Menasehati Penguasa atau Mengumbar Aib?

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Tahun 2013 adalah tahun-tahun terakhir menjelang “perhelatan akbar” 5 tahunan di negeri ini. Pesta demokrasi katanya. Keadaan semakin “semarak” dan “ramai” setelah satu per satu “fakta” diungkap dan dikonsumsi khalayak ramai, salah satunya adalah korupsi. Korupsi itu ibarat sebuah penyakit yang sudah sangat menggerogoti negeri ini, begitu rangkaian kata yang pernah saya baca di sebuah ulasan. Dan lembaga yang diberikan wewenang untuk “membasmi” penyakit itu adalah Komisi Pemberantasan Korupsi yang biasa disingkat dengan KPK.

Satu minggu terakhir sepertinya menjadi puncak panasnya berita seputar korupsi. Tokoh-tokoh pejabat pemerintahan diungkap sebagai koruptor, sebutan bagi pelaku korupsi. Adapun baru-baru ini,tepatnya tadi malam muncul gambar tentang total kekayaan keluarga pejabat tertinggi di negeri ini yang bersumberkan dari sebuah surat kabar harian berbahasa Inggris di Jakarta. Lalu bagaimana sebenarnya kita sebagai umat Islam menyikapi pemberitaan mengenai korupsi ini?

Menjaga kehormatan seorang Muslim

Pada hadits Abu Bakrah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan yang lainnya, bahwa ketika khuthbah hari ‘Arafah pada saat haji wada’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ ….

Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan dan harga diri kalian haram atas kalian….” (Hadits Riwayat Bukhari)

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata (yang artinya) : “Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, Islam apakah yang terbaik?”. Beliaushallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yaitu siapa yang kaum Muslimin selamat dari lisan dantangannya.

Salah satu faedah yang bisa diambil dari hadits tersebut adalah sebaik-baik kaum Muslimin adalah yang bisa menjaga keselamatan saudaranya sesama Muslim dari dua anggota tubuhnya, yakni dari lisan dan tangannya. Keselamatan dari lisan itu seperti menjaga dirinya untuk tidak menghina dan mengumbar aib saudaranya.

Bukankah agama Islam telah mengajarkan bahwa cara memperbaiki saudara kita adalah dengan memberikan nasehat kepada saudara kita tersebut?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Agama ini adalah nasehat.” Kamipun bertanya :”Untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan masyarakat secara umum.” (Hadits Riwayat Muslim)

Adab kepada Pemimpin – Larangan Mencaci Maki Pemimpin

Terhadap sesama muslim (rakyat biasa) saja kita diperintahkan untuk menjaga adab dalam bermuamalah, seperti dalam hal menasehati dan menjaga aib saudara kita. Lalu bagaimana dengan adab kepada pemimpin yang notabene adalah orang yang diberikan amanah untuk memimpin rakyatnya?

Saking pentingnya perkara muamalah rakyat kepada pemimpin membuat Dr. Abdussalam bin Barjas Ali Abdul Karim menulis kitab khusus yang berjudul “Mu’amalat al-Hukkam fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Bagaimana Bila Penguasa Zhalim? – Hubungan Rakyat dan Pemerintah Menurut Syariat Islam”. Dalam salah satu bab pembahasan yang beliau tulis yakni pada Bab VII “Larangan Mencaci Maki Penguasa” disebutkan beberapa hal yang akan dijabarkan berikut ini :

Mengusik kehormatan penguasa, sibuk mencaci dan menyiarkan aib mereka adalah kesalahan besar dan pelanggaran fatal, yang dilarang dan dicela oleh syariat Islam yang suci.

Bahkan, ini adalah benih pemberontakan terhadap penguasa yang menjadi sumber kerusakan agama dan dunia sekaligus.

Sudah dimaklumi bahwa sarana (wasa’il) itu memiliki status hukum yang sama dengan tujuan (maqashid). Setiap nash yang berisikan pengharaman memberontak kepada penguasa dan mencela pelakunya adalah dalil atas keharaman mencaci makinya dan pelakunya dikecam.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau hendaklah ia diam.” (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim)

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata (yang artinya) : “Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, Islam apakah yang terbaik?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yaitu siapa yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.

Terdapat riwayat yang secara khusus melarang mencaci maki penguasa, karena hal itu bisa menyulut api fitnah, dan membuka pintu keburukan atas umat.

Berikut ini adalah nash mengenai hal itu :

  • Diriwayatkan dari at-Tirmidzi bersumber dari Ziyad bin Kusaib al-‘Adawi, ia berkata : Aku bersama Abu Bakrah berada di bawah mimbar Ibnu Amir –saat ia sedang berpidato denan memakai pakaian tipis- maka Abu Bilal berkata, “Lihat pemimpin kita memakai pakaian orang fasik.” Abu Bakrah menegurnya, “Diamlah. Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menghina penguasa Allah di bumi, niscaya Allah akan menghinakannya.”
  • Ibnu Busyran (dalam Al-Amali halaman 78) berkata : Da’laj bin Amad menuturkan kepada kami, Hamid bin Muhammad bin Syu’aib al-Balkhi menuturkan kepada kami, Suraij bin Yunus menuturkan kepada kami, Marwan bin Mu’awiyah al-Fazari menuturkan kepada kami, dan Muhammad bin Abi Qais : Abu al-Mushabbih al-Himshi menuturkan kepada kami, ia berkata : Aku sedang duduk bersama beberapa shahabat Rasulullah, di antara mereka ada Syaddad bin Aus. Mereka mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :

Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan begini dan begitu berupa kebajikan ternyata ia munafik.” Mereka bertanya, “Bagaimana mungkin ia bisa disebut munafik, padahal ia Mukmin?” Beliau menjawab, “Ia suka mengutuk para pemimpinnya dan mengecam mereka.”

Para perawinya tsiqah, kecuali Muhammad bin Abi Qais, ia adalah Syami (orang Syam) yang tidak saya (penulis.pent) kenal. Jadi, ia termasuk perawi majhul (yang tidak diketahui identitasnya), karena Marwan bin Mu’awiyah dikenal suka meriwayatkan dari perawi-perawi seperti itu. Wallahu a’lam.

Dan masih banyak lagi riwayat mengenai larangan mencaci maki penguasa yang dituliskan oleh beliau dalam kitabnya tersebut.

Menyikapi Berita yang Beredar Mengenai Pemimpin

Adapun berita yang beredar mengenai pemimpin kita yakni Presiden kita –hafizhahullaah Ta’ala– adalah mengenai berita skandal korupsi di keluarga beliau. Berita itu awalnya berbahasa Inggris lalu diterjemahkan dan disampaikan melalui jejaring sosial. Terlepas tentang kebenaran berita dan fakta yang disampaikan dalam berita itu –karena sudah ada berwenang membahas hal ini- menjadi introspeksi bersama apakah pantas aib seorang pemimpin diumbar? Ya, pemimpin yang beragama Islam.

Cara introspeksinya bisa bercermin kepada diri sendiri bahwa apakah kita bisa menerima jika aib kita diumbar di khalayak ramai sehingga banyak orang mengetahuinya?

Ini bukan masalah tujuan untuk mencari keadilan karena ada pelaku korupsi dan terduga lainnya yang diberitakan. Saya pribadi pun sangat tidak sepakat pemberitaan media saat ini, yang meng”halal”kan semua berita bagaimana pun bentuk kemasannya. Ya, seolah-olah semua berita itu layak, tak terkecuali mengenai berita korupsi ini, dengan dasar dalil-dalil yang telah disampaikan di atas dan juga di akhir tulisan akan ditambahkan. Cukuplah dalil-dalil tersebut menjadi bahan introspeksi dan peringatan bagi kita akan larangan mencaci maki dan mengumbar aib saudara Muslim, siapapun itu. Dan tidak ada manfaatnya menyibukkan diri dalam mengumbar-umbar aib saudara sendiri.

Termasuk kebaikan keislaman seseorang jika ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (terjemahan Hadits Riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Untuk mengakhiri tulisan ini maka ditambahkan dalil-dalil lain berkaitan pentingnya menjaga lisan, khususnya terkait larangan mencaci maki dan mengumbar aib.

1.    لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga.

(Hadits Riwayat Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).

2.    Di dalam Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan, “Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqaomah, maka kami juga istiqamah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang.

(Hadits Riwayat Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/17, no. 1521) (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, 1/511-512)

3.    لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya.

(Hadits Riwayat Muslim no. 6537)

4.    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لا تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَقَاطَعُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخِوَانًا

Janganlah kalian ber-tahassus, jangan ber-tajassus, jangan saling memutuskan hubungan, dan jangan saling bertolak belakang. Jadilah kalian saling bersaudara wahai hamba-hamba Allah.”(Hadits Riwayat Bukhari)

Hadits ini mengandung dua kalimat. Yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits yang disepakati keshahihannya ini:

لا تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا

“Janganlah kalian saling ber-tahassus dan jangan saling ber-tajassus.”

Perbedaan antara tahassus dan tajassus, menurut sebagian ulama –ada khilaf dalam masalah ini (dalam Fathul Baari dan Tafsir Ibnu Katsir)-, tajassus (adalah mencari-cari kejelekan orang) dengan menggunakan indra penglihatan, sedangkan tahassus dengan (mendengar) kabar berita. Dalilnya adalah firman Allah:

يا بنيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسٍّسُوا مِنْ يُوْسُفَ وَ أَخِيْهِ وَلاَتَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ

“Wahai anak-anakku pergilah kalian dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (Quran Surat Yusuf ayat 87)

Firman Allah:

فَتَحَسٍّسُوا مِنْ يُوْسُفَ وَ أَخِيْهِ

“carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya”, diambil dari kalimat tahassus, yaitu mencari berita.

Adapun tajassus, maka Allah melarangnya dalam firman-Nya:

وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kalian menggunjing sebahagian yang lain” (Quran Surat Yusuf ayat 87)

Tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menggunakan mata. Dimulai dengan melihat saudaramu, lalu engkau mengamati gerak-geriknya. Engkau melihatnya berjalan di suatu jalan, kemudian engkau mengikutinya hingga engkau tahu aibnya. Janganlah kau lakukan hal ini. Pujilah Allah karena engkau tidaklah melihat dari saudaramu kecuali kebaikan-kebaikannya.

Begitu juga dengan tahassus. Janganlah engkau bertanya-tanya tentang aib saudaramu, padahal ia termasuk saudara-saudaramu seiman dan para sahabatmu yang sejati. Terjalin antara engkau dengan mereka tali kasih sayang. Terjalin antara engkau dengan mereka tali persahabatan. Janganlah engkau ber-tahassus dan janganlah engkau ber-tajassus terhadapnya. Seorang muslim dilarang melakukan hal itu terhadap saudara-saudaranya sesama kaum muslimin secara umum, bagaimana lagi dengan orang-orang yang terjalin antara engkau dengan mereka tali ukhuwwah yang khusus.

“Janganlah bertahassus,” yaitu janganlah mencari-cari berita saudaramu (untuk mencari-cari kesalahannya), dan “janganlah bertajassus,” yaitu janganlah engkau mengamati apa yang dilakukannya, karena sesungguhnya hal ini terlarang dan termasuk perkara yang diharamkan oleh Allah.

Bantul, 20 Rabiul Awwal 1434 H

Al-faqiir ilallah,

Abu Zur’ah Rama Rizana

Referensi bacaan :

1.    Bagaimana Bila Penguasa Zhalim – Hubungan Rakyat dan Pemerintah Menurut Syari’at Islam karya Dr. Abdussalam bin Barjas Ali Abdul Karim.

2.    Langkah Pasti Menuju Bahagia karya Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim.

3.    Mutiara Hadits Arba’in – 42 Hadits Pondasi Agama karya Abu Abdillah Syahrul Fatwa Al-Atsari

4.    Artikel Tutuplah Aib Saudaramu

5.    Artikel Kendalikan Lisan

6.    Artikel Menjaga Kesucian Darah, Harta dan Kehormatan Sesama Muslim

7.    Artikel Hal-Hak Persaudaraan Bagian 3- Jagalah Kehormatan Saudara Kita

Categories: Belajar Ilmu Agama, Muamalah, Nasehat, Opini | Tags: , , , , , | 11 Comments

Post navigation

11 thoughts on “Menasehati Penguasa atau Mengumbar Aib?

  1. sangat setuju dik rama😀

  2. *manggut2..

  3. Saya juga sependapat dg mas Rama.

    • ramarizana

      matur nuwun,Pak. jazaakalloh khoiron.
      tulisan ini berawal dari banyaknya media dan orang2 (khususnya di jejaring sosial) yang menyebarkan berita aib orang lain tanpa kroscek dulu. ia ingin orang2 berprasangka baik kepadanya, tapi ia sendiri tidak bisa berprasangka baik kepada orang lain.

  4. Mungkin, maraknya korupsi & sulit memberantasx ada saham dari da’wah yg salah kaprah &/ sarat kepentingan. Saat ditanya bolehkah birokrat/aparat menerima gratifikasi/pemberian asal tidak minta? dijawab tdk apa2 asal rajin zakat/infaq/sadaqah/menyantuni yatim. Saat ada indikasi korupsi yg akan diusut maka keluarlah hadis: “Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya.” #Pengalaman di birokrasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: