Catatan Safari Dakwah Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq, 15 Februari 2012 : Haqiqotul Iman – 1

Bismillaahirrohmanirrohiim.

 

Di awal rangkaian safari da’wah Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq di Masjid Kampus UGM (sebeluimnya pada pagi hari di Masjid Pondok Pesantren Bin Baz), moderator yakni Ustadz Afifi Abdul Wadud memberikan beberapa taujih atau nasehat :

Berjumpa dengan ulama adalah sebuah nikmah dan keberadaan ulama adalah benteng dari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di umat”

Catatlah ilmu dengan tulisan, karena ilmu itu seperti barang buruan dan mengikatnya dengan mencatatnya.

 

Tak berapa lama setelah sholat ‘Isya ditunaikan,acara inti pun dimulai. Penerjemah pada kajian tersebut adalah Ustadz Arif yang merupakan Mudir Ma’had Bin Baz.

Adapun Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq yang bernama lengkap Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin â��Utsman Al Abbad Alu Badr adalah guru besar bidang ‘Aqidah di Universitas Islam Madinah.

lebih lanjut mengenai beliau bisa dibaca di sini

 

——————————————————————

 

Iman.

Iman itu adalah setinggi-tingginya tujuan, seagung-agungnya apa yang dicita-citakan.

Iman dengannya kita ini diciptakan dan dengannya kita akan memperoleh kebahagiaan dan surga, selamat dari siksaan-NYA dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hilangnya keimanan, berarti hilanglah semuanya.

Seseorang apabila tidak menegakkan iman, ia tidak akan mendapatkan keamanan, kebahagiaan dan cita-citanya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Quran Surat Al-An’am ayat 82)

 

Buah dari keimanan dan pengaruhnya tidak bisa dihitung. Seluruh kebaikan di dunia dan akhirat adalah buah dan hasil dari keimanan. Setiap musibah,tidaklah bisa dihilangkan dan sirna, melainkan itu merupakan buah keimanan.

 

Seorang mukmin cukuplah baginya jika menuntut kebaik-kebaikan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, baik di saat sehat maupun sakit, baik ketika safar (melakukan perjalanan) ataupun muqim (tinggal), mukmin selalu mencari dan dalam kebaikan-kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya” (Hadits Riwayat Muslim)

 

Pada dasarnya mukmin itu diuji,baik dengan kelapangan dan terkadang kemiskinan. Yang perlu diketahui, tatkala ALLOH memberi kelapangan kepada seseorang,bukan berarti (belum tentu) menjadi dalil/pertanda ALLOH ridho. Sebaliknya, jika ALLOH memberi kesempitan bukan berarti ALLOH murka kepadanya.

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Robb-ku telah memuliakanku”. Adapun bila Robb-nya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (Quran Surat Al-Fajr ayat 15-16)

 

Jika ada dua orang, yang satu apabila ia berkecukupan ia ridho/bersyukur. Dan seorang lainnya apabila kurang,ia bersabar. Manakah yang lebih utama?

Ibnul Qayyim bertanya kepada gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai perkara itu. Jawaban Syaikhul Islam, “Yang paling bertaqwa di antara keduanya.”

Lalu,Ibnul Qayyim bertanya lagi, “Jika sama, siapa?”

Syaikhul Islam menjawab, “Kedua-duanya sama dalam hal pahala.”

 

Seorang mukmin selalu dalam kebaikan, baik tatkala lapang/senang maupun tatkala sempit/susah. Tapi bila ia mendapatkan kelapangan/kesenangan ia tidak bersyukur serta jika sedih tidak bersabar, maka ia memperoleh kerugian pada masing-masing keadaannya.

 

Cukuplah bagi seorang mukmin dengan keutamaan, memperoleh keutamaan, memperoleh sebaik-baik perhiasan, seindah-indah pakaian,yakni keimanan, yang diberikan oleh ALLOH Ta’ala kepada orang beriman.

 

ALLOH Ta’ala menghiaskan keimanan pada hati kalian dan ALLOH menanamkan kebencian terhadap kekufuran.

 

Hakikat perhiasaan itu ada pada keimanan.

 

———————————-

 

InsyaaALLOH akan dilanjutkan.

 

 

Al faqiir,

Lantai Dasar UniRes UMY gedung U, 01 Rabi’ul Akhir 1433 H

 

 

 

referensi :

1. Untuk copy paste ayat Quran beserta arti

2. Tulisan Ustadz Ari Wahyudi tentang Menakjubkannya Seorang Mukmin

3. Catatan kajian Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq tentang Hadits-Hadits Seputar Keimanan

Categories: 'Aqidah, Belajar Ilmu Agama, Catatan | Tags: , , , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Catatan Safari Dakwah Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq, 15 Februari 2012 : Haqiqotul Iman – 1

  1. like this …
    jazakallahu khairan …

    *menunggu lanjutannya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: