(RtMoS) Jagalah beliau, jalan menuju surga ilahi yang paling mudah

Bismillaahirrahmanirrahiim.

5 hari sebelum meninggalnya Papa –allahu yarhamuh– di kamar itu seorang kakek berusia 80 tahun menemui ajalnya. Sebenarnya bukan kali pertama di kamar yang berisi 8 pasien itu ada orang yang meninggal dunia saat kami menjaga dan merawat mendiang Papa, tetapi ini cukup membuat hati sedih.

Selama beliau (kakek tersebut) dirawat di rumah sakit, hanya istrinya tercinta yang juga sudah berusia lanjut yang setia menemani, membantu dan menjaga beliau. Padahal beliau memiliki anak yang berjumlah tak kurang dari 10 orang, juga tinggal di Pekanbaru. Jika diperhatikan seharusnya istri beliau butuh banyak istirahat, bahkan orang-orang -yang juga menjaga anggota keluarga mereka yang dirawat di ruangan tersebut- menilai kakek tersebut jauh lebih kelihatan sehat dibanding istri beliau.

Di malam menjelang ajal menjemput beliau beberapa sanak keluarga beliau datang menjenguk dan sebagian tidur di ruangan itu, tapi anak-anak beliau malah seolah tak ada rasa iba dengan kondisi ayahanda, mereka lebih memilih untuk menghabiskan malam dengan menonton laga piala dunia, padahal itu sudah masuk hari-hari awal bulan Ramadhan.

Sesaat setelah beliau menghembuskan nafas terakhir yang ada hanya tangis sesal yang meledak dari anak-anak beliau tersebut.

Mungkin benar perkataan bahwa kita baru merasa berharganya seseorang/sesuatu tatkala ia sudah tak ada lagi.

Maka, jika ada salah satu atau bahkan kedua orangtua kita yang masih hidup, jagalah dan berbaktilah kepada mereka. Mohonlah taufiq dan hidayah kepada Allah agar bisa menjaga salah satu jalan bisa masuk ke surga Allah Ta’ala tersebut.

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Orang tua adalah pertengahan pintu surga. Jika mau, engkau bisa menyia-nyiakannya. Jika tidak, maka jagalah untuk mendapat tersebut.

(Hadits Riwayat Tirmidzi no. 1900 dan Ibnu Majah no. 3663, shahih) [1]

Adapun bagi yang salah satu atau kedua orangtuanya telah dipanggil oleh Allah Ta’ala, yang bisa kita lakukan adalah mendo’akan ampunan untuk mereka, dan juga mohonlah taufiq dan hidayah kepada Allah Ta’ala agar bisa beramal shalih yang itu bisa menjadi pengobat rasa dahaga mereka di akhirat sana. Dan bukankah kita sering mendengar bahwa anak yang shalih adalah satu dari tiga hal yang bermanfaat setelah kematian menghampiri seseorang.

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”.

(Hadits Riwayat Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i) [2]

#RtMoS

Dhahran, Provinsi Timur Saudi Arabia, 12 Muharram 1436 H, yang kebetulan bertepatan dengan 4 bulan meninggal dunianya Papa allahu yarhamuh

[1] dari artikel http://remajaislam.com/411-mama-begitu-besar-perjuanganmu

[2] dari artikel http://almanhaj.or.id/content/2909/slash/0/ibadah-dan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit/

*ditulis pertama kali di https://www.facebook.com/notes/rama-rizana/rtmos-jagalah-beliau-jalan-menuju-surga-ilahi-yang-paling-mudah/10152344864746269

Categories: Kontemplasi | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: