‘Aqidah

Faedah dari Hadits Arba’in An-Nawawiyah ke 37

Bismillaahirrahmanirrahiim.
Keutamaan dan Rahmat dari Allah

عَن ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالى قَالَ: (إِنَّ الله كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ؛ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَاف كَثِيْرَةٍ. وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً،وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً) رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ في صَحِيْحَيْهِمَا بِهَذِهِ الحُرُوْفِ

Terjemahan :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabb-nya Yang Mahasuci dan Mahatinggi, Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut. Barangsiapa yang ingin melaksanakan kebaikan namun dia tidak mengamalkannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Jika dia berniat berbuat maksiat, kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya, Allah mencatatnya sebagai satu maksiat. (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Di kalimat awal Hadits Arba’in an-Nawawiyah ke-37,
إِنَّ الله كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ

Ketetapan yang dimaksud di kalimat ini adalah Ketetapan Qadariyah, mencakup dua perkara, yakni:
1. Ketetapan amalan setiap makhluk
2. Ketetapan balasan dan pertolongan untuk melakukan amal shalih

Dari keterangan ini dapat diketahui betapa kerdilnya diri kita sebagai makhluk, karena Allah yang menetapkan syari’at, Allah yang menetapkan amalan tiap hamba, Allah pula yang menetapkan balasan dari amalan tersebut, dan Allah juga yang memberikan pertolongan berupa taufiq untuk mengerjakan amalan. Sudah seharusnya lah kita senantiasa memohon taufiq dan hidayah Allah Ta’ala agar bisa dimudahkan dalam mengerjakan ibadah dan amalan kebaikan.

Amalan seorang hamba ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan. Seorang hamba berada di antara kebaikan dan keburukan, ada 4 perkara terkait hal ini.

Pertama,
Seorang yang ada keinginan untuk melakukan amal baik, dan ia tidak mengerjakannya, maka Allah memberikannya balasan 1 kebaikan penuh.

Kedua,
Seseorang yang berkeinginan untuk berbuat baik, kemudian ia mengerjakannya, maka Allah mencatat untuknya 10 sampai 700 kebaikan, tergantung tingkatan kebaikan keislamannya. Dan di antara sarana untuk meraih kualitas Islam adalah…

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Ketiga,
Seorang hamba yang berkeinginan untuk melakukan perbuatan buruk, kemudian ia melakukannya, maka dicatat untuknya satu keburukan tanpa dilipatgandakan. Hanya saja kadar dosa ini berbeda-beda dari segi kualitasnya, bukan kuantitas. Seperti dosa yang dilakukan di tanah suci atau tempat-tempat yang mulia seperti masjid, tentu lebih besar daripada dosa yang dilakukan diluar tempat-tempat tersebut. Demikian pula dosa yg dilakukan di bulan-bulan haram, lebih besar daripada dosa yang dilakukan di luar bulan haram.

Keempat,
Seorang hamba yang terpikirkan untuk berbuat maksiat, namun ia tidak jadi melakukannya, maka orang yang seperti ini tidak lepas dari dua keadaan.

Pertama, meninggalkannya karena sebab (faktor luar/eksternal), dan kedua, meninggalkannya tidak karena sebab (faktor dalam/internal).

Karena sebab ada 3 macam:
1. Sebab meninggalkan maksiat karena takut dan malu kepada Allah, maka dicatat untuknya pahala.
2. Sebabnya karena gengsi atau karena takut kepada makhluk, maka dia mendapatkan dosa karena alasan tersebut.
3. Sebabnya karena tidak ada kemampuan untuk melakukannya, padahal ia telah mengerahkan segala usaha, maka baginya dosa seperti orang yang telah melakukan amalan buruk tersebut.

Kemudian, tanpa sebab ada 2 macam.
1. Meninggalkan karena sebatas keinginan dalam hati (belum sampai pada derajat tekad kuat) untuk tidak mengerjakan dosa tersebut. Hatinya merasa risih dengan dosa tersebut. Orang seperti ini terampuni, bahkan mendapatkan pahala karena hatinya tidak merasa nyaman dengan dosa.
2. Meninggalkan dosa setelah adanya azzam/tekad dalam hati untuk melakukan suatu dosa. Orang ini mendapatkan pahala sebagaimana dijelaskan dalam hadits.

*di antara faedah dari daurah matan Arba’in an-Nawawiyah bersama Syaikh Shalih ibn ‘Abdillah ibn Hamad Al-‘Ushoimi hafizhahullah Ta’ala

Selesai ditulis setelah dikoreksi salah seorang sahabat hafizhahullah Ta’ala,

Dhahran, 11 Rabi’ul Tsani 1436 H

Continue reading

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu, Fiqh | Tags: , , | Leave a comment

4 Perbuatan Terlarang terkait Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah Ta’ala

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Salah satu bentuk keimanan kepada Allah adalah mengimani segala sifat yang Allah sifatkan (sendiri) untuk diri-Nya yang tercantum dalam kitab-Nya (Al-Quran) dan yang Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sifatkan untuk diri-Nya, tanpa (melakukan) tahrifta’thiltakyif dan tamtsil.

Karena yang paling tau akan sifat Allah hanya Allah Ta’ala.

Continue reading

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Goresan Karyaku | Tags: , , , , | Leave a comment

(Catatan Kajian) Parahnya kesyirikan di zaman ini….

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Pengantar

Kitab Qowa’idul Arba’ karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah kitab yang bagus untuk mempelajari dasar tauhid. Kitab ini berisi 4 kaedah dalam memahami tauhid dan syirik. Di setiap pembahasan yang beliau tuliskan memiliki dasar dari nash Al-Quran dan Hadits. Di catatan ini berisi penjelasan mengenai kaedah keempat dari kitab tersebut. Kaidah yang sangat terkait dengan realitas kondisi zaman sekarang,khususnya di negeri kita, Indonesia.

Kaedah Keempat

“Kesyirikan di zaman kita (zaman Syaikh-pent) betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dahulu (zaman awal Islam). Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah mereka/kembali bertauhid ketika ditimpa musibah (di saat sempit). Adapunkesyirikan di zaman sekarang, mereka berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit.” Continue reading

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Goresan Karyaku | Tags: , , , , , , | 2 Comments

Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian kedua/terakhir)

Pengantar :

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan ini sekaligus tulisan terakhir seputar “Hukum menamai manusia dengan nama Allah”

 

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Apa hukumnya penamaan dengan nama-nama Allah semisal Al-Hakiim dan Ar-Rahiim?

Dibolehkan seseorang dinamai dengan nama-nama tersebut dengan syarat bukan bertujuan pada makna nama yang dikandung oleh nama tersebut. Di antara para shahabat ada dinamai dengan Al-Hakm danHakim ibn Hizam, ada juga seseorang yang dinamai dengan “‘Adl”

Adapun jika dimaksudkan makna yang terkandung dari sifat/nama tersebut, maka zhohirnya tidak boleh.

Yang menjadi patokan sebenarnya dalam masalah ini, yaitu zhohir dari jawaban pertanyaan yang ditujukan kepada Lajnah Daimah, Arab Saudi. Di mana lajnah pernah menerima pertanyaan :

“Apakah yang berikut ini bisa dijadikan dalil atas haramnya penamaan makhluk dengan nama Allah? :

1. Di mana telah kita ketahui bahwa menamai makhluk dengan nama Allah : “اللَّهُ” (lafzhun jalalah) itu adalah terlarang, maka menamai makhluk dengan nama-nama lainnya juga tidak boleh, karena tidak ada perbedaan di antara nama-nama Allah Ta’ala yang lain.

2.  Telah maklum diketahui dalam pembahasan ilmu nahwu, apabila ada jar majrur mendahului isim ma’rifat (اَلْ), maka memberikan qasr/hasr (pengkhususan/pembatasan) isim ma’rifat hanya untuk jar majrur tersebut. Seperti firman Allah

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

Berarti ayat tersebut menunjukkan Asmaul Husna hanya milik Allah Ta’ala.

Bolehkah dua hal ini dijadikan dalil?”

Jawaban :

1. Jika nama-nama Allah tersebut merupakan nama syakhs (pribadi/khusus) bagi Allah, seperti اللَّهُ maka tidak boleh untuk selain Allah, karena nama tersebut hanya tertentu saja, yaitu اللَّهُ dan nama tersebut di dalamnya tidak menerima persekutuan. Demikian pula nama-nama Allah yang lainnya yang tidak mengandung dan tidak menerima persekutuan, maka tidak boleh menamai makhluk dengan nama-nama tersebut, seperti Al-Kholiq[1], Al-Baari[2]. Adapun jika nama tersebut mengandung nama tersebut mengandung makna yang kulli (umum), mencakup semua yang masing-masing yang dicakup memiliki tingkatan yang berbeda-beda satu sama lain, maka boleh menamai selain Allah dengan nama tersebut (dari segi kandungan makna), seperti Al-Malik (yang berkuasa), Al-Aziz (perkasa), maka dalam Al-Quran Surat Yusuf ada nama makhluk “Aziz”. Demikian juga Al-Mutakabbir, Al-Jabbar.

Meskipun dibolehkan bukan berarti sama antara اللَّهُ dan makhluk, karena jelas sungguh berbeda.

2. Yang dimaksud dengan kekhususan dalam ayat tersebut adalah “husna“nya, bukan “nama“nya.

Pertanyaan :

Apabila telah ditetapkan tadi bahwa ada nama yang tidak boleh dinamakan untuk makhluk dan ada yang boleh. Apakah Ar-Rohman dan Al-Qoyyim dibolehkan?

Jawaban :

Nama Ar-Rohman karena saking sering digunakan untuk اللَّهُ maka tidak boleh digunakan.

Untuk nama Al-Qoyyim, kita simak apa arti dari nama tersebut.

Al-Qoyyim bermakna yang merasa cukup dengan dirinya, tidak butuh orang lain, yang bisa berdiri sendiri dan selainnya butuh kepada dirinya.

Apakah manusia memiliki sifat yang dikandung oleh nama tersebut?

Tentu saja tidak, maka tidak boleh memberikan nama Al-Qoyyim kepada selain Allah.

Kesimpulan :

  • Apabila nama tersebut khusus untuk اللَّهُ maka tidak boleh, seperti اللَّهُ, Al-Kholiq, Al-Baari, Ar-Rohman.
  • Apabila penggunaan nama tersebut ditujukan kepada makna yang dikandung pada nama tersebut -meski tanpa اَلْ- maka tidak boleh memberikan nama makhluk dengan nama tersebut.
  • Boleh menamai makhluk dengan nama Allah jika pada keadaan selain dua poin di atas.

Wallahu Ta’ala A’laam.

Silahkan merujuk buku Syaikh Abdurrozaq : Fiqh Asmaul Husna

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Maha suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain-Mu, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

(Hadits Riwayat Ashhaabus Sunan)

Baarokallohu fiykum.

Bantul, 01 Rabiul Awal 1434 H

[1] Al-Kholiq bermakna : yang mengadakan sesuatu tanpa ada contoh/misal sebelumnya

[2] Al-Baari bermakna : yang mengadakan sesuatu tanpa ada cacat (naqis) dari yang diciptakannya.

Catatan materi ‘Akhlaq Ma’had Al-‘Ilmi dengan pemateri Ustadz Marwan hafizhohullohu Ta’ala.

*previously posted here

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , | 1 Comment

Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian pertama)

Pengantar :

Tulisan kali ini adalah materi tambahan yang disampaikan oleh Ustadz Marwan di kajian rutin Ma’had ‘Ilmi materi ‘Aqidah yang disarikan dari kitab Qowa’idul Mutsla fii Shifatillahi wa Asma-il Husna karya Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rohimahulloh. Materi ini diberikan setelah mempelajari kaidah pertama dalam mempelajari dan memahami nama Allah Ta’ala, yakni

Nama-nama Allaah Ta’ala semuanya adalah husna (paling baik).”

Dalilnya, yakni Quran Surat Al-A’raaf ayat 180

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

 

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Bagaimanakah hukum menamai manusia dengan nama Allah Ta’ala?

Pertanyaan ini ditanyakan kepada Syaikh Shalih Utsaimin.

Jawaban :

Penamaan dengan menggunakan nama Allah memiliki 2 sisi :

Sisi pertama terbagi menjadi dua,

a. Nama tersebut bersambung dengan Alif Lam. Jika demikian nama tersebut tidak boleh digunakan selain untuk Allah ‘Azza Wa Jalla, karena Alif lam itu menunjukkan makna asal dari nama tersebut. Misal nama Ar-Rohiim, Al-Malik,

b. Penamaan tersebut dimaksudkan pada makna sifat yang dikandung oleh nama tersebut, maka ini juga tidak boleh, meskipun tidak bersambung dengan Alif lam. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallampernah mengubah nama kunyah shahabat Abul Hakm, karena orang-orang berdatangan keapda Abul Hakm untuk meminta (fatwa) hukum suatu hal. Lalu nama tersebut diganti menjadi Abu Syuraih yagn merupakan nama anak pertama shahabat tersebut.

Sisi kedua

Penamaan tersebut tidak bersambung dengan Alif lam dan tidak bermaksud (ditujukan) untuk makna sifat yang dikandungnya. Maka ini tidak mengapa.

Salah satu contohnya adalah nama salah seorang shahabat, yakni Hakim ibn Hizam.

Tapi kalau nama “Jabbar“, seyogyanya tidak dipakai karena nama tersebut bisa berpengaruh kepada orang yang memakainya.

to be continued

di tulisan selanjutnya, InsyaaALLAH membahas pertanyaan kedua mengenai hal ini sekaligus menyimpulkan bagaimana hukum menamai manusia (seseorang) dengan nama Allah Ta’ala.

Semoga bermanfaat.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Maha suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain-Mu, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

(Hadits Riwayat Ashhaabus Sunan)

Baarokallohu fiykum.

Bantul, 29 Safar 1434 H

*previously posted here

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , | 2 Comments

Catatan Safari Dakwah Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq, 15 Februari 2012 : Haqiqotul Iman – 1

Bismillaahirrohmanirrohiim.

 

Di awal rangkaian safari da’wah Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq di Masjid Kampus UGM (sebeluimnya pada pagi hari di Masjid Pondok Pesantren Bin Baz), moderator yakni Ustadz Afifi Abdul Wadud memberikan beberapa taujih atau nasehat :

Berjumpa dengan ulama adalah sebuah nikmah dan keberadaan ulama adalah benteng dari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di umat”

Catatlah ilmu dengan tulisan, karena ilmu itu seperti barang buruan dan mengikatnya dengan mencatatnya.

 

Tak berapa lama setelah sholat ‘Isya ditunaikan,acara inti pun dimulai. Penerjemah pada kajian tersebut adalah Ustadz Arif yang merupakan Mudir Ma’had Bin Baz.

Adapun Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq yang bernama lengkap Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin â��Utsman Al Abbad Alu Badr adalah guru besar bidang ‘Aqidah di Universitas Islam Madinah.

lebih lanjut mengenai beliau bisa dibaca di sini

 

——————————————————————

 

Iman.

Iman itu adalah setinggi-tingginya tujuan, seagung-agungnya apa yang dicita-citakan.

Iman dengannya kita ini diciptakan dan dengannya kita akan memperoleh kebahagiaan dan surga, selamat dari siksaan-NYA dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hilangnya keimanan, berarti hilanglah semuanya.

Seseorang apabila tidak menegakkan iman, ia tidak akan mendapatkan keamanan, kebahagiaan dan cita-citanya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Quran Surat Al-An’am ayat 82)

 

Buah dari keimanan dan pengaruhnya tidak bisa dihitung. Seluruh kebaikan di dunia dan akhirat adalah buah dan hasil dari keimanan. Setiap musibah,tidaklah bisa dihilangkan dan sirna, melainkan itu merupakan buah keimanan.

 

Seorang mukmin cukuplah baginya jika menuntut kebaik-kebaikan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, baik di saat sehat maupun sakit, baik ketika safar (melakukan perjalanan) ataupun muqim (tinggal), mukmin selalu mencari dan dalam kebaikan-kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya” (Hadits Riwayat Muslim)

 

Pada dasarnya mukmin itu diuji,baik dengan kelapangan dan terkadang kemiskinan. Yang perlu diketahui, tatkala ALLOH memberi kelapangan kepada seseorang,bukan berarti (belum tentu) menjadi dalil/pertanda ALLOH ridho. Sebaliknya, jika ALLOH memberi kesempitan bukan berarti ALLOH murka kepadanya.

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Robb-ku telah memuliakanku”. Adapun bila Robb-nya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (Quran Surat Al-Fajr ayat 15-16)

 

Jika ada dua orang, yang satu apabila ia berkecukupan ia ridho/bersyukur. Dan seorang lainnya apabila kurang,ia bersabar. Manakah yang lebih utama?

Ibnul Qayyim bertanya kepada gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai perkara itu. Jawaban Syaikhul Islam, “Yang paling bertaqwa di antara keduanya.”

Lalu,Ibnul Qayyim bertanya lagi, “Jika sama, siapa?”

Syaikhul Islam menjawab, “Kedua-duanya sama dalam hal pahala.”

 

Seorang mukmin selalu dalam kebaikan, baik tatkala lapang/senang maupun tatkala sempit/susah. Tapi bila ia mendapatkan kelapangan/kesenangan ia tidak bersyukur serta jika sedih tidak bersabar, maka ia memperoleh kerugian pada masing-masing keadaannya.

 

Cukuplah bagi seorang mukmin dengan keutamaan, memperoleh keutamaan, memperoleh sebaik-baik perhiasan, seindah-indah pakaian,yakni keimanan, yang diberikan oleh ALLOH Ta’ala kepada orang beriman.

 

ALLOH Ta’ala menghiaskan keimanan pada hati kalian dan ALLOH menanamkan kebencian terhadap kekufuran.

 

Hakikat perhiasaan itu ada pada keimanan.

 

———————————-

 

InsyaaALLOH akan dilanjutkan.

 

 

Al faqiir,

Lantai Dasar UniRes UMY gedung U, 01 Rabi’ul Akhir 1433 H

 

 

 

referensi :

1. Untuk copy paste ayat Quran beserta arti

2. Tulisan Ustadz Ari Wahyudi tentang Menakjubkannya Seorang Mukmin

3. Catatan kajian Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq tentang Hadits-Hadits Seputar Keimanan

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan | Tags: , , , , , | 1 Comment

Ada yang janggal di lagu yang sangat familiar ketika bulan Ramadhan 1431 H itu..

Bismillahirrohmanirrohiim..

Saya mencoba menjelaskan apa yang saya tulis di tulisan saya sebelumnya (versi mobile)..

Potongan liriknya yang terletak di bagian awal lagu :

Demi cintamu ya Alloh pada Muhammad nabiMU, ampunilah dosaku, wujudkan harapanku..

Memang benar Nabi Muhammad shollalallohu ‘alaihi wasallam kekasih ALLOH dan tidak ada yang salah kalau ALLOH mencintai makhluqNYA.. Salah satu sifat ALLOH adalah mencintai makhluqNYA..

Yang janggal adalah kalimat awalnya..

Demi cintamu ya Alloh pada Muhammad nabiMU

Ada beberapa tulisan yang berkenaan tentang hal ini yang saya ambil dari beberapa buku :

1. Shalawat Nariyah

Lafalnya dalam bahasa Indonesia :

“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui.”

‘Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo’a.

Setiap muslim tidak boleh berdo’a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).

2. Ada bacaan shalawat lainnya yang hampir sama dengan potongan lirik itu..

a. “Ya Allah, curahkanlah keberkahan dan keselamatan atas Muhammad, penawar hati dan obatnya, penyehat badan dan penyembuhnya, cahaya mata dan sinarnya, juga atas keluarga-nya.”

b. “Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, sehingga Engkau menjadikan daripadanya (sifat) keesaan dan (sifat) terus menerus mengurus (makhluk).”
(karya seorang syaikh besar dari Suriah)

dan masih ada beberapa lagi shalawat yang intinya hampir sama..

3. Kehati-hatian dalam bersumpah..

Jundub bin Abdullah Radhiallahu’anhu berkata :

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

قال رجل : والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله : من ذا الذي يتألى علي أن لا أغفر لفلان ؟ إني قد غفرت له وأحبطت عملك ” رواه مسلم.

“Ada seorang laki-laki berkata : “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan, maka AllahSubhanahu wata’ala berfirman : “Siapa yang bersumpah mendahuluiKu, bahwa aku tidak mengampuni sifulan? sungguh Aku telah mengampuniNya dan Aku telah menghapuskan amalmu” (Hadits Riwayat Muslim).

Dan disebutkan dalam hadits riwayat Abi Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa orang yang bersumpah demikian itu adalah orang yang ahli ibadah. Abu Hurairah berkata : “Ia telah mengucapkan suatu ucapan yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

4. Larangan menjadikan ALLOH sebagai perantara kepada makhluqNYA..

Diriwayatkan dari Jubair bin Mut’im Radhiallahu’anhu bahwa ada seorang badui datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan mengatakan :

“Ya Rasulullah, orang-orang pada kehabisan tenaga, anak istri kelaparan, dan harta benda pada musnah, maka mintalah siraman hujan untuk kami kepada Rabbmu, sungguh kami menjadikan Allah sebagai perantara kepadamu, dan kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Allah”.

Maka Nabi bersabda :

:سبحان الله، سبحان الله “، فما زال يسبح حتى عرف ذلك في وجوه أصحابه، ثم قال

” ويحك ! أتدري ما الله ؟ إن شأن الله أعظم من ذلك، إنه لا يستشفع بالله على أحد ” وذكر الحديث. رواه أبو داود

Maha suci Allah, maha suci Allah” – beliau masih terus bertasbih sampai nampak pada wajah para sahabat (perasaan takut  karena kemarahan beliau), kemudian beliau bersabda : “Kasihanilah dirimu, tahukah kalian siapa Allah itu ? sungguh kedudukan Allah Subhanahu wata’ala itu jauh lebih Agung dari pada yang demikian itu, sesungguhnya tidak dibenarkan Allah dijadikan sebagai perantara kepada siapapun dari makhlukNya.” (Hadits Riwayat Abu Daud).

Kesimpulan :

Dalam potongan lirik itu mengandung semua hal yang saya kutip di atas..

1. Kehati-hatian dalam bersumpah

seperti banyak orang di masa sekarang yang dengan mudahnya bersumpah, baik itu atas nama ALLOH maupun atas nama makhluq yang sebenarnya bersumpah atas nama makhluq itu dilarang..

واحفظوا أيمانكم

Dan jagalah sumpahmu …” (QS. Al Maidah, 89).

2. Larangan menjadikan ALLOH sebagai perantara kepada makhluqNYA
yaa.. menurut pandangan saya lirik tersebut jelas memiliki sangkut-paut atau hubungan dengan poin ini..
Karena,mengapa meminta ampunan kepada ALLOH harus menggunakan sumpah dan sumpahnya itu
atas nama cinta ALLOH kepada RosulNYA.????

Semoga dari tulisan yang sederhana -dan hampir sebagian besarnya hasil kutipan langsung tanpa edit-an dari buku yang saya baca- ini dapat bermanfaat..
Karena ini masalah yang sangat besar..
Masalah ‘Aqidah..

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ‘Laa Ilaaha Illallah’dan cabang paling rendah adalah menyingkirkan kotoran dari jalan.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNYA, dan Muhammad adalah hamba dan utusanNYA, dan kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam serta ruh daripadaNya, dan (bersaksi pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan Neraka pun benar adanya maka Allah pasti memasukkannya ke dalam Surga, apapun amal yang diperbuatnya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu sedikitpun, niscaya Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.”
(HR. At-Tirmidzi dan Adh-Dhayya’, hadits hasan)

“Barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, niscaya akan masuk Surga. Dan barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) berbuat syirik kepada Allah, niscaya akan masuk Neraka.”
(HR. Muslim)

Semoga bermanfaat..

‘afwan karena tulisan ini sebagian besar kutipan langsung dari buku (
e-book)

Yang mau share,dipersilahkan..

Tafadhdhol..

Rama Rizana

Di lantai dasar asrama UMY, Kasihan, Bantul, 05 Dzulqo’idah 1431 H


Sumber :



1. Al-Firqotun Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
2. Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin ABdul Wahhab



NB :
ini baru masalah isi lirik lagunya lho.. belum lagi mengenai yang membuat dan menyanyikannya..
‘afwan kalau pemilihan kata saya membuat antum bingung..

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Sharing | Tags: , , , , | 8 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.