4 Perbuatan Terlarang terkait Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah Ta’ala

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Salah satu bentuk keimanan kepada Allah adalah mengimani segala sifat yang Allah sifatkan (sendiri) untuk diri-Nya yang tercantum dalam kitab-Nya (Al-Quran) dan yang Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sifatkan untuk diri-Nya, tanpa (melakukan) tahrifta’thiltakyif dan tamtsil.

Karena yang paling tau akan sifat Allah hanya Allah Ta’ala.

Sumber ilmu itu ada tiga, yakni

Pertama, karena mendengar (sama’)

Kedua, karena melihat/menyaksikan (bi-‘ilmu syahadah)

Ketiga, dengan melihat sesuatu yang serupa

Apabila ingin mengenal Allah (ma’rifatullah) hanya bisa dengan mendengar wahyu yang shahih dan pemahaman yang benar, karena kita tidak pernah menyaksikan dan melihat sesuatu yang serupa dengan Allah, maka dalam beriman kepada Allah tidak boleh menggunakan akal.

Pantangan dalam beriman kepada Allah, khususnya dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah ada 4, karena bertentangan dengan teks Al-Quran & As-Sunnah, serta bertentangan dengan pemahaman Salaful Ummah.

[1] Tahrif = mengubah,

Tahrif ada dua, yakni tahrif dalam segi lafazh, dan tahrif dalam segi makna.

^Tahrif dari segi lafazh, seperti menambahkan satu huruf

“Istawa” (berada di atas) menjadi “Istawla” (menguasai) seperti pemahamannya Jahmiyah,

atau seperti perkataan ahlul bid’ah yang memanshubkan kalimat كَلَّمَ اللّهُ pada Quran Surat An-Nisa ayat 164

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

^Tahrif dari segi makna

Ini seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi. Allah berfirman tentang mereka :

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (Quran Surat An-Nisa ayat 46)

[2] Ta’thil = menafikan, mengosongkan

Ta’thil secara bahasa berarti meniadakan.

Adapun menurut pengertian syar’i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta’ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya.

Ta’thil ada dua, yakni ta’thil kulli dan ta’thil juz-i

Pertama, ta’thil kulli (mutlhaq), yakni menafikan semua sifat Allah, seperti kelompok Jahmiyah

Kedua, ta’thil juz-i (sebagian), yakni menafikan sebagian sifat Allah, seperti pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyah yang dalam memahami sifat-sifat fi’liyah hanya 7, lalu mengklasifikasikan ada 20 sifat wajib, 1 sifat jaiz.

Adapun Ahlussunnah, mereka tidak menafikan semua sifat yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya, tidak mengubah firman-firman Allah yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah dari tempat-tempatnya (makna-maknanya), dan tidak melakukan ilhad*.

Macam-macam ta’thil

^Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci, dengan cara meniadakan Asma’ dan Sifat-sifat-Nya, atau sebagian dari-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah.

^Meninggalkan muamalah dengan-Nya, yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya, baik secara total maupun sebagian, atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya.

^Meniadakan pencipta bagi makhluk. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya, alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya.

^Jadi, setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta’thil, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta’thil melakukan tahrif. Siapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar, maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta’thil. Adapun orang yang menafikan sifat, maka ia seorang mu’athil (pelaku ta’thil), tetapi bukan muharif (pelaku tahrif).

[3] Takyif = bertanya dengan “kaifa” (bagaimana), menggambarkan

Yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/ keadaan tertentu untuknya. Meniadakan bentuk/ keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Inilah paham yang dianut oleh kaum Salaf, sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik رحمه الله تعالى ketika ditanya tentang bentuk/ keadaan istiwa’, -bersemayam-. Beliau رحمه الله menjawab :

الإِسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ وَالكَيْفُ مَجْهَوتٌ وَالإِمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Istiwa’ itu telah diketahui (maknanya), bentuk/ keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya adalah bid’ah.” (Fatawa Ibnu Taimiyyah, V/144)

2 hal yang tidak boleh ditanyakan tentang Allah :

Pertama, “kaifa” dalam asma’ & shifat allah Ta’ala

Kedua, “limaa-dza” dalam perbuatan Allah.

[4] Tamtsil = menyerupakan

Yakni menjadikan sesuatu menyerupai Allah Ta’ala baik dalam sifat Dzatiyah maupun sifat Fi’liyah-Nya.

Tamtsil ini dibagi menjadi dua, yaitu :

Pertama :

Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta’ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan ‘Uzair dengan Allah pula. Maha Suci Allah dari itu semua.

Kedua :

Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk, dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

(Al-Kawasyif Al-jaliyah an Ma’ani Al-Wasithiyah, hal.86)

Salah satu dalil yang membantah dengan tegas perbuatan tamtsil ini adalah ayat dari surat yang seringkali kita baca dalam Dzikir Pagi dan Petang, serta surat yang memiliki faedah yang sangat besar.

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Quran Surat Al-Ikhlash ayat 4)

*Ilhad

Ilhad bermakna condong, menyimpang dari yang seharusnya diyakini dan diamalkan. Terkadang berkaitan dengan nama-nama Allah (Quran Surat Al-A’raf ayat 180), dan terkadang berkaitan dengan ayat-ayat-Nya (Quran Surat Fushilat ayat 40).

Ilhad yang berkaitan dengan nama-nama Allah ada 5 macam, yakni

  1. Mengingkari nama-nama Allah, seperti Jahmiyah
  2. Memberi nama kepada Allah dengan sesuatu yang tidak Allah berikan kepada diri-Nya, seperti orang Nashrani.
  3. Menyerupakan Allah dengan makhluq-Nya, seperti kaum musyabihat
  4. Menamai patung-patung/sesembahan selain Allah yang diambilkan dari nama-nama Allah, seperti yang dilakukan orang musyrik yang menamai Al-‘Uzza dari nama Allah Al-‘Aziz, Al-Latta dari nama Allah Al-Ilah.
  5. Mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas, yang berisi aib dan cacat, seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi yang mensifati Allah dengan sifat Al-Faqir dan Yahudi kaya.

Adapun ilhad yang berkaitan dengan ayat-ayat Allah ada dua, yakni
Pertama, ilhad ayat kauniyah, yang berkaitan dengan makhluk-makhluk Allah. Pelaku ilhad kauniyah mengingkari yang menjadikan semua yang ada ini adalah Allah, seperti yang dilakukan oleh orang Atheis.
Kedua, ilhad ayat syar’iyyah,yakni dengan mendustakan, menentang, menyelisihi dan menyelewengkannya.

Semoga sedikit pembahasan ini bermanfaat dan bisa dipetik pelajaran mengenai kaidah yang sangat agung, karena berkaitan dengan Dzat yang Maha Agung, yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

(سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك (حديث صحيح رواه ترمذي

Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Turmudzi, Shahih).

Disarikan dari daurah Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahdengan pemateri Ustadz Mahful Safaruddin, Lc hafizhahullah.

Artikel terkait :

1. Artikel “Akidah dan Amalan Yahudi yang Ditiru oleh Sebagian Kaum Muslimin”

2. Artikel “Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (bag. 3)”

*Lafazh do’a kafaratul majlis di ambil dari Artikel “Adabul Majelis dan Kesalahan-Kesalahannya”

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Goresan Karyaku | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: