(Transkrip Kajian-Bagian 1) Sahabat Dihujat, Sahabat Dibela

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Pembahasan kita kali ini adalah pembelaan terhadap sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, generasi terbaik yang pernah ada di alam semesta ini, yang telah berjuang mengorbankan harta dan jiwa raga mereka demi menyebarkan ajaran guru mereka, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidaklah kenikmatan yang kita rasakan ini, mengenal Islam, mengenal sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, terlepaskan dari kesyirikan, terlepaskan dari kesesatan, kecuali merupakan salah satu dari jasa dan perjuangan para shahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum. Bahkan umat Islam tidak akan bisa kembali jaya, kecuali jika mereka meniti kembali jejak-jejak langkah para shahabat. Sebagaimana perkataan al-Imam Malik rahimahullah,

Bahwasanya umat ini tidak akan menjadi baik, kecuali dengan perkara yang dengannya menjadi baik pula generasi awal.

Barangsiapa yang ingin umat Islam atau jika umat ini ingin kembali jaya, maka dia harus menempuh apa yang telah ditempuh oleh para shahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum.

Terlalu banyak rekomendasi, baik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maupun dari Nabishallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para shahabat. Dalam ayat Al-Quran, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuji para shahabat seperti firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Quran Surat Ali Imran ayat 110)

Khithob ini pertama kali ditujukan kepada para shahabat. Tatkala ayat ini turun yang pertama kali ditujukan adalah kepada para shahabat.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ

Kalian adalah umat terbaik.

Kemudian, ayat-ayat yang lain seperti Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

…..وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, Allah ridha kepada mereka, dan mereka ridha kepada Allah…..” (Quran Surat At-Taubah ayat 100)

Di sini ada tazkiyah bahwasanya para shahabat dari kaum Muhajirin dan Anshar, dan jumlah mereka ribuan, mereka telah diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Adapun orang-orang setelah mereka, maka di-taqyid oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidaklah orang-orang setelah para shahabat diridhai kecuali meniti jalannya para shahabat. Oleh karenanya Allah Ta’ala mengatakan:

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

“….Demikian juga orang-orang yang mengikuti para shahabat dengan baik…”,

baru mereka akan diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Adapun para shahabat, kaum Muhajirin dan Anshar, diridhai Allah secara mutlak.

Demikian juga dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

Sesungguhnya Allah telah ridha kepada orang-orang mukminin yang membai’at engkau di bawah sebuah pohon,…..

yaitu para shahabat tatkala membai’at Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala itu jumlah mereka sekitar 1300 orang. Allah tidak hanya mentazkiyah zhahir mereka, bahkan Allah mentazkiyah, merekomendasi isi hati mereka.

 فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ

Kata Allah: “…..Allah mengetahui isi hati mereka….” (Quran Surat Fath ayat 18)

Bagaimana tidak, bagaimana kita heran, para shahabat yang begitu direkomendasi AllahSubhanahu Wa Ta’ala, tidak perlu heran, karena guru mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang ngajari mereka secara langsung, bukan hanya pengajian seperti kita, tidak, bahkan bersama-sama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Diajarkan dengan perkataan, dengan praktek, berjihad bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, wajar jika kemudian kita baca sejarah para shahabat seperti dongeng. Kenapa? Karena guru mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita mengetahui bahwasanya murid sangat terpengaruh dengan gurunya.
Demikian juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian setelahnya dan setelahnya.”

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’ut tabi’in). (Hadits mutawatir, Bukhari, no. 2652, 3651, 6429; Muslim, no. 2533; dan lainnya).

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang 73 golongan:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Bahwasanya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di neraka, kecuali satu.

Dalam riwayat dikatakan,

وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Siapa mereka yang selamat itu wahai Rasulullah?

Yaitu orang-orang yang berada di atas jalan yang aku dan para shahabatku menempuhnya.

(Hadits Riwayat Tirmidzi, dan Al Hakim)

Demikian juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat banyak perselisihan (perselisihan dalam masalah agama), maka wajib bagi kalian untuk berpegangteguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku.

Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (ia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, ia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah, dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat. (H.R Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; ad-Darimi; Ahmad; dan lainnya dari al-‘Irbadh bin Sariyah).

Oleh karenanya para ulama menyebutkan bahwasanya adalah para shahabat, bahwasanya termulianya para shahabat telah disepakati oleh seluruh kaum Muslimin dengan berbagai macam firqah yang ada, seluruhnya mengakui keutamaan para shahabat, kecuali firqah Syi’ah Rafidhah, yang kemudian mencela para shahabat, bahkan mengkafirkan para shahabat, dan mereka tidak kecualikan dari  pengkafiran para shahabat, kecuali hanya beberapa orang shahabat, ada yang mengatakan tiga orang, ada yang mengatakan empat orang, ada yang mengatakan delapan orang, hanya sedikit, sisanya kafir semua kata mereka. Para shahabat murtad setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia. Dan banyak nukilan-nukilan dari buku-buku mereka. Ahlussunnah waljama’ah tatkala menyebutkan kesesatan-kesesatan Rafidhah, mereka tidak berbicara dengan omongan kosong, tetapi diambil dari buku-buku ar-Rafidhah sendiri, dari buku-buku orang Syi’ah. Berbeda dengan orang-orang Syi’ah yang sering berdusta atas nama Ahlussunnah, melancarkan dusta, menuduh dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar. Akan tetapi Ahlussunnah tatkala menyebutkan ‘aqidah Rafidhah maka diambil dari buku-buku mereka. Dan  sekarang di zaman modern sekarang ini, dulu mereka masih mudah bertaqiyyah, atau mereka masih melaksanakan ‘aqidah taqiyyah, menutup diri. Akan tetapi sekarang mereka sudah tidak perlu taqiyyah, mereka merasa sudah hebat dan mereka merasa sudah kuat, sehingga mereka terang-terangan dalam mengkafirkan para shahabat, terang-terangan dalam mencela para shahabat, terang-terangan dalam mengkafirkan Abu Bakar, Umar dan ‘Aisyah. Sekarang mereka tidak malu lagi untuk mengkafirkan. Mereka dahulu tatkala merasa sedikit, mereka diam-diam, terkadang berdusta mengatakan, “Oh tidak kami mencintai para shahabat.

Sekarang bukan zamannya lagi. Apalagi dengan kemajuan teknologi. Adanya internet, adanya YouTube, dan lain sebagainya. Terlalu banyak bukti keberanian mereka sekarang untuk mencaci-maki dan mengkafirkan para shahabat. Dan apa yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah adalah perkara yang sangat disukai oleh orang-orang orientalis atau orang-orang kafir yang mereka tidak ingin umat Islam  jaya sebagaimana dahulu. Kenapa? Kalau umat Islam ingin jaya, dia harus kembali kepada jalannya para shahabat, sementara orang-orang Syi’ah memutuskan, menggambarkan kepada umat Islam bahwa generasi pertama adalah geenerasi terburuk.

Allah mengatakan, “kuntum khoiru ummah”, kalian adalah generasi terbaik, kata mereka “Syarrul ummah”, generasi terburuk. Rasulullah mengatakan, “Abu Bakar fil jannah, Umar fil jannah, Utsman fil jannah.” kata mereka “Abu Bakar di neraka, Umar di neraka, Utsman di neraka.” Inilah kerjaannya orang-orang Syi’ah yang saya rasa adalah kejahatan mereka dan bahaya mereka lebih besar daripada bahayanya orang-orang yang jelas-jelas kekufuran mereka. Apalagi mereka bertopeng Islam.

Kita tidak sedang membahas ‘aqidah mereka yang carut marut, ‘aqidah mereka yang meragukan keabsahan Al-Quran, ‘aqidah yang tidak masuk akal tentang raja’ dan lainnya, tentang bada’, kita tidak membicarakan tentang ‘aqidah mereka saat ini, waktunya tidak cukup, tapi kita akan membicarakan tentang bagaimana celaan-celaan mereka terhadap para shahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum.

Secara umum ‘aqidah yang dimiliki Syi’ah tentang kafirnya para shahabat, murtadnya para shahabat, tentunya melazimkan perkara-perkara buruk, di antaranya melazimkan akan atau menimbulkan keraguan akan benarnya agama Islam, bagaimana seseorang tidak ragu, tatkala mengetahui Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam utusan Allah yang telah mendidik para shahabat, berdakwah di jalan Allah sekitar 23 tahun, kemudian hasilnya nihil. Seluruhnya kafir, kecuali, 4 orang atau 5 orang atau 8 orang. Ini agama seperti apa, hasilnya nihil, tidak ada hasilnya, seluruhnya murtad. Orang akan ragu akan agama Islam. Kemudian kalau para shahabat murtad dan kafir, Al-Quran juga tidak beres kalau begitu. Kemudian kenapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuji para shahabat? Allah sudah tau. Sekarang ada dua kemungkinan, apakah Allah tau atau tidak tau bahwasanya para shahabat akan murtad. Kalau Allah tidak tau para shahabat akan murtad -sehingga memuji para shahabat dengan  ayat-ayat yang dibaca sampai hari kiamat kelak-, kemungkinan pertama adalah Allah tidak tau kalau para shahabat akan murtad dan ini adalah kekufuran, ini seakan-akan Allah tidak tau apa yang terjadi di masa depan. Lalu dikatakan Allah tau bahwa para shahabat akan murtad, lantas Allah tetap memuji para shahabat dengan pujian yang luar biasa, diabadikan dalam Al-Quran, maka ini benar-benar penyesatan kepada hamba-hamba Allah. Bagaimana termaktub dalam Al-Quran pujian-pujian yang sangat hebat terhadap umat yang paling buruk.

Karenanya ikhwani fillah ‘azzani wa iyyakum, apa yang dilakukan oleh orang Syi’ah tatkala mengkafirkan para shahabat, sesungguhnya adalah pencelaan terhadap Al-Quran dan pencelaan terhadap Rasulullah sebagai sang guru, dan pencelaan juga terhadap AllahSubhanahu Wa Ta’ala yang telah merekomendasi para shahabat.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyebutkan beberapa perkataan orang-orang Syi’ah terhadap sahabat-sahabat yang mulia, seperti Abu Bakar radhiyallahu ta’ala ‘anhu, kemudian Umar bin Khattab radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dan Utsman bin Affanradhiyallahu ta’ala ‘anhu yang saya ambil dari buku-buku mereka, dengan sumber dari buku-buku mereka. Sebelumnya saya ingin menyampaikan sebuah do’a, yang termasuk do’a paling agung, yang memiliki pahala yang besar jika dibaca oleh orang-orang Syi’ah yang dikenal dengan do’a Somanay Quraisy, yaitu do’a tentang dua berhalanya orang-orang Quraisy. Do’a ini barangsiapa yang membaca akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa, sampai disebutkan bahwasanya Ali bin Abi Thalib dalam shalat-shalatnya senantiasa qunut dengan membaca do’a ini, karena do’a ini pahalanya sangat besar. Dikatakan oleh mereka dalam kitab Bihaarul Anwar karangannya Al-Majlisi, dia mengatakan, bahwasanya:

Barangsiapa yang membaca do’a ini, maka dia seperti orang yang ikut serta Nabi dalam jihadnya, dalam perang Badar, dalam perang Uhud, dalam perang Hunain, bahkan dia seperti orang yang melemparkan anak panah sebanyak 1 juta anak panah.

Subhanallah. Ini bagaimana, betapa besar pahala ikut perang Badar, yang baca do’a ini seakan-akan ikut Nabi dalam perang Badar, perang Uhud, perang Hunain dan melempar panahan sebanyak 1 juta anak panah.

Bahkan disebutkan dalam riwayat lain,

Barangsiapa yang membacanya di pagi hari, maka dosa-dosanya akan terhapus sampai malam hari. Barangsiapa yang membacanya di malam hari, maka dosa-dosanya terhapus sampai pagi hari.

Apa isi do’a itu? Do’anya luar biasa, do’anya

Ya Allah laknatlah dua berhala Quraisy (yaitu Abu Bakar dan Umar –pen), kedua syaitannya, kedua Thogutnya, dan kedua dustanya, dan laknatlah kedua putri mereka  (yaitu Aisyah dan Hafshoh-pen),……

Karena mereka mengkafirkan Aisyah dan Hafshah, ‘Aisyah anaknya Abu Bakar dan Hafshah anaknya Umar, seluruhnya dilaknat. Ini dari buku-buku mereka, saya ambil langsung dari Bihaarul Anwar, yang jadi marja’, yang jadi sumber yang utama bagi mereka

,…………mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) yang telah menyelisihi perintah-Mu dan mengingkari wahyu-Mu, dan mengingkari anugrah-Mu, bermaksi’at kepada Rasul-Mu, telah membalikkan agama-Mu, telah menyimpangkan kitab-Mu,dan membuang hukum-hukum-Mu, membatalkan kewajiban-kewajiban-Mu, telah berbuat ilhad (penyimpangan) pada ayat-ayat-Mu, mereka berdua telah memusuhi wali-wali-Mu, menolong musuh-musuh-Mu, menghancurkan negeri-negeri-Mu, mereka berdua telah merusak hamba-hamba-Mu. …….

Ini tuduhan terhadap Abu Bakar dan Umar, dan bahkan dalam do’a itu kata mereka, “Ya Allah laknatlah mereka berdua, dan laknatlah orang-orang yang menolong mereka berdo’a.

Di akhir do’a, kata mereka, “dan besarkanlah dosa mereka berdua dan buatlah mereka berdua kekal dalam neraka Saqor.”


Ya Allah laknatlah keduanya dan laknatlah para penolong mereka berdua, sungguh mereka berdua telah menghancurkan rumah kenabian (Ahlul Bait-pen), mereka berdua telah menutup pintu rumah kenabian, mereka berdua telah membasmi ahlul bait, dan membinasakan para penolong ahlul bait, mereka berdua telah membunuh anak-anak ahlul bait, telah mengosongkan mimbarnya (yaitu mimbar Nabi –pen) dari penerima washiatnya dan pewarisnya (yaitu Ali bin Abi Thalib tidak dijadikan khalifah-pen), mereka berdua telah menentang kenabiannya, dan telah berbuat kesyirikan kepada Rob mereka berdua, maka besarkanlah dosa-dosa mereka berdua, jadikanlah mereka berdua kekal dalam neraka Saqor….” (Bihaarul Anwaar 85/340)

Ini do’a yang sering dibaca oleh mereka, dan bahkan banyak ulama Syi’ah yang menjelaskan tentang keagungan do’a ini dalam banyak buku. Kenapa? Karena luar biasa pahalanya.

Pertama, sering dibaca oleh Ali bin Abi Thalib dalam qunut-qunutnya. Kedua pahalanya luar biasa. Bayangkan, barangsiapa yang membaca do’a ini seperti ikut perang Badar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ikut perang Uhud bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ikut perang Hunain bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan bukan cuma itu, seperti dia telah melemparkan panah dengan satu juta anak panah. Bayangkan mereka menanamkan kebencian yang luar biasa kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhuma yang merupakan dua shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia dan akhirat, bahkan Allah mentaqdirkan keduanya dikuburkan di samping kuburannya Nabishallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karenanya Imam Mahdi yang akan datang dari kalangan orang-orang Syi’ah, apa yang pertama akan dia lakukan tatkala dia muncul, Imam Mahdi tersebut, maka dia pergi menuju Madinah kemudian dia keluarkan jasad Abu Bakar dan Umar, kemudian dia gantungkan di pohon yang kering, tiba-tiba pohon tersebut menjadi basah, sehingga orang banyak yang terpedaya, maka seluruh yang mencintai sedikitpun, mencintai Abu Bakar, maka akan berkumpul dalam satu shaf, dan yang   membenci akan berkumpul di satu shaf, dia basmi orang-orang yang akan mencintai Abu Bakar. Jadi kalau antum bertemu Imam Mahdinya orang Syi’ah, antum bakalan dibasmi.

Ini Imam Mahdi yang sangat dicintai oleh mereka. Kalau Imam Mahdinya seperti ini, bagaimana anak buahnya. Ini membunuh Ahlussunnah sudah perkara yang sangat biasa. Sekarang tidak bisa kita sembunyikan. Kalau dulu mereka sembunyi-sembunyikan, sekarang Youtube, Internet semua membongkar kebusukan mereka. Karenanya yang jadi masalah terlalu banyak kaum Muslimin yang tidak paham akan ‘aqidah mereka, terpedaya dengan revolusi Iran, terpedaya dengan mungkin mereka bermusuhan, pengakuan mereka bermusuhan dengan Amerika atau bermusuhan dengan Israel, meskipun tidak ada kenyataannya, omong saja, terpedaya. Kita katakan kalau mereka bermusuhan Alhamdulillah, tapi bukan berarti menghalalkan dan membenarkan ‘aqidah mereka yang rusak. Bagaimana dengan saudara-saudara kita di Iran, Ahlussunnah yang dibasmi. Bagaimana dengan saudara-saudara kita di Iraq yang dibasmi. Bagaimana di Suriah. Sementara mereka orang-orang Syi’ah yang tinggal di Saudi dimuamalahi dengan baik. Kata mereka tinggal di markasnya Wahabi. Saya tinggal lama di Saudi 12 tahun, mereka tidak dizhalimi, mereka pergi sekolah tetap gratis, digaji oleh Pemerintah Saudi. Mereka ke rumah sakit gratis, sebagaimana penduduk Saudi lainnya. Mereka juga kerja di perusahaan-perusahaan. Kalau mereka tidak diletakkan pada posisi pemerintahan wajar saja, tapi tidak dizhalimi, tidak dibasmi, tidak dibunuh. Adapun coba lihat bagaimana Ahlussunnah di Iran, Ahlussunnah di Iraq, Ahlussunnah di Suriah, apa yang mereka lakukan. Kita tidak usah berbicara omong kosong, kita berbicara dengan kenyataan yang ada. Sejarah mereka yang berdarah sejak dahulu sampai sekarang ini. Tetapi masih saja ada orang yang terperdaya.

Ya Ikhwan, ‘Aqidah itu bisa melakukan hal-hal yang aneh. Orang kalau sudah memiliki keyakinan bisa melakukan hal-hal yang aneh. Orang kalau sudah punya keyakinan, nekad bunuh diri. Kenapa? Keyakinannya yang mengantarkannya demikian. Sekarang dia mengatakan Abu Bakar dan Umar adalah syaithan, adalah thagut, sementara kaum Muslimin Ahlussunnah mencintai Abu Bakar dan Umar. Bagaimana kira-kira keyakinan mereka terhadap pecinta Abu Bakar dan Umar. Do’a mereka, “Laknatlah mereka berdua dan laknatlah para penolong Abu Bakar dan Umar.

Berbcara tentang orang-orang Syi’ah bagaimana ‘aqidah mereka tentang para shahabat, terlalu banyak. Ini sekadar sedikit atau khulashah, kesimpulan ‘aqidah mereka terhadap para shahabat.

————————————————————–

-InsyaaAllah berlanjut-

di menit ke 20

Dhahran, Asy-Syarqiyyah, Saudi Arabia, 15 Dzulqa’dah 1435 H

transkrip dari kajian Ustadz Firanda Andirja –hafizhahullah ta’ala– dengan judul “Sahabat Dihujat, Sahabat Dibela” di Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Masjid KH. Ahmad Dahlan), Jum’at, 7 Juni 2013

link video : http://www.youtube.com/watch?v=iQMjwJVRG9k

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan | Tags: | 1 Comment

Post navigation

One thought on “(Transkrip Kajian-Bagian 1) Sahabat Dihujat, Sahabat Dibela

  1. Pingback: (Transkrip Kajian-Bagian 2) Sahabat Dihujat, Sahabat Dibela | Menjemput Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: