(Catatan Kajian) Parahnya kesyirikan di zaman ini….

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Pengantar

Kitab Qowa’idul Arba’ karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah kitab yang bagus untuk mempelajari dasar tauhid. Kitab ini berisi 4 kaedah dalam memahami tauhid dan syirik. Di setiap pembahasan yang beliau tuliskan memiliki dasar dari nash Al-Quran dan Hadits. Di catatan ini berisi penjelasan mengenai kaedah keempat dari kitab tersebut. Kaidah yang sangat terkait dengan realitas kondisi zaman sekarang,khususnya di negeri kita, Indonesia.

Kaedah Keempat

“Kesyirikan di zaman kita (zaman Syaikh-pent) betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dahulu (zaman awal Islam). Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah mereka/kembali bertauhid ketika ditimpa musibah (di saat sempit). Adapunkesyirikan di zaman sekarang, mereka berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit.”

Dalilnya

Quran Surat Al-‘Ankabut ayat 65,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)

Penjabaran

Ada 9 hal yang menunjukkan kesyirikan zaman sekarang lebih parah dibanding kesyirikan pada zaman awal Islam. Dan perlu digaris bawahi, penjabaran ini yang ditulis oleh Syaikh rahimahullah dan kemudian diberikan contohnya dari beberapa poin yang relevan dengan kondisi di zaman kita sekarang di Indonesia ini.

1. Sesuai dengan kaedah di atas, yakni orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik saat lapang, namun ketika sempit mereka kembali bertauhid. Adapun orang-orang musyrik sekarang berbuat syirik di sepanjang waktu, mau saat sempit apalagi lapang.

2. Orang musyrik di masa silam mengagungkan orang yang mulia (para Nabi atau orang sholeh) atau sesuatu yang tidak berbuat maksiat (seperti pohon dan batu), sedangkan di masa sekarang parahnyaorang yang bermaksiat pun diagungkan!

Contoh :

di Gunung Kemukus,Sragen, tempat legenda Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan. Orang-orang yang ke sana berbuat syirik dengan mempercayai mereka akan mendapat berkah dan rezeki apabila mereka melakukan hal yang pernah dilakukan legenda di sana, yakni berzina!

Selengkapnya bisa dibaca di artikel ini

3. Orang musyrik di masa silam mengakui mereka menyelisihi dakwah Rasul, mereka mengatakan, “Jalan Muhammad sendiri, jalan kita juga sendiri (berbeda).” Namun, orang musyrik saat ini mereka yang sejalan dengan dakwah Rasul! Kalau gak ngalap berkah ke kuburan, berarti tidak mencontoh dakwah Rasul. Wal iyadzubillah.

4. Orang musyrik di masa silam berdo’a kepada selain Allah dengan 2 alasan, yakni mendekatkan diri kepada Allah dan untuk meminta syafa’at,

Dalil yang menunjukkan argumen mereka berbuat syirik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah adalah firman Allah Ta’ala dalam Quran Surat Az-Zumar ayat 3 :

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Adapun dalil yang menunjukkan argumen mereka berbuat syirik dalam rangka meminta syafa’at adalah firman Allah Ta’ala dalam Quran Surat Yunus ayat 18 :

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).

sedangkan orang musyrik saat ini menjadikan selain Allah untuk diminta langsung (berdo’a kepada selain Allah). Misalnya : berdo’a kepada wali yang di berada di alam kubur.

5. Orang musyrik di masa silam tidak beranggapan jika sesembahan mereka ditinggalkan itu adalah sebuah pelecehan, sedangkan di zaman sekarang sebaliknya. Misal, di Mesir, ada dari mereka yang mengagungkan Badawi. Tatkala ada orang yang melecehkan atau menjelek-jelekan Badawi, mereka takut mendapatkan laknat atau bala akibat pelecehan, yang bahkan dilakukan orang lain!

6. Umumnya syirik di masa silam adalah pada tauhid uluhiyah, yakni pada syirik ibadah, sedangkan syirik di masa kini pada semua tauhid : rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat.

Contohnya pada sebuah cerita pesugihan, ada orang-orang yang percaya yang mengabulkan do’a adalah siluman kura-kura.😐

7. Syirik di masa silam tidak terjadi pada kekuasaan Allah secara umu, mereka tidak meyakini ada makhluk yang menguasai bagian bumi yang lain. Namun, kesyirikan di masa ini mengakui bahwa ada yang mnguasai tempat tertentu di muka bumi ini. Misalnya, Nyi Roro Kidul dan Nyi Blorong.

8. Orang musyrik di masa silam meminta urusan dunia saja (misal : kekayaan), sedangkan orang musyrik di masa kini meminta urusan dunia dan akhirat sekaligus.

9. Orang musyrik di masa silam masih mengagungkan syari’at Allah. Buktinya mereka masih bersumpah dengan nama Allah dengan jujur. Sedangkan orang musyrik di masa kini bersumpah dengan nama Allah untuk sebuah kedustaan, atau mereka menganggap berdo’a/beribadah di kuburan wali lebih utama daripada di masjid.

Penutup

Jangan sampai kita sebagai umat Islam lebih jahil (bodoh) dibandingkan Abu Jahal dan Abu Lahab. Lho kok gitu?

Karena, Abu Jahal dan Abu Lahab mengetahui hakikat tauhid dan syirik, makanya mereka enggan untuk mengucapkan kalimat Tauhid. Jika kita tidak mengetahui hakikat tauhid dan syirik, sungguh kita lebih jahil dengan mereka.

————————————

Semoga bermanfaat, Baarokallohu fiykum.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Maha suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain-Mu, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

(Hadits Riwayat Ashhaabus Sunan)

Al-faqiir ilallah,

Diselesaikan di Bantul, 20 Jumadil Akhir 1434 H (1 April 2013 M),

dari catatan Kajian Islam Bersanad kitab Qowa’idul Arba’ bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal –hafizhohulloh Ta’ala– di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunung Kidul

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Goresan Karyaku | Tags: , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “(Catatan Kajian) Parahnya kesyirikan di zaman ini….

  1. tulisan yang berfaidah, alhamdulillah …
    jazakallau khairan …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: