Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian pertama)

Pengantar :

Tulisan kali ini adalah materi tambahan yang disampaikan oleh Ustadz Marwan di kajian rutin Ma’had ‘Ilmi materi ‘Aqidah yang disarikan dari kitab Qowa’idul Mutsla fii Shifatillahi wa Asma-il Husna karya Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rohimahulloh. Materi ini diberikan setelah mempelajari kaidah pertama dalam mempelajari dan memahami nama Allah Ta’ala, yakni

Nama-nama Allaah Ta’ala semuanya adalah husna (paling baik).”

Dalilnya, yakni Quran Surat Al-A’raaf ayat 180

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

 

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Bagaimanakah hukum menamai manusia dengan nama Allah Ta’ala?

Pertanyaan ini ditanyakan kepada Syaikh Shalih Utsaimin.

Jawaban :

Penamaan dengan menggunakan nama Allah memiliki 2 sisi :

Sisi pertama terbagi menjadi dua,

a. Nama tersebut bersambung dengan Alif Lam. Jika demikian nama tersebut tidak boleh digunakan selain untuk Allah ‘Azza Wa Jalla, karena Alif lam itu menunjukkan makna asal dari nama tersebut. Misal nama Ar-Rohiim, Al-Malik,

b. Penamaan tersebut dimaksudkan pada makna sifat yang dikandung oleh nama tersebut, maka ini juga tidak boleh, meskipun tidak bersambung dengan Alif lam. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallampernah mengubah nama kunyah shahabat Abul Hakm, karena orang-orang berdatangan keapda Abul Hakm untuk meminta (fatwa) hukum suatu hal. Lalu nama tersebut diganti menjadi Abu Syuraih yagn merupakan nama anak pertama shahabat tersebut.

Sisi kedua

Penamaan tersebut tidak bersambung dengan Alif lam dan tidak bermaksud (ditujukan) untuk makna sifat yang dikandungnya. Maka ini tidak mengapa.

Salah satu contohnya adalah nama salah seorang shahabat, yakni Hakim ibn Hizam.

Tapi kalau nama “Jabbar“, seyogyanya tidak dipakai karena nama tersebut bisa berpengaruh kepada orang yang memakainya.

to be continued

di tulisan selanjutnya, InsyaaALLAH membahas pertanyaan kedua mengenai hal ini sekaligus menyimpulkan bagaimana hukum menamai manusia (seseorang) dengan nama Allah Ta’ala.

Semoga bermanfaat.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Maha suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain-Mu, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

(Hadits Riwayat Ashhaabus Sunan)

Baarokallohu fiykum.

Bantul, 29 Safar 1434 H

*previously posted here

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian pertama)

  1. Pingback: Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian kedua/terakhir) « Menjemput Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: