10 Rambu-Rambu Jalan Menuju Pembebasan Al-Aqsha

Bismillaahirrohmanirrohiim.

-lanjutan catatan kajian “Kapan Palestina Kembali ke Pangkuan Kita?“-

Adapun 10 Rambu-Rambu Jalan Menuju Al-Aqsha tersebut, yakni :

1. Hendaknya menumbuhkan perasaan di dalam diri kita bahwa mereka adalah saudara kita, seperti satu tubuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang sesama mereka adalah bagaikan satu tubuh yang bila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit maka seluruh anggota tubuh yang lain tidak dapat tidur dan selalu merasa panas”. (Hadits Riwayat Muslim)

Umat Islam terbagi menjadi 3 terkait sikap terhadap masalah Palestina

Pertama, yang cuek, tidak mau ambil pusing dengan yang terjadi di Palestina. mereka berkomentar “Ah,ngapain memikirkan yang terjadi di Palestina,wong masalah di negeri sendiri juga sudah banyak masalah.

kedua, yang terlalu bersemangat, akan tetapi tidak disertai ilmu. melakukan hal-hal yang tak disyari’atkan dan tidak pernah dicontoh oleh generasi para shahabat rodhiyallohu ‘anhum dan para salafush shalih.

apakah Shalahudin Al-Ayyubi ketika membebaskan Al-Aqsha dengan cara turun ke jalan, teriak-teriak atau bakar-membakar?

ketiga, yang menyikapi masalah ini di bawah bimbingan para ulama, sehingga apa yang dilakukan berdasarkan ilmu.

Al-‘Ilmu Qobla Al-‘Amal. Ilmu itu sebelum amalan.

Semangat apabila tidak bersama ilmu, maka akan menghancurkan.

Lalu, adalah suatu pernyataan yang salah besar jika ada yang mengatakan orang yang memegang manhaj salafush shalih diam, tidak peduli dengan permasalahan di Palestina. Karena bergeraknya orang salafiyyun berdasarkan ilmu dan diamnya pun berdasarkan ilmu.

2. Pentingkan dulu kalimat tauhid sebelum menyatukan umat Islam

Ini sebagaimana yang dicontohkan Shalahudin Al-Ayubi ketika umat Islam diserang orang Mongol. yang beliau lakukan adalah mempersatukan umat Islam di bawah kalimat Tauhid.

Jika kalian sudah betul-betul bertauhid secara benar, maka ALLOH Ta’ala akan mempersatukan kalian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

حق الله على العباد أن ي عبدوه ولا يشركوا به شيئا

Artinya: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah supaya hamba itu beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”

(Hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim).

Al-Aqsha tidak mungkin direbut, kecuali oleh orang-orang yang betul-betul bertauhid.

Adapun Yahudi mampu merebut Palestina tatkala kaum muslimin telah berpecah belah dan melepaskan persatuan atas dasar ‘aqidah yang benar.

3. Lempar dan buang jauh-jauh berbagai macam perbedaan, perpusuhan di antara umat Islam.

Karena perpecahan dan persatuan itu adalah kekalahan dan kelemahan.

4. Kembali dengan jujur kepada ajaran Islam yang murni.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor-ekor sapi [sibuk berternak, pent], dan menyenangi pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”.

(Hadits Riwayat Abu Dawud, dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Al-silsilah Ash-shahihah)

5. Membebaskan diri dari Al-Wahn

Al-Wahn adalah penyakit yang kronis dan diri hina di mata musuh-musuh Islam

Rosululloh shollallohu ‘alahi wasallam dalam haditsnya dari sahabat Tsauban rodhiyallohu ‘anhumengatakan (yang artinya),

Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?”

Rosululloh berkata, “Bahkan kalian saat itu banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air bah. Dan Allah l benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian, dan benar-benar Allah l akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.

Seseorang bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan al-wahn, ya Rosululloh?

Rosululloh menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.

(Hadits Riwayat Abu Dawud no. 4297, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)

Maka terkait hal ini kita bisa belajar dari dua kisah. Kisah pertama yakni shahabat Hanzholah rodhiyallohu ‘anhu yang dimandikan para malaikat, karena meninggal dunia ketika berjihad padahal sebelumnya ia baru saja menjalani malam pertama bersama istrinya.

Kisah lainnya yang merupakan kebalikan dari kisah Hanzholah adalah kisah kekalahan umat Islam di Perang Uhud. Kisah yang mengajarkan pelajaran yang amat berharga kepada kita akan bahaya al-wahn ini. Bagaimana umat Islam yang pada awalnya memimpin peperangan,namun kemudian kalah lantaran puluhan umat Islam yang itu berperang ketika terperdaya akan godaan harta rampasan perang.

6. Menyiapkan generasi,

generasi setelah Shalahudin Al-Ayubi dan Muhammad Al-Fatih

Shalahudin Al-Ayubi, seorang pemuda yang hatinya bergetar tatkala mengetahui hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bahwa suatu ketika konstantinopel akan ditaklukkan.

Ketika masa kecilnya, Shalahudin Al-Ayubi diajak ibunya ke tempat teman ibunya. Lalu, sahabat ibunya mengatakan kepada ibunda beliau “Jagalah anak ini,karena kelak ia akan menjadi pemimpin dan menguasai umatnya.

Lalu ibundanya berkata,” Tidak! Bahkan ia kelak akan menguasai dunia.

Dan bisa selanjutnya Shalahudin Al-Ayubi menjadi pemimpin, yang kemudian bisa menguasai dunia.

Kisah lainnya adalah Muadz ibn Afat dan Muadz ibn Amr ibn Samuh, dua orang pemuda yang berusia belasan tahun namun gagah berani mengalahkan musuh kaum muslimin, yakni Abu Jahal.

Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu menceritakan,

بينا أنا واقف في الصف يوم بدر، فنظرت عن يميني وعن شمالي، فإذا أنا بغلامين من الأنصار – حديثة أسنانهما، تمنيت أن أكون بين أضلع منهما – فغمزني أحدهما فقال: يا عم هل تعرف أبا جهل؟ قلت: نعم، ما حاجتك إليه يا ابن أخي؟ قال: أخبرت أنه يسب رسول الله صلى الله عليه وسلم، والذي نفسي بيده، لئن رأيته لا يفارق سوادي سواده حتى يموت الأعجل منا، فتعجبت لذلك، فغمزني الآخر، فقال لي مثلها، فلم أنشب أن نظرت إلى أبي جهل يجول في الناس، قلت: ألا إن هذا صاحبكما الذي سألتماني، فابتدراه بسيفيهما، فضرباه حتى قتلاه

“Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan. Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia sekali.. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka [untuk melindungi mereka, pent]. Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata, ‘Paman, tunjukkan kepadaku mana Abu Jahal.’ Kukatakan kepadanya, ‘Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?’ Pemuda itu kembali berkata, ‘Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.’ Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, ‘Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.’ Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.”

(Hadits Riwayat Bukhari no. 3141)

Adalagi kisah Samhud ibn Jundub yang nangis karena tidak diizinkan perang oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Lalu, ada sahabatnya, yakni Rofiq ibn Khudais yang juga meminta izin untuk ikut perang, namun juga tidak diizinkan. Kemudian Rofiq berkata pada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bahwa ia bisa memanah sebaik apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Dan kemudian ia melakukannya dan dapat membuktikan perkataannya, lalu Rofiq pun diizinkan.

Setelah itu, Samhud mengadu kepada kedua orangtuanya dan menangis. Tangisannya bukan karena tidak dibelikan permen atau tangisan karena sebab dunia lainnya, melainkan karena tidak diizinkan ikut perang. Lalu orangtuanya menemui Rosululloh sembari membawa Rofiq dan mengatakan serta menanyaka mengapa Rofiq diizinkan ikut perang sedangkan Samhud tidak. Lalu, Samhud menambahkan,

Ketika kami bergulat,saya selalu menang.

Kemudian setelah mereka bergulat, terbukti Samhud menang, hingga kemudian mereka berdua diizinkan untuk ikut perang.

Kisah terakhir adalah kisah Umair bin Abi Waqqash, saudara shahabat Sa’ad ibn Abi Waqqash rodhiyallohu ‘anhu, yang tidak diizinkan untuk iktu perang oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, namun ia ikut dan bersembunyi.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata,

رأيت أخي عمير بن أبي وقاص قبل أن يعرضنا رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلّم يوم بدر يتوارى، فقلت: ما لك يا أخي؟ قال: إني أخاف أن يراني رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلّم فيستصغرني فيردّني، وأنا أحبّ الخروج، لعل اللَّه أن يرزقني الشهادة- قال: فعرض على رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلّم فاستصغره فردّه، فبكى فأجازه، فكان سعد يقول: فكنت أعقد حمائل سيفه من صغره فقتل وهو ابن ست عشرة سنة.

“Aku  melihat saudaraku Umair bin Abi Waqqash -sebelum kami diperlihatkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti perang Badr- ia sembunyi-sembunyi. Maka aku berkata, “ada apa denganmu wahai saudaraku?”. Ia berkata, “aku khawatir Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihatku lalu menganggapku masih terlalu kecil sehingga beliau menyuruhku kembali, aku ingin sekali ikut berperang, semoga Allah mengkaruniakan kesyahidan kepadaku.”

Kemudian ia diperlihatkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau mengangap masih kecil dan menolaknya. Maka Umair bin Abi Waqqash menangis sehingga beliau mengizinkannya

Sa’ad berkata, “Aku membantu menyarungkan pedangnya karena ia masih kecil, kemudian ia terbunuh ketika berusia enam belas tahun.”

(Al-Ishabah 4/603, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet.I, 1415 H, Syamilah)

7. Mempersiiapkan secara materi,

yakni persenjataan, seperti panahan.

Setiap kita harus memiliki peran sesuai dengan kemampuan dan kapabilitas kita. Bisa menjadi dokter untuk mengobati saudara-saudara kita yang berjihad, bisa menjadi ahli persenjataan, dsb.

8. Menegakkan jihad

Untuk saat ini, kita memang belum bisa ikut berjihad dengan jiwa, karena belum diizinkan dan diperintah oleh pemerintah.

InsyaaALLOH kita bisa mendapatkan pahala sama dengan yang ikut berjihad,jika kita memiliki azzam dan niat untuk ikut jihad, namun terhalang oleh uzur.

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ وَفِيْ رِوَايَةٍ إِلاَّ شَرِكُوكُمْ فِي الأَجْرِ (رَوَاهُ مُسْلِم( وَرَوَاه الْبُخَارِيْ عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَجَعْنَا مِنْ غَزْوَةِ تَبُوْكَ مَعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَقْوَامًا خَلْفَنَا بِالْمَدِينَةِ مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلاَ وَادِيًا إِلاَّ وَهُمْ مَعَنَا فِيْهِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ

Dari Abu Abdillah Jabir beliau berkata: kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu peperangan, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya beberapa orang di Madinah tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak pula kalian melewati satu wadi (lembah) kecuali mereka bersama kalian, mereka ditahan oleh penyakit.

(Dan dalam riwayat lain): kecuali mereka bersama kalian dalam pahala. [Hadits Riwayat Muslim]

Dan Imam al-Bukhâri meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, “Kami pulang dari perang Tabuk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya beberapa orang yang tertinggal di Madinah tidaklah kita melewati satu jalanan dan tidak pula lembah kecuali mereka bersama kita, mereka tertahan oleh udzur“.

Saat ini jihad yang bisa kita lakukan adalah berjihad dengan harta.

Inilah yang bisa kita lakukan saat ini untuk saudara kita di Palestina, jangan sampai kita seperti orang yang berkoar-koar jihad dengan pedang, eh ketika ada kotak infaq sumbangan untuk saudara kita di Palestina, tidak tergerak hatinya untuk mendermakan sebagian hartanya untuk saudara kita.

Hal terkecil saja tidak tergerak hati kita.

9. Do’a

Renungan,

Pernahkah kita mendo’akan untuk saudara-saudara kita di Palestina (dan tempat lainnya, seperti Rohingya,Suriah) setelah sholat kita, di sepertiga malam trakhir?

Jika jawabannya tidak, hal-hal terkecil yang disyari’atkan seperti berdo’a saja tidak dilakukan, sedangkan hal-hal yang disyari’atkan seperti berkoar-koar, membakar yang tidak sepatutnya dilakukan.

Jika jawabannya iya, lalu kemudian timbul pertanyaan

Kenapa sering berdo’a  tetapi tidak dikabulkan?

Do’a seorang muslim bagi saudaranya dari kejauhan akan dikabulkan,di atas kepalanya ada malaikat yang ditunjuk untuk tugas itu, setiap kali ia berdo’a untuk saudaranya, malaikat yang ditunjuk tersebut berkata : aamiin (semoga Allah mengabulkan),dan bagimu kebaikan yang sama.’

(terjemahan Hadits Riwayat Muslim)

Abu Ishaq ibn Ibrahim Al Atham menjawab,”Itu disebabkan hati-hati yang telah mati, karena 10 perkara :

Pertama, engkau mengetahui ALLOH, tetapi engkau tidak memenuhi hak-hak Allah.

Kedua, engkau mengaku cinta Nabi, tapi tidak mengamalkan Sunnahnya dan malah menentangnya.

Ketiga, engkau membaca Al Qur’an, tapi tidak mengamalkan isinya.

Keempat, engkau yakin bahwa syaithon adalah musuhmu, tapi engkau tidak berusaha melawan (malah mengikutinya).

Kelima, engkau memakan nikmat-nikmat Allah, tapi tidak mensyukurinya (dengan ketaatan dan ibadah).

Keenam, engkau mengetahui bahwa surga itu benar adanya, tapi engkau tidak berusaha untuk meraihnya.

Ketujuh, engkau tahu neraka itu benar adanya, tapi engkau tidak berusaha untuk menjauhi jalan-jalan menuju neraka.

Kedelapan, engkau tahu kematian itu pasti akan menjemputmu, tapi engkau tidak mempersiapkan bekal untuk menjemput kematian tersebut.

Kesembilan, engkau sibuk mencari-cari aib orang lain, tapi engkau lupa dengan aib dirimu sendiri.

Kesepuluh, engkau sering datang dalam acara kematian (penguburan), tapi engkau tidak mengambil pelajaran dari yang engkau lihat.”

10. Tanamkan sifat optimis pada diri umat bahwa kemenangan itu pasti.

Dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ؛ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka, sampai ketika Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon itu berkata: ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia.’ Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia dari pohon Yahudi.

[Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Ash-Shahih, Kitab Al-Jihad bab Qitalu-Al-Yahud (6/103 no. 2767 bersama Fathul Bari), Muslim dalam Ash-Shahih (18/44-45 no. 2922 bersama Syarah An-Nawawi), Ahmad dalam Al-Musnad (2/396, 417 dan 530) dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam At-Tarikh (7/207) dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu. Diriwayatkan pula dari sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab c dalam Ash-Shahihain dan Sunan At-Tirmidzi.At-Tirmidzi berkata dalam As-Sunan (4/509 no.2236): ”Hadits ini hasan shahih.”]

Azzamkan diri untuk berjihad. Jika nantinya tidak bisa, semoga ada dari anak keturunan kita yang bisa berjihad, yang bisa membebaskan Palestina -dengan izin ALLOH Ta’ala.

Baarokallohu fiykum.

Disalin dari catatan Kajian “Kapan Palestina Kembali ke Pangkuan Kita?” di Masjid Mujahidin UNY, 9 Desember 2012 bersama Ustadz Mahful Safarudin, Lc (pengajar Pondok Pesantren Al-Irsya Tengaran, Salatiga)

Ditulis di

Bantul, 25 Muharram 1434 H/10 Desember 2012 M pada 0:23 AM

*mohon jika ada kekeliruan, disampaikan, Jazaakumulloh khoiron

Tambahan bacaan dan artikel terkait isi :

1. Ada Apa Antara Yahudi Dengan Kita

2. Nikmat Persaudaraan

3.  Ambillah Aqidahmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah (1): Hak Allah atas Hambanya

4. Palestina, Tanah Kaum Muslimin

5. Arti Sebuah Cinta

6. Berpahala dengan Niat

7. Ini Baru Pemuda Islam, bukan Boyband atau Maniak Game

8. Perangi Yahudi, Tinggalkan Jejak-Jejak Mereka

9. Tweet @kajianislam

10. situs Quran terjemahan online

Categories: Belajar Ilmu Agama, Catatan, Faedah Ilmu | Tags: , , , , , | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “10 Rambu-Rambu Jalan Menuju Pembebasan Al-Aqsha

  1. aiih sukaaa postingan ini Ram.. n_nb

  2. Pingback: Pengantar Kajian “Kapan Palestina Kembali ke Pangkuan Kita?” « Menjemput Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: