(ALJTSA) Antara Amerika Serikat, Mesir, Korea Selatan dan Saudi Arabia

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Di tulisan ini saya kembali mencoba menuliskan kepingan-kepingan cerita yang ingin ditulis sejak setahun lebih yang lalu.

Di masa-masa menjelang lulus mendapatkan gelar sarjana, yang ada di benak saya adalah saya ingin melanjutkan studi. Prioritas utama tatkala itu ialah ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Di tahun kedua kuliah saya memang amat bermimpi untuk bisa studi ke sana, ke kampus Teknik terbaik di dunia, Massachussets Institute of Technology (MIT). Tak lama setelah mimpi itu terlintas saya coba untuk memulai mewujudkannya. Hal pertama yang dilakukan ialah iseng-iseng membuka website MIT, terutama di bagian dosen. (Mungkin) namanya mahasiswa baru yang ada di pikirannya ketika membahas lanjut studi ialah bagaimana cara mendapatkan beasiswanya. Alhasil ketika mengontak dosen-dosen di sana yang saya tanya cuma seputar bagaimana mendapatkan beasiswa di sana. Masih belum ada terpikirkan mengenai bagaimana kesesuaian minat riset, dan sebagainya, wong dulu saja topik riset yang bersliweran di benak cuma topik-topik penelitian sosial humaniora, sampai-sampai ketua jurusan tatkala itu mengatakan saya ini salah jurusan. *kayaknya sampai sekarang masih merasa begitu kadang-kadangšŸ˜€ :v

Karena yang ingin ditanya cuma bagaimana cara mendapatkan beasiswanya, ya jadinya semua dosen yang ada di tautan daftar dosen di MIT (+ saya kontak dosen University of Illinois at Urbana-Champaign) saya kirimkan semua e-mail dengan redaksi sama persis. Ya pastinya diganti nama dosennya di bagian pembukaan e-mail. Hehehe.

catatan terkait ini pernah ditulis diĀ https://www.facebook.com/notes/rama-rizana/long-journey-to-get-provisionally-approved/10151145619421269

Sembari mencoba mengumpulkan info sebanyak-banyaknya, tak hanya dengan mengontak dosen di MIT dan Illinois, saya juga mencoba mengontak orang Indonesia yang lulus dari sana. Beberapa sempat coba dikontak.

Negeri lain menghampiriku mencoba untuk memanggilku, salah satu negeri para Nabi, yakni Mesir. Ada cerita tersendiri mengenai negeri letak salah satu keajaiban dunia -Piramida- ini. Cerita itu terjadi khususnya saat masih sekolah SMA. Ntah mengapa ingin sekali bisa belajar ke sana, tapi sayangnya alasan utama ke sana supaya bisa ikut peran di salah satu film Indonesia yang nge-hits beberapa tahun yang lalu. Wahahaha, berusaha untuk menahan ketawa kalau mengingat beberapa ucapan saya ke teman sekelas SMA tentang keinginan saya ini. Keinginan saat SMA itu sempat berlanjut tatkala saya menemani ibu saya di suatu acara dan kebetulan ada orang Departemen Agama di Provinsi saya. Lewat diskusi dengan beliau ini saya tau beberapa hal tentang bagaimana studi ke sana, dan akhirnya keinginan itu memudar saat tau lebih baik mendaftar jika lulusan pondok pesantren. Setelah diingat-ingat lagi sekarang kenapa saya baru kepikiran tidak bicara kepada beliau bahwa alasan utama saya ingin ke Mesir bukan buat belajar agama, tapi untuk ikut syuting film. -___-”

Beberapa tahun setelahnya -ceritanya kembali ke bagian awal paragraf sebelumnya- saat keinginan masa SMA itu hadir di akhir tahun kedua kuliah S1. Alhamdulillaah saya memiliki senior MTs yang melanjutkan studi ke salah satu kampus agama terbaik di dunia yang letaknya ke salah satu negeri yang dialiri Sungai Nil itu. Alhasil, senior ini saya mintakan tolong -mungkin lebih tepatnya direpotkan- untuk mencari info sebanyak-banyaknya bagaimana cara studi teknik di sana. Beberapa pekan kemudian salah satu senior yang saya panuti sejak MTs ini memberikan info yang cukup banyak, seperti daftar kampus yang ada jurusan Teknik Sipil, bagaimana persyaratannya. Pesan beliau tatkala itu lebih kurang,

“Rama yakin mau kuliah ke Mesir? Mesir itu negeri perjuangan……” Keinginan itu ntah mengapa memudar, bukan karena bayangan beratnya perjuangan hidup di Mesir, tapi lebih karena belum menemukan hubungan kimia (baca : chemistry) studi teknik sipil di sana.

Dan tak lama kemudian perjuangan hebat oleh rakyat Mesir dimulai,……

Negeri berikutnya yang sempat mempunyai cerita mimpi setelah lulus S1 adalah Korea Selatan. Negeri yang dijuluki negeri ginseng ini baru menyapa saya saat saya sudah diterima di kampus tempat saya studi pascasarjana saat ini. Cerita awal hadirnya negeri ini di masa-masa penantian melanjutkan studi S2 ini sebenarnya tak pernah direncanakan. Jadi di suatu pagi saya berniat untuk menemui ketua LPPI UMY -saat itu- meminta tandatangan beliau untuk sebuah acara kajian Islam yang mau diadakan di masjid kampus. Nah setelah menemui beliau itu (atau malah sebelumnya yaa??) saya bertemu salah seorang yang paling berpengaruh di studi S1 saya. (Segan untuk menyebutkan nama beliau, hihihihi)

Beliau bertanya terlebih dahulu ada apa saya di ruangan itu (ruangan pengajaran), saya jawablah tujuan saya ke sana buat bertemu ketua LPPI. Selanjutnya beliau kembali bertanya (sepertinya kali kedua) bagaimana jadinya rencana studi S2 saya dengan redaksi lebih kurang,

Gimana Ma, jadi berangkat?

Masih proses pak. :D”

Kuliah ke Korea Selatan aja, prof di sana lagi nyari mahasiswa S2.

Lho lho, kontan saja saya mendadak galau, gak tau juga apa sebab sebenarnya kenapa saya langsung galau saat itu, tapi ya galau saja. Ahahaha, mulai ndak jaleh.

Saya jawab dengan rasa bingung juga saat itu,

hmmm,wah mau pak, tapi kan saya udah keterima di Saudi, tinggal nunggu calling visa saja.

Ya terserah, ini prof nya butuh mahasiswa segera, kalau iya langsung diproses, September berangkat.”

Nah, gimana gak makin galau saya saat itu, wahahahaha.

errrrrrrrrrr……

gak usah mikir lama-lama, kalau ndak saya cari orang lain saja.

eh eh iya pak, saya pikirkan dulu ya, Pak…

ok kalau iya langsung kirimkan CVmu ke e-mail saya

iya iya,Pak….

Baru keinget kenapa saya mendadak galau saat itu, karena sebelumnya saya pernah diskusi dengan beliau soal iklim studi di Asia Timur saat saya ingin mendaftar summer course ke Hong Kong.

Saat-saat setelah itu ya yang ada perasaan galau. Ya tentunya tidak berlarut-larut dengan perasaan itu saja, saya tetap mengusahakan agar diri ini bisa yakin ke salah satunya, antara Korea Selatan dan Saudi Arabia. Di antara yang saya lakukan, mencari di FB siapa yang kuliah di Korea terutama di kampus tersebut, meminta pendapat ke beberapa Ustadz, dan tentunya bertanya kepada kedua orangtua.

Semakin galau saat merasa 50:50 di antara keduanya. Di sisi berat ke Korea saya tertarik karena ini tawaran dari dosen pembimbing Tugas Akhir, tapi yang melemahkan keinginan itu saat bidang yang akan saya dalami di sana adalah bidang Geoteknik yang cukup kurang dasar keilmuan saya, ya karena dua-tiga semester terakhir studi S1 lebih fokus ke transportasi. (*sakjane semester iki sinau Geoteknik meneh -_____-“). Adapun di sisi yang lebih berat ke Saudi tentunya itu negeri impiannya setiap orang Muslim, minimal sekali dalam hidupnya pasti pengen ke sana untuk menggenapkan rukun Islam ke-5, tapi di sisi lain penantian untuk berangkat ke sana juga penuh onak duri, terutama duri ketidakpastian tingkat tinggi (baca PHP banget, xixixixixi).

Sembari masa mempertimbangkan tawaran tersebut, rupanya beliau juga menawarkan ke beberapa mahasiswa adek tingkat saya. Nah rupanya ke yang lain beliau mintakan nilai TOEFL, lah saya jadi bertanya-tanya kenapa saya tidak dimintakan dan jadinya saya semakin galau karena kePDan -__- =))

Sempat berkonsultasi ke beberapa dosen lainnya, ya hingga akhirnya saya putuskan untuk membulatkan niat dan tekad untuk melanjutkan proses untuk menunggu kepastian si dia (baca negeri penuh berkah ini), meski qadarallahu aral rintangan lainnya juga tak sedikit menghadang di masa penantian tersebut. Masih ada beberapa rencana tulisan terkait hal yang satu ini yang harus saya ketikkan.

Ya negeri penuh berkah ini sudah menjadi tempat tinggalku semenjak pekan ketiga Januari 2014 dan juga tempatku menimba ilmu.

Menjelang pergantian hari di kalender masehi, di sela-sela mencoba memahami bagaimana mengerjakan tugas salah satu mata kuliah, di kamar yang nomor kamarnya sama dengan kamar pertama di asrama kampus UMY, Dhahran, Provinsi Timur Kerajaan Saudi Arabia, 3 Dzulhijjah 1435 H

*kalau ada terbersit keinginan untuk menuliskan hal ini lagi, ya bolehlah, soalnya tentunya masih ada cerita yang bisa dituliskan, karena ini masa-masa penantian penuh kenangan, terutama soal Korea Selatan, negeri yang budayanya beberapa tahun terakhir mencoba merasuk ke negeri tercinta —____—

**ALJTSA adalah singkatan dari A Long Journey to Saudi Arabia, sekuel tulisan saya tentang perjalanan hidup hingga tiba di Saudi Arabia, kebanyakan ceritanya (nanti) dituliskan setelah tiba di Saudi Arabia, karena sempat “mutung” catatan FB yang mau diterbitkan lupa kesimpan karena salah ngeklik, jadinya semakin besar godaan untuk menunda menuliskannya. Makanya ini memaksakan diri. Seriously, ntar baru kerasa manfaat mencatatkan rekam jejak perjalanan setelah beberapa waktu, misalnya saat membongkar-bongkar tulisan di FB baru teringat. hehehešŸ˜€

Categories: Journey, Master | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: