untuk “Kebanyakan dari mereka” ( أَكْثَرَهُمْ ) di dalam Al-Quran, dan engkau akan menemui bahwa mereka :

أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

“…kebanyakan dari mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.” (Quran Surat Fushilat ayat 4),

Continue reading

Categories: Belajar Ilmu Agama, Faedah Ilmu, Muhasabah | Tags: , , | Leave a comment

Kunci-Kunci Ilmu

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Kunci-kunci ilmu ada 5,yakni :

1. Pertanyaan yang bagus

Shahabat Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- suatu ketika ditanya sebab mendapat ilmu,beliau menjawab “lisan yang suka bertanya,pikiran yang encer & cerdas”

Agar pertanyaan kita bermanfaat & mendapatkan ilmu perlu tau cara bertanya yang cerdas dan efektif, yakni siapa orang yang layak kita tanya, menggunakan kalimat yang santun & layak,serta memilih waktu yang tepat

» Siapa orang yang layak kita tanya

-> cerdas lah dalam memilih tempat bertanya. Tanyalah kepada yang spesialis,yakni yang tekun mempelajari bidang tersebut, banyak menulis di bidang tersebut dan banyak mengajar di bidang tersebut.

Secara umum,seorang da’i harus menguasai semua ilmu-ilmu dasar. Adapun untuk yang lebih mendetail tentulah tidak bisa disamakan antara seseorang dengan yang lainnya.

Continue reading

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , , | Leave a comment

(Rangkuman Catatan) Di antara faedah2 di balik Quran Surat Al-Fatihah

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Selama ini kita selalu membaca Surat Al-Fatihah di setiap rakaat sholat kita,tapi (mungkin) tidak tau faedah di balik mengapa kita harus membacanya.

Di antara faedah tersebut :

Pertama, Surat Al-Fatihah adalah Surat dalam Al-Quran yang memuat tiga pembagian tauhid sekaligus,yakni tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wa shifat;

Kedua, di dalamnya juga terdapat faedah bahwa manusia adalah makhluk yang lemah,tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah;

Ketiga, di ayat terakhir berisi do’a kepada Allah agar kita senantiasa diberikan hidayah oleh Allah Ta’ala.

Hidayah terbagi menjadi dua,yakni hidayah dalalah wal irsyad dan hidayah taufiq + menerima kebenaran.

Hidayah dalalah wal irsyad didapati oleh semua manusia,hidayah yang berisi penjelasan akan kebenaran yang disampaikan oleh para Rasul hingga para ulama. Adapun hidayah taufiq dan menerima kebenaran itu datangnya dari Allah dan hidayah inilah yang selalu kita minta di setiap rakaat sholat kita. Hidayah agar Allah menjadikan kita orang-orang yang diberikan nikmat (kepahaman akan ilmu agama dan kemudahan untuk beriman + mengamalkan ilmu tersebut) dan agar Allah menjauhkan kita dari sifat orang yang dimurkai oleh Allah (orang yang berilmu tapi tidak beramal,seperti orang Yahudi) dan dari sifat orang yang sesat (orang yang beramal asal-asalan tidak dilandasi dengan ilmu,seperti orang Nasrani)

*di antara faedah dari dauroh Tafsir Quran Surat Al-Fatihah bersama Ustadz Abduh Tuasikal hafizhohullohu Ta’ala

**Firstly written and typed as status on Sunday, 17 March 2013 at 07:06

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu, Nasehat | Tags: , , , , | Leave a comment

Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian kedua/terakhir)

Pengantar :

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan ini sekaligus tulisan terakhir seputar “Hukum menamai manusia dengan nama Allah”

 

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Apa hukumnya penamaan dengan nama-nama Allah semisal Al-Hakiim dan Ar-Rahiim?

Dibolehkan seseorang dinamai dengan nama-nama tersebut dengan syarat bukan bertujuan pada makna nama yang dikandung oleh nama tersebut. Di antara para shahabat ada dinamai dengan Al-Hakm danHakim ibn Hizam, ada juga seseorang yang dinamai dengan “‘Adl”

Adapun jika dimaksudkan makna yang terkandung dari sifat/nama tersebut, maka zhohirnya tidak boleh.

Yang menjadi patokan sebenarnya dalam masalah ini, yaitu zhohir dari jawaban pertanyaan yang ditujukan kepada Lajnah Daimah, Arab Saudi. Di mana lajnah pernah menerima pertanyaan :

“Apakah yang berikut ini bisa dijadikan dalil atas haramnya penamaan makhluk dengan nama Allah? :

1. Di mana telah kita ketahui bahwa menamai makhluk dengan nama Allah : “اللَّهُ” (lafzhun jalalah) itu adalah terlarang, maka menamai makhluk dengan nama-nama lainnya juga tidak boleh, karena tidak ada perbedaan di antara nama-nama Allah Ta’ala yang lain.

2.  Telah maklum diketahui dalam pembahasan ilmu nahwu, apabila ada jar majrur mendahului isim ma’rifat (اَلْ), maka memberikan qasr/hasr (pengkhususan/pembatasan) isim ma’rifat hanya untuk jar majrur tersebut. Seperti firman Allah

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

Berarti ayat tersebut menunjukkan Asmaul Husna hanya milik Allah Ta’ala.

Bolehkah dua hal ini dijadikan dalil?”

Jawaban :

1. Jika nama-nama Allah tersebut merupakan nama syakhs (pribadi/khusus) bagi Allah, seperti اللَّهُ maka tidak boleh untuk selain Allah, karena nama tersebut hanya tertentu saja, yaitu اللَّهُ dan nama tersebut di dalamnya tidak menerima persekutuan. Demikian pula nama-nama Allah yang lainnya yang tidak mengandung dan tidak menerima persekutuan, maka tidak boleh menamai makhluk dengan nama-nama tersebut, seperti Al-Kholiq[1], Al-Baari[2]. Adapun jika nama tersebut mengandung nama tersebut mengandung makna yang kulli (umum), mencakup semua yang masing-masing yang dicakup memiliki tingkatan yang berbeda-beda satu sama lain, maka boleh menamai selain Allah dengan nama tersebut (dari segi kandungan makna), seperti Al-Malik (yang berkuasa), Al-Aziz (perkasa), maka dalam Al-Quran Surat Yusuf ada nama makhluk “Aziz”. Demikian juga Al-Mutakabbir, Al-Jabbar.

Meskipun dibolehkan bukan berarti sama antara اللَّهُ dan makhluk, karena jelas sungguh berbeda.

2. Yang dimaksud dengan kekhususan dalam ayat tersebut adalah “husna“nya, bukan “nama“nya.

Pertanyaan :

Apabila telah ditetapkan tadi bahwa ada nama yang tidak boleh dinamakan untuk makhluk dan ada yang boleh. Apakah Ar-Rohman dan Al-Qoyyim dibolehkan?

Jawaban :

Nama Ar-Rohman karena saking sering digunakan untuk اللَّهُ maka tidak boleh digunakan.

Untuk nama Al-Qoyyim, kita simak apa arti dari nama tersebut.

Al-Qoyyim bermakna yang merasa cukup dengan dirinya, tidak butuh orang lain, yang bisa berdiri sendiri dan selainnya butuh kepada dirinya.

Apakah manusia memiliki sifat yang dikandung oleh nama tersebut?

Tentu saja tidak, maka tidak boleh memberikan nama Al-Qoyyim kepada selain Allah.

Kesimpulan :

  • Apabila nama tersebut khusus untuk اللَّهُ maka tidak boleh, seperti اللَّهُ, Al-Kholiq, Al-Baari, Ar-Rohman.
  • Apabila penggunaan nama tersebut ditujukan kepada makna yang dikandung pada nama tersebut -meski tanpa اَلْ- maka tidak boleh memberikan nama makhluk dengan nama tersebut.
  • Boleh menamai makhluk dengan nama Allah jika pada keadaan selain dua poin di atas.

Wallahu Ta’ala A’laam.

Silahkan merujuk buku Syaikh Abdurrozaq : Fiqh Asmaul Husna

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Maha suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain-Mu, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

(Hadits Riwayat Ashhaabus Sunan)

Baarokallohu fiykum.

Bantul, 01 Rabiul Awal 1434 H

[1] Al-Kholiq bermakna : yang mengadakan sesuatu tanpa ada contoh/misal sebelumnya

[2] Al-Baari bermakna : yang mengadakan sesuatu tanpa ada cacat (naqis) dari yang diciptakannya.

Catatan materi ‘Akhlaq Ma’had Al-‘Ilmi dengan pemateri Ustadz Marwan hafizhohullohu Ta’ala.

*previously posted here

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , | 1 Comment

Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian pertama)

Pengantar :

Tulisan kali ini adalah materi tambahan yang disampaikan oleh Ustadz Marwan di kajian rutin Ma’had ‘Ilmi materi ‘Aqidah yang disarikan dari kitab Qowa’idul Mutsla fii Shifatillahi wa Asma-il Husna karya Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rohimahulloh. Materi ini diberikan setelah mempelajari kaidah pertama dalam mempelajari dan memahami nama Allah Ta’ala, yakni

Nama-nama Allaah Ta’ala semuanya adalah husna (paling baik).”

Dalilnya, yakni Quran Surat Al-A’raaf ayat 180

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

 

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Bagaimanakah hukum menamai manusia dengan nama Allah Ta’ala?

Pertanyaan ini ditanyakan kepada Syaikh Shalih Utsaimin.

Jawaban :

Penamaan dengan menggunakan nama Allah memiliki 2 sisi :

Sisi pertama terbagi menjadi dua,

a. Nama tersebut bersambung dengan Alif Lam. Jika demikian nama tersebut tidak boleh digunakan selain untuk Allah ‘Azza Wa Jalla, karena Alif lam itu menunjukkan makna asal dari nama tersebut. Misal nama Ar-Rohiim, Al-Malik,

b. Penamaan tersebut dimaksudkan pada makna sifat yang dikandung oleh nama tersebut, maka ini juga tidak boleh, meskipun tidak bersambung dengan Alif lam. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallampernah mengubah nama kunyah shahabat Abul Hakm, karena orang-orang berdatangan keapda Abul Hakm untuk meminta (fatwa) hukum suatu hal. Lalu nama tersebut diganti menjadi Abu Syuraih yagn merupakan nama anak pertama shahabat tersebut.

Sisi kedua

Penamaan tersebut tidak bersambung dengan Alif lam dan tidak bermaksud (ditujukan) untuk makna sifat yang dikandungnya. Maka ini tidak mengapa.

Salah satu contohnya adalah nama salah seorang shahabat, yakni Hakim ibn Hizam.

Tapi kalau nama “Jabbar“, seyogyanya tidak dipakai karena nama tersebut bisa berpengaruh kepada orang yang memakainya.

to be continued

di tulisan selanjutnya, InsyaaALLAH membahas pertanyaan kedua mengenai hal ini sekaligus menyimpulkan bagaimana hukum menamai manusia (seseorang) dengan nama Allah Ta’ala.

Semoga bermanfaat.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Maha suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain-Mu, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

(Hadits Riwayat Ashhaabus Sunan)

Baarokallohu fiykum.

Bantul, 29 Safar 1434 H

*previously posted here

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , | 2 Comments

Faktor-Faktor yang Bisa Mengokohkan Hati

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Mengetahui faktor-faktor yang bisa mengokohkan hati di atas agama Allah Ta’ala, lebih-lebih di zaman yang banyak fitnah dan sedikit menolong Allah dan tersebarnya kebodohan adalah perkara yang sangat penting.

Di antara faktor-faktor yang bisa mengokohkan hati, yakni

Continue reading

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , , | 1 Comment

Blog at WordPress.com.