Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian kedua/terakhir)

Pengantar :

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan ini sekaligus tulisan terakhir seputar “Hukum menamai manusia dengan nama Allah”

 

Bismillaahirrohmanirrohiim.

Apa hukumnya penamaan dengan nama-nama Allah semisal Al-Hakiim dan Ar-Rahiim?

Dibolehkan seseorang dinamai dengan nama-nama tersebut dengan syarat bukan bertujuan pada makna nama yang dikandung oleh nama tersebut. Di antara para shahabat ada dinamai dengan Al-Hakm danHakim ibn Hizam, ada juga seseorang yang dinamai dengan “‘Adl”

Adapun jika dimaksudkan makna yang terkandung dari sifat/nama tersebut, maka zhohirnya tidak boleh.

Yang menjadi patokan sebenarnya dalam masalah ini, yaitu zhohir dari jawaban pertanyaan yang ditujukan kepada Lajnah Daimah, Arab Saudi. Di mana lajnah pernah menerima pertanyaan :

“Apakah yang berikut ini bisa dijadikan dalil atas haramnya penamaan makhluk dengan nama Allah? :

1. Di mana telah kita ketahui bahwa menamai makhluk dengan nama Allah : “اللَّهُ” (lafzhun jalalah) itu adalah terlarang, maka menamai makhluk dengan nama-nama lainnya juga tidak boleh, karena tidak ada perbedaan di antara nama-nama Allah Ta’ala yang lain.

2.  Telah maklum diketahui dalam pembahasan ilmu nahwu, apabila ada jar majrur mendahului isim ma’rifat (اَلْ), maka memberikan qasr/hasr (pengkhususan/pembatasan) isim ma’rifat hanya untuk jar majrur tersebut. Seperti firman Allah

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

Berarti ayat tersebut menunjukkan Asmaul Husna hanya milik Allah Ta’ala.

Bolehkah dua hal ini dijadikan dalil?”

Jawaban :

1. Jika nama-nama Allah tersebut merupakan nama syakhs (pribadi/khusus) bagi Allah, seperti اللَّهُ maka tidak boleh untuk selain Allah, karena nama tersebut hanya tertentu saja, yaitu اللَّهُ dan nama tersebut di dalamnya tidak menerima persekutuan. Demikian pula nama-nama Allah yang lainnya yang tidak mengandung dan tidak menerima persekutuan, maka tidak boleh menamai makhluk dengan nama-nama tersebut, seperti Al-Kholiq[1], Al-Baari[2]. Adapun jika nama tersebut mengandung nama tersebut mengandung makna yang kulli (umum), mencakup semua yang masing-masing yang dicakup memiliki tingkatan yang berbeda-beda satu sama lain, maka boleh menamai selain Allah dengan nama tersebut (dari segi kandungan makna), seperti Al-Malik (yang berkuasa), Al-Aziz (perkasa), maka dalam Al-Quran Surat Yusuf ada nama makhluk “Aziz”. Demikian juga Al-Mutakabbir, Al-Jabbar.

Meskipun dibolehkan bukan berarti sama antara اللَّهُ dan makhluk, karena jelas sungguh berbeda.

2. Yang dimaksud dengan kekhususan dalam ayat tersebut adalah “husna“nya, bukan “nama“nya.

Pertanyaan :

Apabila telah ditetapkan tadi bahwa ada nama yang tidak boleh dinamakan untuk makhluk dan ada yang boleh. Apakah Ar-Rohman dan Al-Qoyyim dibolehkan?

Jawaban :

Nama Ar-Rohman karena saking sering digunakan untuk اللَّهُ maka tidak boleh digunakan.

Untuk nama Al-Qoyyim, kita simak apa arti dari nama tersebut.

Al-Qoyyim bermakna yang merasa cukup dengan dirinya, tidak butuh orang lain, yang bisa berdiri sendiri dan selainnya butuh kepada dirinya.

Apakah manusia memiliki sifat yang dikandung oleh nama tersebut?

Tentu saja tidak, maka tidak boleh memberikan nama Al-Qoyyim kepada selain Allah.

Kesimpulan :

  • Apabila nama tersebut khusus untuk اللَّهُ maka tidak boleh, seperti اللَّهُ, Al-Kholiq, Al-Baari, Ar-Rohman.
  • Apabila penggunaan nama tersebut ditujukan kepada makna yang dikandung pada nama tersebut -meski tanpa اَلْ- maka tidak boleh memberikan nama makhluk dengan nama tersebut.
  • Boleh menamai makhluk dengan nama Allah jika pada keadaan selain dua poin di atas.

Wallahu Ta’ala A’laam.

Silahkan merujuk buku Syaikh Abdurrozaq : Fiqh Asmaul Husna

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Maha suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain-Mu, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

(Hadits Riwayat Ashhaabus Sunan)

Baarokallohu fiykum.

Bantul, 01 Rabiul Awal 1434 H

[1] Al-Kholiq bermakna : yang mengadakan sesuatu tanpa ada contoh/misal sebelumnya

[2] Al-Baari bermakna : yang mengadakan sesuatu tanpa ada cacat (naqis) dari yang diciptakannya.

Catatan materi ‘Akhlaq Ma’had Al-‘Ilmi dengan pemateri Ustadz Marwan hafizhohullohu Ta’ala.

*previously posted here

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Hukum menamai manusia dengan nama Allah (bagian kedua/terakhir)

  1. begitu yah.. wokeeh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: