Pelajaran-Pelajaran dari Kisah Abu Bakar ash-Shiddiq (Bag. 1)

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah sosok suritauladan yang agung setelah Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupannya penuh dengan perjuangan,pengorbanan,akhlaq mulia, dakwah dan tanggungjawab terhadap keluarga. Kehidupannya merupakan pelajaran tersendiri bagi setiap muslim yang ingin meneladanisalafush shalih, para pendahulu-pendahulu kita yg shalih.

Abu Bakar ash-Shiddiq itulah nama yang sering kita kenal. Tapi nama beliau yang sesungguhnya adalah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al Qurasyi At Taimi. Ini nama dan nasab garis keturunannya. Nasab, garis keturunan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bertemu dengan nasab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di kakek yang ke 6 yakni Murrah bin Ka’ab.

Lalu beliau diberi kun-yahkun-yah “Abu Bakrin”, atau “Abu Bakr”. Kun-yah itu adalah gelar yang didahului dengan kalimat “Abu” atau “Ummu”. Bisa diambil dari nama anak atau nama lainnya. Biasa digunakan oleh Rasulullah dan para shahabat serta ulama sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diberi kun-yah. Panggilan pakaikun-yah itu penghormatan.

Nah, Abu Bakar ash-Shiddiq digelari Abu Bakr bukanlah dari nama anaknya. Kalimat Bakr diambil dari Bakr yaitu unta yang muda. Kenapa Abu Bakr diberi gelar seperti itu?

Karena orang Arab memberi nama tokoh atau pimpinan satu suku itu dengan gelar “bakr” atau unta yang kuat, muda, perkasa. Nah, Abu Bakr adalah seorang yang ditokohkan, dihormati, salah seorang pemimpin sukunya At-Taimi Al Qurasyi.

Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu juga digelari atau diberi gelar lainnya. Gelar itu ada yang Allah Ta’ala memberinya gelar dan ada juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberinya gelar.Subhanallah. Bagaimana mulia dan agungnya seseorang yang menggelarinya adalah Allah Ta’ala melalui ayat-ayatnya. Ini bukan hanya sekadar gelar, tapi juga adalah tazkiyah, kesaksian pengakuan akan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di antara gelar Abu Bakar ash-Shiddiq :

Pertama, Al-‘Atiq

Al-‘Atiq artinya orang yang dibebaskan dari api neraka

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberinya laqab atau gelar ini. Sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar “Engkau adalah ‘atiqullah (orang yg dibebaskan Allah dari api neraka).”

Dalam riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata (yang artinya), “Suatu ketika, Abu Bakr masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya, ‘Bergembiralah engkau wahai Abu Bakr, engkau ialah orang yang dibebaskan oleh Allah dari api neraka.”

Abu Bakar masih berjalan di muka bumi, tapi sudah dijamin oleh Allah di atas langit yang ketujuh sana bahwa dia terbebas dari api neraka. Ini jaminan dari Allah, berarti dia sudah dijamin masuk surga. Allahu akbar. Semenjak hari itu, ia diberi gelar ‘Atiq atau ‘Atiqullah.

Tentu gelar ini tidak didapat begitu saja oleh Abu Bakar. Gelar itu tentu dia dapat dengan perjuangan, pengorbanan, bagaimana tidak dia mendapat kedudukan yg tinggi, dijamin oleh Allah dibebaskan dari api neraka, dia belum wafat. dia lah yang mengorbankan segala yg ia miliki untuk menegakkan agama Allah. Dia orang yang pertama dakwah di jalan Allah setelah Rasulullah, dia pula orang yg pertama disiksa, disakiti di jalan Allah. Oleh karena itu dia mendapatkan kedudukan yg layak. Seseorang mendapatkan kedudukan sesuai yg jerih payah dan kerja keras dia.

Gelar kedua yakni Ash-ShiddiqAbu Bakar ash-Shiddiq, ini gelar yang paling terkenal. Rasulullah memberinya gelar sebagaimana di dalam hadits Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Suatu hari Rasulullah mendaki gunung Uhud, bersama beliau ada Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman. Tiba-tiba gunung tersebut bergetar seperti gempa. Maka Rasulullah berkata kepada gunung uhud “Tenanglah/diamlah wahai gunung Uhud sesungguhnya yg sedang berada di atasmu sekarang adalah seorang nabi, seorang shiddiq dan dua orang syahid.”

Shiddiq di sini maksudnya adalah Abu Bakar,dan dua orang syahid maksudnya adalah ‘Umar dan ‘Utsman. Karena ‘Umar itu wafat karena dibunuh, ditikam oleh Abu Lu’lu’ al-Majusi ketika sedang shalat shubuh. Kematian atau meninggalnya ‘Umar ibn al-Khattab sampai hari ini dijadikan orang Iran sebagai hari raya bergembira krn kematian umar. Orang syi’ah sangat membenci ‘Umar, padahal ‘Umar dikatakan oleh Rasullah shallalahu ‘alaihi wasallam sebagai syahid, hadits shahih riwayat Bukhari. Syahid jaminannya surga, bahkan mati syahid itu adalah jalan pintas menuju surga. Begitu juga ‘Utsman yg dituduh oleh sebagian orang sebagai pemimpin yang KKN. Sebagian celaan-celaan orang. Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menjamin dia sebagai seorang syahid yang dijamin surga. Maka sungguh merugi yang tidak mengenal kedudukan para sahabat nabi karena mencintai sahabat nabi adalah tanda keimanan, salah satu tanda mencintainya adalah mengenal kedudukan mereka, mengetahui posisinya,derajatnya di sisi Allah dan Rasulnya. Jadi, kedudukan paling tinggi di sisi Allah adalah Nabi dan Para rasul, setelah itu ash-Shiddiq, setelah itu syuhada’ dan baru setelah itu orang-orang shaleh.

Karena itu Allah menjelaskan dalam Quran Surat An-Nisa’ ayat 69 :

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” 

Ash-shiddiq itu adalah kedudukan yang tertinggi, oleh karena itu Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah manusia paling mulia setelah para Nabi dan para Rasulullah

Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu digelari ash-Shiddiq karena beliau banyak membenarkan, shiddiq artinya banyak membenarkan, membenarkan Rasulullah, apa saja yg rasulullah ucapkan, ia benarkan. Bagi dia,motto dia adalah, “Kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar sudah mengatakannya,pasti benar. Kalau Rasulullah mengucapkannya, pasti benar.” Itu saja. Orang lain mungkin berpikir, menimbang perkataan nabi, mengukur perkataan nabi. Tetapi tidak bagi Abu Bakar ash-Shiddiq. Kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengatakannya pasti benar.

Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan dalam kisah Isra’ dan Mi’raj. Tatkala Nabi di-isra’kan dari Makkah ke Masjidil Aqsha, keesokan harinya manusia/kaum musyrikin sibuk memperbincangkannya seolah mereka tidak percaya, ada segelintir orang yang murtad seketika itu,seolah-olah tidak percaya.

Masa’ dalam satu malam, orang menempuhnya dalam sebulan perjalanan, Rasulullah mengaku pergi ke Masjidil Aqsha hanya dalam satu malam, naik ke langit ketujuh, shubuh sudah balik. Di zaman sekarang yang sudah canggih katanya orang bisa berwisata pergi ke luar angkasa, tidak ada yg percaya orang sampai ke langit,apalagi sampai ke langit ketujuh.

Orang-orang yang murtad itu padahal dulu beriman keapada percaya kepada Nabi, tapi ketika peristiwa Isra’ menjadi filter, penyaring, siapa yg betul-betul beriman, dan keimanannya di tepi jurang, yang rapuh. maka datanglah orang kuffar Quraisy menemui Abu Bakar seolaholah mereka dapat senjata untuk mengembalikan Abu Bakar agar mendustai temannya,yakni Nabi Muhammad. Mereka berkata kepada Abu Bakar,”Wahai Abu Bakar,bagaimana menurutmu, temanmu itu Muhammad itu, mengaku bahwa dia telah diperjalankan tadi malam ke Baitil Maqdis, apakah engkau percaya,lihat omongannya.” Apa tanggapan dan sikap Abu Bakar? Sikap seorang mukmin, pertama dia tasabbut tanya dulu,apa benar Nabi mengatakannya, Bisa jadi mereka berdusta atas nama nabi. Apa kata Abu Bakar? “Apakah dia benar telah mengatakannya?

Ini berharga, orang bisa jadi menyampaikan kepada kita hadits nabi,tapi apa benar Nabi mengatakannya, dari mana dia dapat? Apa buktinya? apakah sudah diakui oleh para ulama itu hadits Nabi ataukah hadits palsu. Ini pelajaran berharga bagi kita seorang mu’min harus teliti terhadap segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah. Beliau bertanya,”Apakah beliau sungguh2 telah mengatakannya?” Mereka menjawab, “Ya benar,Muhammad telah mengatakannya.

Jawab Abu Bakar,”Kalau sudah jelas shahih hadits….”

Pelajaran yang kedua. Yang pertama kita teliti, tanya dengan benar. Yang kedua bagaimana sikap kita kalau hadits itu telah shahih, apakah (sikap kita) “Nanti dulu,” “Kita tunggu dulu”, “Kita adu hadits ini dengan perkataan guru kita.” Siapa guru kita sehingga perkataannya digunakan sebagai timbangan hadits-hadits,sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak patut dan tidak pantas. Lihat, kalau sudah jelas hadits shahih, sudah jelas benar, apa kata Abu Bakar ash-Shiddiq? “Kalau memang benar, beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengatakan hal itu,bahwa dia telah di-isra’kan dari Makkah ke Baitul Maqdis dalam satu malam, kembali lagi, sungguh beliau telah benar.” Ini dia,kita benarkan. Kita terima hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika telah jelas shahih dan benar. Menolak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,menyelisihinya akan menimbulkan dua dampak yg buruk. Apa kata Allah? “Maka hendaklah takut orang-orang yang menyelisihi/menentang perintah-perintah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa mereka akan ditimpa oleh fitnah…..

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Allah itu takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63)

Fitnah artinya tersesat dari jalan yang lurus, fitnah hatinya akan berpaling dari jalan yang haq. Fitnah, hatinya akan tertutup dan terkunci. Kenapa? Karena Allah berfirman:

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (Quran Surat Ash-Shaff ayat 5)

Fitnah berupa kekacauan, perpecahan dan perselisihan. Apa yang menyebabkan umat Islam berpecah belah? Berselisih? Karena mereka menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meninggalkan hadits-hadits Rasulullah, lalu mengambil perkataan kiyai,guru,tuanku,khalifah,ustadz, sebagai kata putus,bukannya hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga umat hidup di tengah fitnah, kekacauan, kesesatan. Lihat banyak sekali bentuk kesesatan, penyimpangan, aliran yang beraneka ragam di tengah umat akibat meninggalkan hadits-hadits,petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lihat perpecahan satu dan lainnya karena tidak berpegang teguh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini dampak buruk yang pertama dari meninggalkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’

Yang kedua,  أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“….atau mereka ditimpa oleh azab yang pedih.”

Musibah-musibah,petaka-petaka, yang ditimpakan oleh Allah, gempa, kebakaran, pembunuhan, semuanya itu disebabkan karena kaum muslimin tidak berpegangteguh. Itu azab sekaligus peringatan.

Berkata orang-orang kuffar Quraisy pada Abu Bakar ketika mendengar Abu Bakar berkata kalau memang benar dia mengatakannya, berarti dia benar. Apa kata mereka (kaum kuffar)?  “Abu Bakar,apakah engkau percaya kepada Muhammad? Dia mengatakan dia pergi Isra’ ke Baitil Maqdis tadi malam lalu kembali lagi sebelum shubuh.” (Dijawab Abu Bakar),”Ya, saya percaya.

Apa yang membuat kita ragu kepada hadits Rasulullah?

Apa kata Abu Bakar? “Itu baru hal sepele, saya mempercayai Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu dalam perkara-perkara yang lebih besar daripada itu. Saya percaya kepada dia terhadap berita-berita dari langit yang dia sampaikan setiap pagi dan petang. Saya percaya wahyu yang turun kepada dia. Pagi sudah turun wahyu, kadang petang ada lagi wahyu. Saya percaya dengan hal itu. Terus wahyu itu turun. Apalagi hanya sekadar ke Baitul Maqdis.

Lihat, ini ‘aqidah,keyakinan yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Walaupun seluruh dunia, walaupun satu kampungnya tidak percaya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. tetapi dia pegang teguh keimanan tadi. Wujud nyata dari syahadat “Asyhadu anna muhammadar rasulullah”. Berarti kita harus siap menerima setiap berita, ucapan apa saja yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itulah Abu Bakar ash-Shiddiq dinamakan ash-Shiddiq. Dan kisah yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah tadi diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim. Beliau menshahihkannya di dalam kitab al-Mustadrak kemudian disetujui oleh Imam adz-Dzahabi, diikrarkan oleh Imam adz-Dzahabi.

…………………………..

(masih ada kelanjutannya, insyaaAllah)

(سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك (حديث صحيح رواه ترمذي

Subhanakallahumma wabihamdika asy-hadu an-laa ilaaha illa anta,astaghfiruka wa atuubu ilaik.

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (Hadits Riwayat Tirmidzi, Shahih).

Bantul, 02 Muharram 1435 H

*diketik dari rekaman kajian Ustadz Abuz Zubair al-Hawaary hafizhahullah Ta’ala (Sirah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu)

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu, Motivasi, Sejarah | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: