Ujian di Ruang Ujian

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Hari ini adalah hari terakhir penyelenggaraan Ujian Akhir Semester Gasal di Fakultas Teknik. Pengalaman yang memberikan banyak cerita tentunya bagi saya dan beberapa rekan yang menjadi pengawas ujian. Yang dulu biasanya menjadi peserta ujian, yang biasanya panik waktu liat soal pertama kali karena ndak sama dengan yang dipelajari, yang biasanya panik ketika disebutkan “waktu tinggal 5 menit lagi” dan berbagai “kebiasaan” lainnya yang tentu saja jauuuuuhhhhh berbeda antara ketika berstatus sebagai mahasiswa S1 dengan sekarang yang menjadi alumnus -calon mahasiswa lagi :)-

Sedikit cerita dan opini dari pengalaman mengawas ujian sudah saya tuangkan di tulisan yang ini.

Dan kali ini saya ingin berbagi pengalaman dan perasaan (tsaaahhh) yang tentunya -saya rasa- dirasakan oleh pengawas ujian lainnya.

Sesuai judulnya, ya ini cerita tentang ujian di ruang ujian.

Eittsss,ini bukan tentang peserta ujian yang mengerjakan soal ujian (sebuah kalimat yang muter2 yaa. =))), tapi ini cerita tentang pengalaman menjalani ujian ketika para peserta ujian mengerjakan dan menyelesaikan soal ujian.

Beberapa hari yang lalu saya menuliskan tweet yang lebih kurang berisi,

Mungkin orang yang paling dibenci ketika ujian berlangsung adalah para pengawas ujian.

Menjadi pengawas ujian bukanlah sekadar duduk-duduk santai mengawasi ujian setelah sebelumnya membuka pintu ruangan ujian, membagikan & mengumpulkan lembar jawaban-soal-presensi ujian,lalu mengunci pintu, ke sekretariat ujian dan beristirahat sejenak. Bukan sekadar itu ya.

Ya itu sih yang pernah terlintas di pikiran saya ketika masih menjadi peserta ujian.

Ni bapak kayaknya enak bener cuma duduk-duduk santai.

Menjadi pengawas ujian itu menemui berbagai macam kegetiran dan bumbu-bumbu lainnya!

Pertama, menunggu itu membosankan.

Ya,mungkin itu rangkaian kalimat singkat yang sering dilontarkan -salah satunya- di status-status FB orang yang sering menunggu. Pun begitu yang dirasakan seorang pengawas ujian, khususnya di ujian sesi siang. Ya,di jam-jam tidur siang dan harus mengawas ujian selama 120 menit itu adalah SESUATU,bro!

Dan cara mengobati kebosanan dan kejenuhan itu adalah membaca buku atau melakukan hal lainnya yang bermanfaat sembari mengawasi para peserta ujian. B-)

Kedua, objektivitas vs subjektivitas

Ini mungkin saya rasakan beberapa kali,terutama mengawas peserta ujian yang sudah saya kenal dan akrabi. Tapi alhamdulillaah selama ini no problem.🙂

Ketiga, bagian penting dan inti dari tulisan ini adalah UJIAN KESABARAN.

Di antaranya,

Kesabaran menghadapi rayuan,

Ada yang pernah merayu untuk bisa ikut ujian padahal ia telah telat lebih dari 30 menit.

Ayoolah,Mas. sekali ini aja,tolong izinkan saya untuk bisa ikut ujian.

Maaf ya,Mas. kalau mau izin silahkan ke sekretariat ujian. kalau kami sebagai pengawas cuma menerima surat izin yang dikeluarkan oleh sekretariat. Kalau masnya diberikan izin oleh sekretariat, ya saya izinkan.

Sekali ini aja,Mas. kan gak ada yang tau. Tadi saya kesiangan. Kalau ndak gitu,saya tadi ndak mandi biar gak telat.

Maaf ya,Mas. saya juga pernah ujian, dan telah lebih dari 30 menit,dan saya juga tidak diizinkan untuk masuk ke ruang ujian.

Hingga akhirnya dengan pasrah mas nya itu keluar ruang ujian.

Kesabaran menghadapi keributan ruangan ujian,

Ini salah satu ujian yang paling berat yang dihadapi selama ujian berlangsung,apalagi kalau para peserta ujiannya memang ndak bisa ngerjain biasanya kalau gak diam semua ya banyak yang ribut. Di antara dua kemungkinan itu.

Dan kata-kata yang bisa terlontar dari saya adalah

“Tolong kerjakan ujiannya sendiri ya,ujiannya sendirian tho bukan ujian kelompok? Jadi tolong kerjakan ujiannya sendiri.”

Kesabaran menghadapi aksi percontekan,

Hmmm,ini ujian yang sebetulnya sama dengan kesabaran sebelumnya namun kalau ribut itu biasanya kan memang mencontek. Lalu bagaimana kalau menconteknya diam-diam tanpa suara?

Ya seperti mencari jawaban di HP dan semacamnya.

Inilah yang saya hadapi di saat terakhir saya ngawas ujian kemarin. Di mata kuliah agama,mbok ya ada yang contek jawaban di HP. Ujian agama lho. dan yang melakukannya ya para senior -kata halus pengganti kata sesepuh-.

Sebenarnya dilematis ketika menemui aksi contek-mencontek. Dan ini juga yang dirasakan beberapa pengawas senior, apalagi kalau yang contek itu angkatan tua. Tapi ya profesionalitas tetap profesionalitas. Kalau sudah kayak (maaf) ndak tau malu atau ndak sadar ya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dicatat di berita acara. Ini saya lakukan biasanya kalau mata kuliah agama atau mata kuliah dasar, semacam Pancasila, Statika.

Akhirnya,di tulisan kali ini,ya saya ingin berbagi bahwa menjadi pengawas ujian itu tak semudah yang dibayangkan para peserta ujian sebagaimana yang dulu pernah saya pikirkan.

Semoga menjadi renungan bagi kita semua,terutama yang masih berstatus mahasiswa dan umumnya bagi semuanya bahwa setiap pekerjaan pasti ada suka dukanya, serta yang paling penting semuanya yang kita lakukan,katakan dan lainnya akan dipertanggungjawabkan di hari akhirat kelak.

  وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. “

(Quran Surat Al-Kahfi ayat 49)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

(Quran Surat Qaf ayat 18)

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

(Quran Surat Al-An’am ayat 59)

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

(Quran Surat Yunus ayat 61)

وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً ۚ كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَىٰ إِلَىٰ كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

هَٰذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”.

(Quran Surat Al-Jatsiyah ayat 28-29)

Semoga bermanfaat.

Baarokallohu fiykum.

ditulis di Bantul, 19 Rabiul Awwal 1434 H

Suasana di salah satu ruang ujian ketika Ujian Mid Semester

Suasana di salah satu ruang ujian ketika Ujian Akhir Semester

Tambahan bacaan :

http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/jagalah-lisan-dan-tulisan-hati-hatilah.html

Categories: Kerjaan, Sebuah Cerita, Sharing | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: